
Taher Ibrahim Abdallah Hamad (lima kiri depan) bersama tokoh agama dan pemuda setelah doa bersama di Gereja Oikumene, Samarinda.
JawaPos.com - Tragedi pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda, sudah lewat dua bulan. Kemarin (14/1), doa bersama kembali digelar untuk mengenang peristiwa yang menewaskan bocah berusia 2 tahun, Intan Olivia Marbun.
Doa bersama kemarin dilaksanakan tepat pukul 12.00 Wita. Selain para jemaat gereja, acara yang juga dihadiri perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kaltim, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, beserta organisasi mahasiswa dan pemuda yang terdiri dari Kelompok Cipayung pun berlangsung khidmat.
Namun, dalam doa bersama hanya dihadiri orang dewasa. Tak ada jemaat anak-anak yang hadir. Lalu, apakah mereka masih trauma akibat teror bom molotov pada 13 November 2016 lalu itu?
Pendeta dari Oikumene, David Pardede tak menampik anak-anak jemaat gereja masih menyimpan trauma. “Terutama yang masih dirawat di rumah sakit,” ungkapnya. Salah seorang korban yang masih dirawat RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda adalah Trinity Hutahayan. Luka bakar akibat bom molotov di tubuhnya memang berangsur pulih. Namun, teror tersebut membekas di benak sang bocah.
David menuturkan, Trinity masih trauma saat mendengar petasan. Dari penuturan ibunya, saat perayaan pergantian tahun, bocah 3 tahun itu ketakutan setengah mati saat kembang api mulai dinyalakan saat tahun baru. Bahkan, untuk bunyi letusan kecil pun bisa membuat Trinity pucat.
David mengatakan, pekerjaan rumah mereka sekarang adalah trauma healing kepada jemaat anak. “Jemaat yang tak menjadi korban sudah mulai bisa berbaur,” terangnya.
Salah seorang tokoh yang hadir dalam doa bersama kemarin adalah Wakil Duta Besar (Dubes) Palestina untuk Indonesia Taher Ibrahim Abdallah Hamad. Dalam wawancara bersama awak media, ia menuturkan membawa tiga pesan. Yang pertama adalah menyampaikan terima kasih atas dukungan Indonesia atas berdirinya Palestina sebagai negara. Pesan kedua adalah perdamaian, terakhir dia mengucapkan selamat tahun baru.
Ini adalah kali kedua pria yang akrab disapa Taher Hamad itu datang ke Samarinda. “Saya jelas mengecam tindakan teror pada November lalu,” tuturnya. Pasalnya, yang diteror adalah rumah ibadah. Tempat berdoa, mencari kedamaian kepada Tuhan. “Saya berharap kejadian itu adalah yang pertama sekaligus terakhir,” harapnya.
Dalam kesempatan kemarin, ia tak segan mengucapkan selamat Natal kepada jemaat Gereja Oikumene. “Eid Milad Majid (Selamat kelahiran Yang Mulia,” ujarnya. Menurutnya, saling menghormati umat beragama lain adalah hal utama. Di Palestina, umat muslim sangat menghormati para Nasrani. Begitu juga sebaliknya. Menurutnya, Isa AS yang disebut umat kristiani sebagai Yesus adalah nabi ke-24 umat Islam.
Dengan kejadian teror tersebut, menunjukkan rakyat Indonesia mesti bersatu. “Ada enam agama yang diakui di Indonesia, dan semuanya bisa bersatu,” ujarnya. Yang berbahaya, menurut Taher, justru pengaruh dari luar untuk menghancurkan stabilitas Indonesia.
“Anda tak mau kan Indonesia menjadi seperti Irak, Suriah, Yaman, dan Libya?” ucapnya. Menangkal paham radikal tak hanya tugas aparat. Justru rakyat Indonesia mesti ikut serta. (rom/k15/Fachrizal Muliawan/fab/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
