Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Mei 2023 | 14.23 WIB

Museum of Modern and Contemporary Art, Dekati Publik lewat Ketepatan Kurasi

BENANG MERAH: Rangkaian memori Chiharu Shiota sepanjang hidupnya seumpama jalinan seni instalasi Uncertain Juourney di Museum Macan. - Image

BENANG MERAH: Rangkaian memori Chiharu Shiota sepanjang hidupnya seumpama jalinan seni instalasi Uncertain Juourney di Museum Macan.

SENI instalasi benang karya seniman Jepang Chiharu Shiota menghiasi salah satu ruangan di Museum of Modern and Contemporary Art di Jakarta. Museum yang dikenal sebagai Museum Macan itu berpadu dengan karya lukis sederhana, patung, video performance, fotografi, dan desain panggung.

Sebelum tersohor sebagai seniman instalasi, Shiota pernah mendalami seni lukis dan fotografi. Karya-karyanya dipajang di museum yang terletak di AKR Tower itu sejak November lalu. Meski berlangsung hampir lima bulan, pengunjungnya tak pernah sepi. Terletak di distrik komersial Jakarta Barat, museum tersebut juga tampil unik dengan interior ala hotel berbintang.

”Kita pamerkan karya-karyanya secara utuh. Termasuk sebelum dia fokus pada seni instalasi benang,” papar Aditya Lingga, asisten kurator Museum Macan, saat ditemui Jawa Pos pada akhir bulan lalu. Pameran bertajuk The Soul Trembles itu menjadikan seni instalasi Uncertain Journey sebagai daya tarik utama.

Ilustrasi perahu dalam kompleksitas benang berwarna merah itu menyajikan kemegahan. Ruangan berukuran 30 x 6 meter di museum tersebut menjadi kanvas Shiota. Jalinan benang merah memenuhi ruangan dari sudut ke sudut. Itu merupakan simbol rangkaian memori yang ditemui Shiota sepanjang perjalanan hidupnya. ”Jadi, kayak benang merah yang menghubungkan semuanya,” terang Lingga.

Shiota yang melahirkan karya pertamanya saat masih kanak-kanak sudah tiga dekade menekuni dunia seni. Selama periode itu, dia mengalami banyak hal yang berpengaruh pada karya seninya. Salah satunya pengalamannya bermigrasi dari Jepang ke Jerman. Dia sempat mengalami krisis identitas di Benua Biru. Secara konsep, Shiota banyak merefleksikan hal-hal mendasar manusia dalam karyanya. Mulai kelahiran hingga kematian.

Museum Macan menjadi etalase karya seni kekinian atau kontemporer secara filosofis maupun estetika. Lingga mengaku harus terus mengeksplorasi dan membarukan pengetahuannya tentang seni. Bukan hanya pada level nasional, tapi juga internasional.

Di samping itu, Lingga juga harus selalu mengamati tren seni dalam masyarakat. Khususnya kaum muda. Dengan demikian, pameran yang disajikan di museum tersebut juga menarik minat banyak orang. ”Kita harus cari referensi dan update isu,” tuturnya.

SEBELUM TENAR: Tiga lukisan karya Chiharu Shiota turut dipamerkan di Museum Macan. Di masa kecilnya, seniman Jepang itu menekuni seni lukis.

Dalam setahun, Museum Macan bisa menggelar tiga sampai empat pameran. Agar lebih variatif, museum juga menghadirkan ruang seni anak sebagai wadah kreativitas para pengunjung. Ada pula program workshop, diskusi, dan praktik aktivitas seni yang digelar untuk pengunjung.

Lingga menyebut upaya untuk mendekatkan museum dengan publik sebagai misi penting Museum Macan. Sebab, hakikatnya, seni tidak bisa dipisahkan dengan jiwa manusia. ”Intinya gak cuma memamerkan, tapi harus bisa menghubungkan dengan publik,” tandasnya. (far/c19/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore