Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Juni 2023 | 17.17 WIB

Pameran Bersama Kelompok Tiga Belas, Berangkat dari Pandemi dan Wujud Apresiasi Diri

TITIK TEMU: Suasana pameran Merangkum (M)ei di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (30/5). - Image

TITIK TEMU: Suasana pameran Merangkum (M)ei di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (30/5).

Pandemi yang melanda dunia 2020 lalu boleh saja membatasi kegiatan manusia. Namun, tidak berlaku dalam melimitasi keinginan berkesenian. Dari kesunyian akibat berbagai pembatasan sosial, karya seni tetap bisa ingar-bingar dihasilkan.

KARYA yang lahir selama pandemi oleh Kelompok Tiga Belas dipamerkan di Bilik KamiSketsa Galnas, Jakarta. Pameran bertajuk merangku(M)ei tersebut berlangsung mulai 30 Mei hingga Kamis (15/6) lalu.

Adapun anggota Kelompok Tiga Belas adalah Ari Bintoro, Asmoadji, Bambang Harsono, Deskamtoro Dwi Utomo, Duki Noermala, Elvin Emeraldo, Ersta Andantino, Heru Agus Siswanto, Iwan Widodo, Iyusman Utomo, Slamet Sugiyanto, Wahyu Suherman, Erik Woro, dan Zamrud Setya Negara.

Anggota Kelompok Tiga Belas Elvin Emeraldo mengatakan, ini kali pertama Kelompok Tiga Belas membuat pameran bersama. Kelompok seniman yang datang dari multi latar belakang seperti ASN, pelukis, hingga driver itu baru dibentuk di era pandemi.

Sebelumnya, masing-masing berkesenian secara pribadi. Di tengah kurungan di rumah, ide untuk berkarya dan menikmatinya bersama secara berkelompok tumbuh.

Hanya, karya belum dinikmati banyak orang. Biasanya, masing-masing anggota hanya saling berkirim. Nah, kini mereka memublikasikan secara luas bersama karya-karya baru lainnya.

Dengan dipamerkan, Elvin menilai ada banyak hal positif. Secara batin, itu merupakan bentuk apresiasi diri. Bagi publik, selain keindahan juga diharapkan bisa belajar mengapresiasi karya orang. ’’Ini edukasi betapa pentingnya kita mengapresiasi,’’ ujar Elvin saat ditemui di Galnas Jakarta.

Elvin meyakini tidak ada karya yang buruk. Masing-masing karya seni punya unsur keindahan sendiri. Maka, seorang seniman harus percaya diri dan mengapresiasi karyanya.

TIGA SERANGKAI: Searah jarum jam dari atas, Spirit of Mei karya Bambang Harsono, Hari Esok karya Eri Woro, dan Sang Mantan karya Iwan Widodo.

Dalam proses berkarya, tidak ada tema khusus terkait ide besarnya. Setiap seniman bebas mengekspresikannya. Elvin, misalnya, menorehkan sketsa bergambar kembang api semi abstrak. Sementara itu, Deskamtoro Dwi Utomo membuat sketsa lebih kompleks. Gambar sketsa dipadukan dengan bingkai kayu besar.

Elvin menjelaskan, 13 karya yang ditampilkan mencerminkan sikap keikhlasan. Semua dibuat apa adanya. Baginya, dalam setiap karya, seorang seniman tidak perlu menghakimi karyanya lebih dulu. ’’Dalam membuat karya, kita jangan berharap gue dapat karya bagus atau enggak ya? Itu keikhlasannya sudah hilang,’’ tutur Elvin.

Dengan ikhlas, lanjut dia, di situlah nilai apresiasi pada diri sendiri bisa ditemukan. ’’Itu dasarnya filosofi Kelompok Tiga Belas untuk menggelar pameran,’’ jelas Elvin.

Adapun tema Merangku(M)ei, kata Elvin, dipilih sebagai bentuk perayaan kesenian. Sebab di Mei, ada banyak peringatan kesenian. Mulai Bulan Menggambar Nasional hingga ulang tahun Galeri Nasional Indonesia.

Seniman dan dosen IKJ Beng Rahadian mengapresiasi pameran Kelompok Tiga Belas. Hal itu kian membuktikan bahwa berkesenian tak pernah mati meski dalam pandemi. Dan sejarah sudah mencatat hal itu.

BERWARNA-WARNI: Tumbuh di Balik Pagar karya Asmoadji, salah satu yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore