
Ilustrasi Tempat penyaluran Infal Bu Gito, Cilandak, Jakarta Selatan.
JawaPos.com - Rumah Penyalur Tenaga Kerja Bu Gito yang terletak di daerah Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan memang menjadi harapan bagi para pencari rupiah menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Terletak di rumah yang tidak terlalu besar, para pekerja dengan santainya menunggu para pengguna jasa mereka. Saling bercanda dan bersenda gurau, namun kedua pekerja dengan ramahnya membagikan kisahnya menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT).
Dialah Rosmana, 40, perempuan asal Sumedang ini menyampaikan baru pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta sore kemarin (3/6). Dengan raut yang masih polos, dirinya menjawab hati-hati pertanyaan semua lawan bicaranya.
"Baru dateng kemarin sore, sebelumnya belum pernah (jadi PRT) baru sekarang. Biasanya kerja dirumah, ibu rumah tangga. Saya tahu tempat bu Gito dari sponsor agen gitu," jelas Rosmana saat ditemui JawaPos.com, di Rumah Bu Gito, Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (4/6)
Dirinya mengakui memang berat meninggalkan kampung halamannya karena ini merupakan kali pertama baginya. Bahkan, walaupun suaminya mengijinkan dirinya tetap menitipkan ketiga anaknya ke sang nenek.
"Pamit aja mau kerja infal boleh saja asal kita sehat. Anak-anak saya titip ke neneknya, kalau pulang minta dititipin beli ini itu," ujarnya dengan tatapan yang masih takut-takut.
Dirinya mengakui tertarik menjadi PRT di Bu Gito karena gajinya yang dapat dikatakan besar. Sebab, sebagai isteri dari seorang petani dirinya mengatakan keuangan berusaha tani di Sumedang tidak stabil dan kekurangan.
Lain Rosmana yang baru pertama kali, Wiwi, 36 pun mengaku telah empat kali menjadi PRT di jasa layanan Bu Gito. Berasal dari Majalaya, dirinya mengakui membutuhkan pekerjaan ini karena butuh uang tambahan Lebaran anak-anaknya.
"Saya sudah empat kali dari bu Gito kalau dari yayasan enak terjamin gada keluhan apa-apa. Di kampung kerja saya di rumah makan beres-beres gitu. Saya mau jadi infal buat bantuin suami saja nyenengin anak-anak," tutur Wiwi yang jauh terlihat nyaman berinteraksi dengan orang baru.
Diakuinya, gajinya sebulan yang hanya Rp 300.000 ditambah gaji suaminya yang bekerja di pabrik, Rp 400.000 tidaklah cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Terlebih anaknya sudah empat dan pasti membutuhkan uang untuk pendidikan lanjut.
"Anak saya empat selama pergi dirawat suami, jadi ya ngebolehin saja. Kalau saya kesini dibawa temen terus dikenalin sponsor dibawa deh ke Jakarta. Jadi kesini buat tambahan," tutur perempuan ini dengan ramahnya.
Dirinya menyampaikan bahkan untuk jasa infal, Wiwi bisa mendapatkan perharinya Rp 150.000- Rp 200.000. Bahkan, menurutnya semakin berjalannya waktu jasanya pun dihargai dengan bonus-bonus yang ada.
"Terkadang jauh-jauh gini rindu sama anak walau cuman bentar disini, tapi mau gimana lagi namanya orang susah pengen cari yang tambahan harus berkorbanlah. Walaupun hati sedih ya, ini juga demi anak," terangnya berkaca-kaca.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
