Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Agustus 2026 | 00.56 WIB

Jika Pasangan Anda Kerap Menanyakan 6 Hal Ini, Dia Memiliki Kecerdasan Emosional Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki pasangan yang cerdas secara emosional (Magnific/pressfoto) - Image

seseorang yang memiliki pasangan yang cerdas secara emosional (Magnific/pressfoto)

JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, perhatian tidak selalu ditunjukkan melalui hadiah mahal, kata-kata romantis, atau pesan yang panjang. Terkadang, kecerdasan emosional justru terlihat dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yang diajukan pasangan kepada kita.


Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional biasanya tidak hanya tertarik pada apa yang kita lakukan, tetapi juga berusaha memahami apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi diri kita.

Dalam psikologi, kecerdasan emosional atau emotional intelligence sering dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan merespons emosi dirinya maupun orang lain. Dalam hubungan romantis, kemampuan ini dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan lebih sehat, menunjukkan empati, serta menghadapi konflik tanpa terburu-buru menghakimi.

Menariknya, kecerdasan emosional pasangan sering kali dapat terlihat dari cara mereka bertanya.

Bukan berarti setiap orang yang mengajukan pertanyaan berikut secara otomatis memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Namun, jika pasangan Anda kerap menanyakan hal-hal seperti ini dengan tulus dan konsisten, hal tersebut dapat menjadi salah satu tanda bahwa ia memiliki kemampuan emosional yang baik.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat enam pertanyaan yang patut diperhatikan.

1. “Kamu sebenarnya sedang merasa apa?”

Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya membutuhkan kepekaan emosional.

Ada kalanya seseorang mengatakan, “Aku baik-baik saja,” padahal ekspresi wajah, nada suara, atau perilakunya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Pasangan yang peka secara emosional biasanya tidak langsung menerima jawaban tersebut begitu saja.

Ia mungkin bertanya kembali dengan lembut:

“Kamu benar-benar baik-baik saja atau sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa ia berusaha melihat lebih jauh daripada sekadar kata-kata yang terdengar di permukaan.

Dalam hubungan, seseorang tidak selalu mampu mengidentifikasi emosinya sendiri. Kadang-kadang kita hanya merasa lelah, mudah tersinggung, diam, atau ingin menyendiri tanpa memahami penyebab sebenarnya.

Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional cenderung memberikan ruang agar kita dapat mengenali perasaan tersebut.

Ia tidak selalu buru-buru memberikan solusi.

Ia mungkin justru berkata:

“Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan.”

Perbedaan ini penting.

Orang yang kurang peka secara emosional mungkin langsung mengatakan, “Jangan dipikirkan,” “Kamu terlalu sensitif,” atau “Sudahlah, lupakan saja.”

Sementara pasangan yang lebih matang secara emosional akan berusaha memahami terlebih dahulu sebelum memberikan penilaian.

2. “Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu merasa lebih baik?”

Ini adalah salah satu pertanyaan yang menunjukkan orientasi pada kebutuhan emosional pasangan.

Ketika melihat orang yang dicintainya sedang mengalami masalah, seseorang mungkin langsung memberikan nasihat. Namun, tidak semua orang membutuhkan solusi pada saat yang sama.

Ada kalanya seseorang hanya ingin didengarkan.

Ada kalanya ia membutuhkan pelukan.

Ada pula saat ketika ia benar-benar membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah.

Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional memahami bahwa kebutuhan emosional setiap orang dapat berbeda.

Karena itu, daripada berasumsi, ia bertanya.

“ Kamu ingin aku dengarkan saja atau kamu ingin kita mencari solusinya bersama?”

Pertanyaan seperti ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa pasangan adalah individu yang memiliki kebutuhan dan cara menghadapi masalah sendiri.

Dalam perspektif hubungan yang sehat, kemampuan untuk menyesuaikan respons dengan kebutuhan pasangan merupakan bagian penting dari komunikasi interpersonal.

Pasangan tersebut tidak memaksakan cara berpikirnya.

Ia mencoba mencari tahu:

“Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku sekarang?”

Dan ini merupakan bentuk kepedulian yang jauh lebih dalam daripada sekadar berkata, “Aku ada di sini.”

3. “Apa yang membuat kamu tidak nyaman?”

Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional biasanya tidak hanya tertarik pada hal-hal yang membuat hubungan terasa menyenangkan.

Ia juga ingin mengetahui batasan.

Misalnya, ketika Anda tampak diam setelah suatu percakapan, ia mungkin bertanya:

“Apakah tadi ada perkataanku yang membuat kamu tidak nyaman?”

Pertanyaan ini menunjukkan kesediaan untuk melakukan evaluasi terhadap perilakunya sendiri.

Tidak semua orang mampu melakukan hal tersebut.

Sebagian orang merasa bahwa mengakui kemungkinan dirinya melakukan kesalahan berarti merendahkan diri. Akibatnya, ketika pasangan merasa terluka, mereka justru bersikap defensif.

“Kan aku cuma bercanda.”

“Kamu saja yang terlalu sensitif.”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, jadi seharusnya kamu tidak marah.”

Sebaliknya, pasangan yang matang secara emosional dapat memisahkan niat dan dampak.

Ia mungkin tidak bermaksud menyakiti Anda, tetapi tetap bersedia memahami jika perkataannya ternyata menimbulkan luka.

Pertanyaan “Apa yang membuat kamu tidak nyaman?” membuka kesempatan bagi kedua pihak untuk membicarakan batasan tanpa harus langsung mencari siapa yang salah.

4. “Menurut kamu, bagaimana sebaiknya kita menyelesaikan masalah ini?”

Konflik merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari hubungan.

Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat bukanlah ada atau tidak adanya konflik, melainkan bagaimana konflik tersebut dikelola.

Pasangan dengan kecerdasan emosional biasanya tidak memandang konflik sebagai pertandingan yang harus dimenangkan.

Ia tidak selalu berpikir:

“Bagaimana caranya agar aku terbukti benar?”

Sebaliknya, ia lebih mungkin berpikir:

“Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini tanpa saling menghancurkan?”

Karena itu, ia dapat mengajak pasangan berdiskusi:

“Menurut kamu, apa yang bisa kita lakukan supaya masalah seperti ini tidak terulang?”

Pertanyaan tersebut memperlihatkan pola pikir kolaboratif.

Masalah dipandang sebagai sesuatu yang perlu dihadapi bersama, bukan sebagai alasan untuk menyerang karakter pasangan.

Pasangan yang matang secara emosional juga cenderung memahami bahwa kompromi bukan berarti seseorang kalah.

Terkadang hubungan membutuhkan dua orang yang sama-sama bersedia menyesuaikan diri.

5. “Apakah kamu merasa didengarkan oleh aku?”

Ini mungkin salah satu pertanyaan yang paling menarik.

Sebab, pasangan yang mengajukan pertanyaan ini sedang melakukan evaluasi terhadap kualitas komunikasinya sendiri.

Ia tidak hanya bertanya apakah Anda sudah mendengar perkataannya.

Ia ingin mengetahui apakah Anda merasa didengar olehnya.

Ada perbedaan besar antara mendengar dan mendengarkan.

Mendengar berarti menerima suara.

Mendengarkan berarti berusaha memahami pesan, emosi, dan kebutuhan yang ada di balik perkataan seseorang.

Dalam hubungan, seseorang bisa saja berbicara selama 30 menit tetapi tetap merasa tidak didengarkan.

Mengapa?

Karena lawan bicaranya sibuk memainkan ponsel, memotong pembicaraan, langsung memberikan nasihat, atau mempersiapkan bantahan sebelum percakapan selesai.

Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional biasanya menyadari pentingnya emotional validation.

Ia mungkin bertanya:

“Waktu kamu cerita tadi, apakah aku benar-benar memahami maksudmu?”

Jika Anda menjawab bahwa belum merasa dipahami, pasangan yang matang secara emosional tidak langsung menyerang.

Ia dapat berkata:

“Coba jelaskan lagi. Aku ingin benar-benar mengerti.”

Sikap semacam ini menunjukkan kerendahan hati dalam komunikasi.

6. “Ada sesuatu yang selama ini ingin kamu sampaikan kepadaku?”

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa seseorang memberikan ruang bagi komunikasi yang lebih terbuka.

Tidak semua masalah dalam hubungan muncul dalam bentuk pertengkaran.

Ada masalah yang justru tumbuh karena terlalu lama disimpan.

Seseorang mungkin merasa kecewa tetapi tidak mengatakannya.

Seseorang mungkin merasa kurang dihargai tetapi memilih diam.

Seseorang mungkin memiliki kebutuhan emosional tertentu tetapi takut dianggap merepotkan.

Pasangan yang peka secara emosional menyadari bahwa diam tidak selalu berarti tidak ada masalah.

Karena itu, ia dapat membuka pintu percakapan dengan bertanya:

“Ada sesuatu yang selama ini ingin kamu katakan, tetapi belum sempat kamu sampaikan?”

Pertanyaan ini memberikan sinyal bahwa hubungan tersebut merupakan tempat yang aman untuk berbicara.

Tentu saja, pertanyaan tersebut harus disertai dengan kesediaan untuk benar-benar mendengarkan.

Tidak ada gunanya mengundang pasangan untuk jujur jika setiap kejujuran kemudian dibalas dengan kemarahan, ejekan, atau hukuman emosional.

Kecerdasan emosional bukan hanya kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, tetapi juga kemampuan menerima jawaban dengan kedewasaan.

Mengapa Pertanyaan-Pertanyaan Ini Bisa Menjadi Tanda Kecerdasan Emosional?

Enam pertanyaan di atas memiliki satu kesamaan: semuanya berusaha memahami dunia emosional pasangan.

Pasangan yang memiliki kecerdasan emosional biasanya tidak hanya berfokus pada fakta.

Ia juga memperhatikan konteks.

Bukan hanya:

“Apa yang terjadi?”

Tetapi juga:

“Bagaimana kejadian itu membuatmu merasa?”

Bukan hanya:

“Siapa yang salah?”

Tetapi juga:

“Bagaimana kita bisa memperbaikinya?”

Bukan hanya:

“Apa yang kamu katakan?”

Tetapi juga:

“Apa yang sebenarnya kamu maksud dan butuhkan?”

Cara berpikir seperti ini dapat membantu hubungan menjadi lebih aman secara emosional.

Ketika seseorang merasa aman untuk mengungkapkan perasaan, pasangan memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami kebutuhan satu sama lain.

Kecerdasan Emosional Bukan Berarti Selalu Tenang

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Memiliki kecerdasan emosional bukan berarti seseorang tidak pernah marah, kecewa, cemburu, sedih, atau melakukan kesalahan.

Orang yang cerdas secara emosional tetap memiliki emosi negatif.

Bedanya, ia berusaha menyadari emosi tersebut dan mengelolanya dengan cara yang tidak merusak hubungan.

Jadi, jangan mengharapkan pasangan yang memiliki kecerdasan emosional tinggi untuk selalu sempurna.

Ia tetap bisa salah.

Ia tetap bisa kehilangan kesabaran.

Ia tetap bisa mengatakan sesuatu yang kurang tepat.

Namun, setelah menyadari kesalahannya, ia biasanya lebih terbuka untuk melakukan refleksi dan memperbaiki perilakunya.

Misalnya:

“Aku tadi terlalu emosional. Maaf. Aku seharusnya mendengarkan kamu dulu.”

Kalimat seperti itu menunjukkan kemampuan melakukan introspeksi.

Yang Paling Penting Adalah Konsistensi

Satu pertanyaan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional tinggi.

Seseorang bisa mengucapkan pertanyaan yang terdengar sangat perhatian tetapi sebenarnya memiliki tujuan untuk mengontrol, memanipulasi, atau mencari informasi.

Karena itu, lihatlah pola perilakunya secara keseluruhan.

Apakah ia benar-benar mendengarkan?

Apakah ia menghormati batasan Anda?

Apakah ia mampu meminta maaf?

Apakah ia dapat menerima kritik?

Apakah ia berusaha memahami sudut pandang Anda?

Apakah ia mampu mengendalikan emosinya ketika terjadi konflik?

Apakah ia memberikan ruang bagi Anda untuk berbicara?

Jika jawaban terhadap sebagian besar pertanyaan tersebut adalah iya, maka kemungkinan Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki keterampilan emosional yang relatif baik.

Hubungan yang Sehat Tidak Hanya Dibangun oleh Cinta

Cinta memang penting dalam hubungan.

Tetapi cinta saja tidak selalu cukup.

Dua orang dapat saling mencintai tetapi kesulitan berkomunikasi.

Dua orang dapat memiliki perasaan yang kuat tetapi tidak mampu menyelesaikan konflik.

Dua orang dapat ingin mempertahankan hubungan tetapi terus saling melukai karena tidak memahami kebutuhan emosional satu sama lain.

Karena itu, kecerdasan emosional memainkan peran penting.

Kemampuan untuk berkata, “Aku ingin memahami kamu,” sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar berkata, “Aku mencintaimu.”

Sebab cinta membuat seseorang ingin memiliki hubungan.

Sementara kecerdasan emosional membantu seseorang merawat hubungan tersebut.

Pada akhirnya, jika pasangan Anda kerap menanyakan keenam hal tadi—tentang perasaan Anda, kebutuhan Anda, batasan Anda, cara menyelesaikan masalah, apakah Anda merasa didengarkan, dan hal-hal yang belum Anda ungkapkan—jangan buru-buru menganggapnya sebagai pertanyaan biasa.

Bisa jadi, di balik pertanyaan sederhana tersebut terdapat sebuah kemampuan yang sangat penting dalam hubungan: keinginan untuk memahami sebelum menghakimi.

Dan dalam hubungan jangka panjang, kemampuan untuk memahami satu sama lain sering kali menjadi salah satu fondasi terpenting untuk menciptakan kedekatan, rasa aman, dan komunikasi yang sehat.

Namun, tetap ingat bahwa kecerdasan emosional tidak dapat dinilai hanya dari enam pertanyaan tersebut. Yang jauh lebih penting adalah apakah pertanyaan itu diikuti oleh empati, tindakan nyata, kemampuan mengelola konflik, penghormatan terhadap batasan, dan konsistensi dalam memperlakukan pasangan.

Karena pada akhirnya, pasangan yang benar-benar matang secara emosional bukan hanya seseorang yang pandai bertanya,

“Apa yang kamu rasakan?”

melainkan seseorang yang juga bersedia tinggal, mendengarkan, memahami, dan berusaha memperbaiki keadaan setelah mengetahui jawabannya.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore