Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Juni 2018 | 22.26 WIB

Gus Fahrur: Jangan Gunakan Agama untuk Politik Praktis

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Fatwa Fardhu Ain untuk memilih salah satu pasangan calon di pemilihan gubernur disayangkan oleh Ikatan Gus-Gus Indonesia (IGGI). Sebab, tidak ada dalil yang menyatakan untuk memilih salah satu nama pemimpin. IGGI juga meminta agar ulama tidak menggunakan hadist dhoif untuk mendulung salah satu pasangan calon.


Ketua IGGI Ahmad Fahrus Rozi (Gus Fahrur) menyampaikan itu karena ada ulama yang dianggap menggunakan hadist dhoif untuk memberikan dukungan politik. Dia menyarankan agar tidak membawa agama untuk kepentingan ambisi merebut kursi gubernur.


"Jangan menggunakan segala cara, Membawa dalil, menyeret agama untuk politik praktis," ujarnya, Senin (4/6).


Sekadar diketahui para Kiai pendukung Khofifah Indar Parawansa pada Minggu (3/6) menggelar pertemuan dan merumuskan fatwa Fardlu Ain. KH Asep Saifuddin Chalim selaku tuan rumah dan inisiator Fatwa mengatakan, jika tidak memilih Khofifah maka bisa disebut telah mengkhianati Allah dan Rasulullah. Dasar dalil tersebut tertuang dalam kitab Albujairimi Alal Khotib jilid 4 hal 318.


Gus Fahrur menegaskan, landasan yang digunakan Kiai Asep itu adalah hadist dhoif. Sehingga tidak bisa digunakan sebagai landasan hukum menetapkan Fardhu Ain, menurut kaidah Fiqih yang disepakati para ulama.


Menurut Gus Fahrur, selama ini tidak pernah ada dalil yang menyatakan hukum fardlu Ain memilih salah satu nama pemimpin. Fardlu Ain adalah kewajiban individu muslim yang telah memenuhi syarat dan tidak bisa diwakili atau diganti orang lain.


Misalnya, salat lima waktu, zakat, puasa dan berhaji jika telah mampu yang berarti konsekuensi dosa bagi yang meninggalkannya. "Tidak ada hukum Fardlu Ain dalam memilih satu nama pemimpin, justru yang ada adalah hukum haram memilih pemimpin menurut sebagian ulama berkaitan dengan memilih pemimpin perempuan," katanya.


Dia lantas mengutip hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari yakni "Tidak adakan beruntung kaum yang perkaranya dipimpin oleh seorang wanita.” Gus Fahrur berharap para tokoh agama tidak berfatwa tanpa ilmu yang dapat masuk kategori sesat dan menyesatkan.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-hambaNya sekaligus, tetapi Dia akan mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alim-pun, orang-orang-pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu para pemimpin itu ditanya, kemudian mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan orang lain," kata Gus Fahrur mengutip sebuah Hadist yang diriwayatkan Bukhari-Muslim.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore