Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 01.49 WIB

Diklatsar, Dua Mahasiswa UII Meninggal

Anggota Polres Karanganyar memberikan pengarahan kepada Mapala UII setelah kejadian dua mahasiswa meninggal, Jumat (20/1). - Image

Anggota Polres Karanganyar memberikan pengarahan kepada Mapala UII setelah kejadian dua mahasiswa meninggal, Jumat (20/1).

JawaPos.com – Pendidikan Pelatihan Dasar (Diksar) mahasiswa pecinta alam (mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta di kamp Pranten, Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, berujung duka. Dua mahasiswa peserta diksar meninggal dunia. Mereka adalah Syaits Asyam, 19, dan Muhammad Fadli, 20, keduanya tercatat sebagai mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 2015 UII Jogjakarta.


Awalnya, penyebab kematian disebut-sebut karena keduanya mengalami hipotermia atau kedinginan. Namun pihak keluarga curiga, Syaits meninggal karena dianiaya. Sebab ditemukan sejumlah luka memar di beberapa bagian tubuhnya.


Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Karanganyar, diksar diikuti sekitar 38 mahasiswa. Mereka berangkat dari Jogja sejak Rabu (11/1) dan kegiatan dijadwalkan berakhir Minggu (22/1).


Pada Jumat (20/1), turun hujan. Pakaian yang dikenakan Fadli basah kuyup dan segera berganti dengan pakaian kering. Tapi dingin tak kunjung hilang. Warga  Tamansari hijau, Gang 04, Nomor 1RT 01 Rw 03, Tiban Baru, Sekupang, Batam, Kepulauan Riau itu tetap menggigil kedinginan. Dia kemudian dilarikan ke Puskesmas Tawangmangu. Namun sayang nyawanya tak tertolong.


Sehari kemudian Sabtu (21/1), giliran Syaits Asyam, warga Dusun Jetis, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman, meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda, Jogjakarta. ”Korban mengeluh kedinginan. Rekan-rekannya mencoba memberikan pertolongan, namun ketika dibawa ke puskesmas, nyawa korban tidak tertolong,” ujar Kapolsek Tawangmangu AKP Riyanto kemarin (22/1).


Dijelaskan, lokasi diksar termasuk daerah berhawa dingin. Tempat itu juga kerap digunakan berlatih anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus). ”Kami patroli ke Cemoro Kandang dan lokasi diksar. Cuaca di lokasi sering hujan dan ekstrem. Kalau hujan mendadak dingin sekali sampai menggigil,” jelas Riyanto.


Hingga kemarin, masih ada sekelompok mahasiswa Amikom, Jogjakarta melakukan kegiatan di kamp Pranten hingga Kamis (26/1). Kapolsek mengimbau agar mereka tidak terlalu lama menggelar aktivitas di lokasi itu selama cuaca ekstrem. Meskipun sudah mengantongi surat izin resmi.


Ketua Komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) Rusdianto Teplok menambahkan, cuaca di wilayah Gunung Lawu masih hujan dan angin. ”Sebenarnya suhu saat musim hujan tidak sedingin pas musim panas. Cuma kalau kondisi hujan, pendaki mudah terforsir tenaganya. Dalam keadaan pakaian basah terkena air hujan, ditambah aktivitas fisik, mudah drop,” urainya.


Dia menegaskan, faktor kedinginan tidak hanya dipengaruhi oleh suhu, tapi juga kondisi fisik pendaki. ”Kalau di wilayah Tlogodringo suhunya masih aman untuk pendaki. Kasus semacam (hipotermia, Red), tidak hanya karena suhu, bisa kondisi fisik, tekanan, dan hujan,” katanya.


Terpisah, paman Syaits Asyam, Seno Aji, 49, menuturkan, keponakannya dibawa ke RS Bethesda Sabtu pagi (21/1). ”Waktu saya datang masih terpasang alat bantu pernapasan,” ujar Seno di rumah duka kemarin(22/1).


Seno menuturkan, ada kejanggalan dari kematian keponakannya. Di antaranya ditemukan banyak luka memar di tubuh Asyam. Mulai dari bawah selangkang kanan, punggung, hingga lecet di kedua tangan. Atas dasar ini pula, ayah Asyam, Abdullah meminta dilakukan otopsi di RSUP dr. Sardjito.


”Kalau kata teman saya, lukanya seperti sabetan rotan, karena cirinya sama. Itu pun seperti luka empat harian. Kuku jempol kedua kakinya juga copot,” ujar Seno.


Hingga siang kemarin, imbuh Seno, belum ada konfirmasi dari pihak Mapala UII. Ketua Mapala UII maupun penyelenggara diksar belum menemui keluarga.


”Padahal rektor UII datang ke sini (rumah duka, Red) Sabtu malam. Cuma dari mapala memang belum menemui saya. Itu pun pak rektor sempat berujar tidak mengetahui ada agenda itu (diksar mapala),” tegas Seno.


Ibu Asyam, Handayani sangat kehilangan anak semata wayangnya itu. ”Kemarin lihat di TV ada kekerasan yang dilakukan senior di sebuah sekolah. Lha kok malah menimpa anak saya,” terangnya.

Editor: Soejatmiko
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore