
BIOKLIMATIK: Biohouse Jagakarsa memaksimalkan potensi iklim dan konteks alam. Konsep itu disimulasikan terlebih dahulu di software untuk melihat performa bangunan. (Artehaus via Serasa Architect)
Hunian di Jagakarsa ini berkonsep bioklimatik. Dengan desain yang cerdas, memanfaatkan energi alam secara maksimal.
BIOHOUSE Jagakarsa merupakan salah satu proyek sustainable series Serasa Architect. Dalam pengerjaannya, arsitek Kafi Pangestu fokus memaksimalkan potensi iklim dan konteks alam setempat.
Dia memprediksi dan menstimulasikan cahaya, angin, dan air yang masuk serta jatuh ke permukaan rumah guna menekan penggunaan energi lampu, AC dan alat mekanis lainnya. ”Semua dari penerapan konsep ini disimulasikan terlebih dulu di dalam sebuah software untuk melihat performa bangunannya,” beber Kafi.
Rumah dua lantai itu memiliki beberapa fitur berkelanjutan. Di antaranya, recycle air hujan untuk flushing toilet dan menyiram tanaman, cerobong udara untuk sirkulasi alami, skylight sebagai pencahayaan alami, dan penggunaan material bekas.
”Sirkulasi alami pada rumah ini terinspirasi dari wind catcher pada bangunan Mesir kuno dan didesain dengan menggunakan konsep ventilasi gaya termal,” ungkapnya.\
SIRKULASI ALAMI: Pertukaran udara di rumah ini terinspirasi dari wind catcher. Cerobong udara pada ketinggian 8 meter dijadikan sebagai penarik udara panas. (Artehaus via Serasa Architect)
Sebagaimana diketahui, angin bergerak secara alami dari area bertekanan udara tinggi menuju area bertekanan udara rendah. Maka, dibuatlah cerobong udara yang berada di ketinggian 8 meter sebagai penarik udara panas.
”Ventilasi gaya termal dikombinasikan dengan ventilasi silang di mana kami buat dua bukaan jendela di lantai 2. Angin dari jendela sisi kanan dapat keluar dari jendela sisi kiri rumah,” sambungnya.
Sementara di lantai dasar, communal living dirancang menyatu dengan taman. Ketiadaan sekat membuat penghawaan alami bebas keluar masuk ruang keluarga, ruang makan, dan dapur.
”Kebetulan, owner seorang founder komunitas sustainable living. Salah satu kegiatannya mengompos. Jadi, antara ruang keluarga dan taman kami buat tanpa batas guna memudahkan aktivitas indoor-outdoor,” tuturnya.
SIRKULASI ALAMI: Pertukaran udara di rumah ini terinspirasi dari wind catcher. Cerobong udara pada ketinggian 8 meter dijadikan sebagai penarik udara panas. (Artehaus via Serasa Architect)
Ruangan pun berkesan lebih lega. Namun, konsep terbuka itu belum tentu cocok di konteks lingkungan berbeda. Faktor keamanan dan kebersihan udara turut menentukan penerapannya.
Elemen dan material yang digunakan tak luput dari perhatian. Efisiensi dilakukan untuk mengurangi emisi dari kegiatan konstruksi. ”Di antaranya, dinding semen ekspos untuk meminimalkan penggunaan energi pada fase konstruksi serta pemakaian kayu recycle, furnitur, dan pintu reuse,” lanjutnya. (lai/c7/nor)
Baca Juga: Dimensi Visual Terrascape Houseuyang Pertahankan Struktur Atap Lama, Ada Kontras Terakota-Beton-Kayu
---

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
