
Pekerja konstruksi beraktifitas di proyek revitalisasi area Stasiun MRT Bundaran HI Bank Jakarta di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (24/04/2035). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com – Dorongan terhadap penggunaan material berkelanjutan di industri konstruksi masih menghadapi satu kendala utama: rendahnya pemahaman dan adopsi sertifikasi. Isu ini kembali mengemuka dalam gelaran ARCH:ID 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD.
Dalam sesi diskusi Understanding FSC for Architects, disebutkan bahwa sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) belum sepenuhnya dipahami sebagai kebutuhan strategis industri, melainkan masih dianggap sebatas kewajiban administratif.
“Saat ini sertifikasi FSC bukan lagi pilihan tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi perusahaan yang ingin bersaing di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan,” ujar CEO MK Academy, Thomas Hidayat Kurniawan dalam keterangan tertulisnya.
Melalui sesi diskusi ini, lanjut Thomas, pihaknya mencoba menjembatani kesenjangan tersebut, terutama antara tuntutan global akan keberlanjutan dan kesiapan pelaku industri di dalam negeri.
Perubahan cara pandang, lanjutnya, bisa menjadi kunci. Masalahnya, proses sertifikasi dinilai masih dianggap rumit dan belum terintegrasi dengan strategi bisnis. Padahal, tanpa sertifikasi seperti FSC, akses ke pasar internasional, kepercayaan klien, hingga daya saing produk bisa terhambat.
Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara regulasi dan implementasi di lapangan. Banyak perusahaan belum siap secara sistem maupun pengetahuan untuk memenuhi standar keberlanjutan yang semakin ketat.
"Kami hadir untuk tidak saja membantu proses sertifikasi, tetapi juga memastikan bahwa sertifikasi tersebut memberikan nilai bisnis nyata, baik dalam membuka akses pasar baru, meningkatkan kredibilitas perusahaan, maupun memperkuat positioning brand di industri,” kata Thomas.
Lebih lanjut, Thomas menuturkan, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan Perusahaan manufaktur berbasis kayu, developer dan kontraktor, arsitek dan konsultan desain serta pelaku industri yang ingin beralih ke material berkelanjutan. "Langkah ini menjadi bagian dari upaya kami dalam membangun ekosistem yang terintegrasi antara sertifikasi, produksi, dan implementasidi lapangan," tutupnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
