Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Juni 2018 | 11.05 WIB

AS Diminta Bertangggung Jawab atas Kematian Imigran Transgender

Imigran Amerika Tengah berbondong-bondong masuk AS - Image

Imigran Amerika Tengah berbondong-bondong masuk AS

JawaPos.com - Ratusan imigran gelap Amerika Tengah melakukan perjalanan menuju Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu. Mereka berbondong-bondong ingin masuk ke AS karena ketakutan terhadap ancaman kematian, pemerasan, dan kekerasan di lingkungan mereka.


Seorang imigran transgender asal Amerika Tengah, Roxana Hernandez, 33 tahun, meninggal dunia saat memasuki negeri Paman Sam tersebut. Para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) menuduh AS melakukan pembunuhan institusional setelah Hernandez meninggal dalam tahanan.


Hernandez sampai di AS bersama para imigran menggunakan karavan yang sebelumnya ditentang keras oleh Presiden Donald Trump. Teman-teman Hernandez mengatakan, ia melarikan diri ke AS karena perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya di Amerika Tengah seperti kekerasan, kebencian, dan stigma lainnya.


Hernandez melihat AS sebagai negara yang memberikan harapan hidup baru yang bebas dari pelecehan, resiko berbahaya, serta berbagai ancaman lain. Namun faktanya tak seperti yang diharapkannya. Ia ditahan karena alasan deportasi setelah mengajukan permohonan tempat tinggal sementara di perbatasan AS.


Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) mengutip dakwaan sebelumnya di Texas menangkap Hernandez karena karena pencurian, prostitusi, dan masuk ke AS secara ilegal. Ini menjadi dasar untuk mendeportasi Hernandez.


Saat itu Hernandez mencari suaka sebagai tempat tinggal sementara di AS. Namun kemudian ia ditahan oleh otoritas imigrasi di New Mexico dalam keadaan sakit. Menurut ICE, Hernandez masuk dalam daftar proses deportasi yang dipercepat saat ia mendaftar untuk penerimaan masuk para imigran di Pelabuhan San Ysidro, Kalifornia pada 9 Mei lalu.


Namun enam hari kemudian, pada 15 Mei ia dipindahkan ke Pusat Permasyarakatan Wilayah Cibola di Milan, New Mexico. AS mengatakan, Hernandez asal Honduras, Amerika Tengah itu positif mengidap HIV. Dua hari setelahnya ia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Cibola karena menderita gejala pneumonia, dehidrasi, dan komplikasi penyakit yang terkait dengan HIV seperti dilansir BBC, Kamis, (31/5).


Hernandez kemudian meninggal dunia pada 25 Mei setelah dipindahkan ke Lovelace Medical Centre di Albuquerque dengan ambulan melalui penerbangan. Ia tercatat sebagai orang keenam yang meninggal dunia di fasilitas tahanan imigran dalam delapan bulan terakhir.

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore