Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 April 2026 | 18.57 WIB

Adopsi Sertifikasi FSC Masih Rendah, Industri Konstruksi Hadapi Tantangan Baru

Pekerja konstruksi beraktifitas di proyek revitalisasi area Stasiun MRT Bundaran HI Bank Jakarta di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (24/04/2035). (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Pekerja konstruksi beraktifitas di proyek revitalisasi area Stasiun MRT Bundaran HI Bank Jakarta di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (24/04/2035). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com – Dorongan terhadap penggunaan material berkelanjutan di industri konstruksi masih menghadapi satu kendala utama: rendahnya pemahaman dan adopsi sertifikasi. Isu ini kembali mengemuka dalam gelaran ARCH:ID 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD.

Dalam sesi diskusi Understanding FSC for Architects, disebutkan bahwa sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) belum sepenuhnya dipahami sebagai kebutuhan strategis industri, melainkan masih dianggap sebatas kewajiban administratif.

“Saat ini sertifikasi FSC bukan lagi pilihan tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi perusahaan yang ingin bersaing di pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan,” ujar CEO MK Academy, Thomas Hidayat Kurniawan dalam keterangan tertulisnya.

Melalui sesi diskusi ini, lanjut Thomas, pihaknya mencoba menjembatani kesenjangan tersebut, terutama antara tuntutan global akan keberlanjutan dan kesiapan pelaku industri di dalam negeri. 

Perubahan cara pandang, lanjutnya, bisa menjadi kunci. Masalahnya, proses sertifikasi dinilai masih dianggap rumit dan belum terintegrasi dengan strategi bisnis. Padahal, tanpa sertifikasi seperti FSC, akses ke pasar internasional, kepercayaan klien, hingga daya saing produk bisa terhambat.

Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara regulasi dan implementasi di lapangan. Banyak perusahaan belum siap secara sistem maupun pengetahuan untuk memenuhi standar keberlanjutan yang semakin ketat.

"Kami hadir untuk tidak saja membantu proses sertifikasi, tetapi juga memastikan bahwa sertifikasi tersebut memberikan nilai bisnis nyata, baik dalam membuka akses pasar baru, meningkatkan kredibilitas perusahaan, maupun memperkuat positioning brand di industri,” kata Thomas.

Lebih lanjut, Thomas menuturkan, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan Perusahaan manufaktur berbasis kayu, developer dan kontraktor, arsitek dan konsultan desain serta pelaku industri yang ingin beralih ke material berkelanjutan. "Langkah ini menjadi bagian dari upaya kami dalam membangun ekosistem yang terintegrasi antara sertifikasi, produksi, dan implementasidi lapangan," tutupnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore