alexametrics

Hunian Ria Papermoon-Iwan Effendi, Ada Pintu dan Jendela di Mana-Mana

Berteman dengan Barang-Barang Lawas
27 September 2020, 21:36:33 WIB

Hunian Ria Papermoon dan Iwan Effendi terbilang sederhana, tapi nyaman. Suasana adem langsung terasa begitu membuka rumah dengan pintu berwarna hijau tosca itu.

BERAWAL dari hobi Ria Papermoon mengumpulkan pintu dan jendela lawas, hunian dengan konsep rumah lawas yang kini ditempati bersama keluarga kecilnya itu dinamai Rumah Pintu. ”Nggak tahu kenapa daripada beli kosmetik, saya lebih suka belanja lawang dan jendela,” ujar Ria saat ditemui di kediamannya awal September.

Seniman teater boneka yang memiliki nama asli Maria Tri Sulistyani tersebut mengungkapkan bahwa memandang jendela dan pintu lawas itu selalu membuatnya bahagia. ”Sebenarnya nggak pernah punya impian untuk punya rumah lawas dengan barang-barang lawas juga. Cuma, menurut saya, rumah lawas itu cantik,” terangnya.

Rumah yang terletak di kawasan Langensuryo, Jogjakarta, itu total memiliki 11 pintu yang terpasang dan benar-benar difungsikan sebagai pintu. Masih ada pintu-pintu lain yang diubah menjadi perabotan. Ada yang berubah menjadi meja, lemari dapur, hingga tembok. Untuk jendela, Ria menjelaskan bahwa rumah tersebut juga memiliki jendela di mana-mana. ”Jadi, pintu-pintu dan jendela-jendela yang ada di rumah ini ibaratnya sedang merespons si rumah,” tuturnya.

LAWAS TERAWAT: Pintu dan jendela muncul di tiap ruangan kediaman Ria dan Iwan. Bagi Ria, memandang jendela dan pintu lawas bikin bahagia. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Rumah yang mulai direnovasi pada 2013 tersebut didekorasi sendiri sesuai dengan kesukaannya. Sang suami, Iwan Effendi, membebaskan istrinya mendesain seluruh isi rumah mereka. Iwan mengungkapkan, dirinya tidak punya gambaran rumah impian yang spesifik karena selama ini selalu hidup berpindah-pindah. ”Dan, menurut saya, saat membangun rumah, leader-nya harus satu. Nggak boleh dobel, nanti bingung,” jelasnya.

Bicara konsep penataan rumah, Ria hanya ingin di tiap ruangan, peletakan perabotan menempel ke dinding dan tidak ada yang berada di tengah. ”Jadi, begitu membuka pintu, langsung terlihat luas karena semua furniturnya ’didorong’ ke pinggir,” katanya.

Rumah Pintu yang memiliki pohon mangga besar di bagian depan itu ternyata tercatat dibangun pada 1930-an. Ibu satu anak tersebut mengungkapkan, rumah itu menjadi satu-satunya rumah yang bangunannya masih asli sejak didirikan di sepanjang gang tersebut. Dia sengaja tidak merobohkan bangunan, justru mempertahankannya meski tembok-tembok di dalam rumah itu berkapur.

”Tegel asli di ruangan pertama pun nggak saya buang. Saya pindahkan ke area taman yang berada di belakang sebagai kenangan,” katanya. Ria percaya bahwa setiap benda dari sebuah tempat selalu punya cerita. Itulah yang membuatnya mempertahankan keaslian setiap hal dari rumah tersebut.

LAWAS TERAWAT: Pintu dan jendela muncul di tiap ruangan kediaman Ria dan Iwan. Bagi Ria, memandang jendela dan pintu lawas bikin bahagia. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Memang perawatan tembok menjadi tantangan baginya. Sebab, meski dicat berkali-kali, beberapa tembok di rumah tersebut selalu saja lembap. ”Mau nggak mau harus rajin-rajin dicat ulang,” jelasnya. Namun, mereka punya cara yang menarik untuk menyiasatinya.

Di bagian garasi yang kini diubah menjadi studio Iwan, temboknya dilapisi dengan batu bata yang disusun vertikal. Jadi, tembok tetap tipis tanpa harus diganti ataupun dicat berulang-ulang. Di area dapur dan ruang bermain sang buah hati, Lunang Pramusesa, juga ada tembok yang dibuat separo area terlihat batu batanya. Seperti konsep unfinished, tapi dengan gaya yang lebih estetis.


LAWAS TERAWAT: Pintu dan jendela muncul di tiap ruangan kediaman Ria dan Iwan. Bagi Ria, memandang jendela dan pintu lawas bikin bahagia. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

RUMAH PINTU

  • Lokasi: Jogja
  • Dibangun pada: 1930-an
  • Direnovasi pada: 2013

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : ama/c7/nor




Close Ads