
edit Prasetya tak kuasa menahan tangis saat jenazah istri dan anaknya hendak diangkut ke dalam ambulan, Rabu (30/5).
JawaPos.com - Setelah proses identifikasi delapan korban kebakaran rumah kos di Jalan Kebalen Kulon II/9 Surabaya, rampung, petugas langsung menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga. Sejak Rabu (30/5) pagi, para keluarga korban itu memang setia menunggu di Ruang Jenazah RSUD dr. Soetomo.
Delapan jenazah tersebut terdiri dari tiga keluarga besar. Salah satunya adalah keluarga Dedit Prasetya, 30. Pria berbadan kurus itu harus merelakan kepergian istrinya Tina Rasmayanti dan putranya Rizky Bintang Pratama untuk selama-lamanya. Tina dan Bintang yang masih berusia 2 bulan tidak mampu menyelamatkan diri karena kamar mereka yang berada di lantai dua terkepung api.
Sejak siang, Dedit terlihat mondar-mandir. Dia ditemani dua orang kerabatnya. Tatapan matanya kerap kali menerawang ke bawah. Pria yang memakai batik garis-garis khas Jawa Tengah itu memang banyak melamun saat menanti jenazah istri dan anaknya diidentifikasi.
Saat didekati JawaPos.com, Dedit mau menceritakan sesaat sebelum kebakaran itu terjadi. Meskipun cara penjelasannya irit, sedikit-sedikit. "Saya itu sempat pulang ke kos jam 1 siang. Pas istirahat kerja," ceritanya.
Dedit memang terbiasa untuk mencuri waktu di sela jam istirahat siang. Biasanya dia melepas rindu dengan istri dan anaknya itu. Entah bersendera gurau atau sekadar ngudang Bintang.
Selesai istirahat, lelaki asal Blitar itu pun kembali ke tempat kerjanya. Namun di tengah perjalanan, dia mendapat telepon yang mengabarkan bahwa rumah kosnya terbakar. Dedit pun memutar balik motornya.
Setibanya di depang gang, Dedit panik bukan main. Dia masih belum tahu nasib istri dan anaknya. Petugas yang berjaga di depan, menutup pagar gang. Dedit tidak diperbolehkan masuk. "Sempat dihalang-halangi. Saya teriak-teriak, namanya juga panik mas," ucapnya.
Saat panik seperti itu, Dedit mendapat kabar bila istri dan anaknya di RS PHC. "Saya berangkat ke sana tapi nggak ada, katanya di Soewandhi. Datang ke Soewandhi nggak ada juga. Akhirnya ke sini," lanjut Dedit.
Selama menanti proses identifikasi itu, Dedit terus berusaha memperlihatkan ketegaran. Dia coba berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.
Namun tangisnya pecah saat jenazah istri dan anaknya dikeluarkan. Kedua jenazah itu ditaruh di satu keranda. Jenazah Bintang berada di atas jenazah Tina.
Air mata Dedit makin tak terbendung saat salah seorang petugas kamar mayat menggendong jenazah Bintang menuju ambulan. Tak lama berselang jenazah Tina menyusul diangkat ke dalam ambulan. Pundak salah seorang kerabatnya, ia jadikan sandaran. "Padahal arep tak ajak mulih nang omah bapak," ujarnya tersedu-sedu kepada kerabatnya.
Dengan langkah yang gontai, Dedit kemudian duduk di bangku depan ambulan. Kali ini, air matanya sudah diusap. Tatapan mata Dedit fokus ke depan seakan tak mempedulikan beberapa kamera wartawan yang berusaha mengabadikan gambar untuk terakhir kalinya, sebelum ambulan itu berangkat.
Pada akhirnya, roda ambulan perlahan-lahan berputar, meninggalkan RSUD dr. Soetomo. Tanpa raungan sirine, ambulan tersebut mengantar jenazah ke rumah saudara Dedit sebelum dimakamkan di TPU Wonokusumo.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
