Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Agustus 2026 | 02.48 WIB

Jika Anda Ingin Memutuskan Hubungan dengan Pasangan, Ingat Lagi 6 Nilai Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memutus hubungan dengan pasangan. (Magnific)

 

 
JawaPos.com - Ada saat ketika sebuah hubungan terasa begitu melelahkan. Pertengkaran terjadi berulang kali, komunikasi tidak lagi terasa nyaman, perhatian yang dulu membuat bahagia mulai terasa hambar, dan berbagai masalah seolah tidak pernah benar-benar selesai.


Pada titik tertentu, seseorang mungkin mulai bertanya dalam hati:

"Apakah hubungan ini masih layak dipertahankan?"

Keinginan untuk mengakhiri hubungan bukanlah sesuatu yang selalu muncul karena seseorang sudah tidak mencintai pasangannya. Terkadang, keinginan tersebut muncul karena seseorang sedang lelah, kecewa, merasa tidak dihargai, atau terlalu lama menghadapi konflik yang tidak terselesaikan.

Namun, sebelum mengambil keputusan besar, ada baiknya kita berhenti sejenak.

Bukan untuk memaksa diri tetap bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, tetapi untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar berasal dari pertimbangan yang matang, bukan hanya dari emosi sesaat.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (27/8), dalam psikologi hubungan, kualitas sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar rasa cinta. Ada sejumlah nilai penting yang membantu pasangan membangun hubungan yang sehat, aman, dan bertahan dalam jangka panjang.

Jika saat ini Anda sedang berpikir untuk berpisah, cobalah mengingat kembali enam nilai penting dalam hubungan berikut ini.

1. Rasa hormat

Cinta tanpa rasa hormat akan mudah berubah menjadi hubungan yang melelahkan.

Rasa hormat berarti Anda dan pasangan tetap mengakui bahwa masing-masing adalah manusia yang memiliki perasaan, kebutuhan, batasan, pendapat, dan harga diri.

Dalam hubungan yang sehat, perbedaan pendapat tidak otomatis membuat seseorang merendahkan pasangannya.

Anda boleh marah. Anda boleh kecewa. Anda boleh tidak setuju.

Namun, cara menyampaikan kemarahan tetap penting.

Menghina, mempermalukan, meremehkan, mengancam, atau sengaja membuat pasangan merasa tidak berharga bukanlah bentuk komunikasi yang sehat.

Karena itu, sebelum memutuskan hubungan, tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah masalah yang kami hadapi sebenarnya bisa diperbaiki, atau memang sudah tidak ada rasa hormat di antara kami?"

Pertanyaan ini penting karena ada perbedaan besar antara hubungan yang sedang mengalami masalah dan hubungan yang secara konsisten membuat salah satu pihak kehilangan harga diri.

Jika masalahnya adalah kurangnya keterampilan berkomunikasi, kedua pasangan mungkin masih dapat belajar memperbaikinya.

Tetapi jika seseorang terus-menerus merendahkan, mengontrol, mengintimidasi, atau menyakiti pasangannya, maka mempertahankan hubungan hanya demi mempertahankan status sebagai pasangan bukanlah kewajiban.

Rasa hormat adalah fondasi, bukan bonus.

2. Kepercayaan

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman.

Dan salah satu sumber rasa aman terbesar adalah kepercayaan.

Kepercayaan tidak hanya berkaitan dengan perselingkuhan. Ia juga mencakup kejujuran, konsistensi, keterbukaan, dan keyakinan bahwa pasangan tidak akan sengaja menyalahgunakan kerentanan kita.

Bayangkan Anda memiliki pasangan tetapi selalu merasa harus memeriksa ponselnya.

Setiap kali ia terlambat membalas pesan, Anda langsung curiga.

Ketika ia pergi bersama teman, Anda merasa cemas.

Atau ketika ia mengatakan sesuatu, Anda selalu bertanya-tanya apakah yang dikatakannya benar.

Hidup dalam kondisi seperti itu dalam jangka panjang dapat sangat melelahkan.

Namun, sebelum menyimpulkan bahwa hubungan harus berakhir, coba lihat asal masalahnya.

Apakah kepercayaan rusak karena sesuatu yang memang dilakukan pasangan?

Apakah ada kebohongan berulang?

Apakah pernah terjadi pengkhianatan yang belum benar-benar dipulihkan?

Atau justru ada luka dari pengalaman masa lalu yang membuat Anda sulit percaya kepada siapa pun?

Jawabannya bisa menentukan langkah berikutnya.

Kepercayaan yang rusak tidak selalu mustahil diperbaiki. Tetapi pemulihan membutuhkan usaha dari kedua belah pihak.

Orang yang melakukan kesalahan perlu bersedia bertanggung jawab, sementara orang yang terluka membutuhkan ruang dan waktu untuk kembali merasa aman.

Jika hanya satu orang yang berusaha, hubungan akan sulit kembali sehat.

3. Komunikasi

Banyak pasangan tidak benar-benar kekurangan cinta. Mereka kekurangan kemampuan untuk berbicara tentang masalah dengan cara yang sehat.

Komunikasi dalam hubungan bukan sekadar berbicara setiap hari.

Komunikasi berarti mampu menyampaikan kebutuhan, mendengarkan pasangan, membicarakan konflik, dan mencoba memahami sudut pandang orang lain.

Masalahnya, ketika emosi sedang tinggi, komunikasi sering berubah menjadi arena untuk mencari siapa yang benar.

"Aku sudah bilang dari dulu."

"Kamu memang tidak pernah mengerti."

"Kamu selalu seperti ini."

"Kamu tidak pernah berubah."

Kalimat-kalimat seperti itu biasanya tidak membantu menyelesaikan masalah.

Sebelum memutuskan hubungan, cobalah bertanya:

"Apakah kami benar-benar sudah mencoba berbicara dengan cara yang sehat?"

Bukan hanya sekali ketika pertengkaran sedang berlangsung, tetapi dalam kondisi yang tenang.

Sampaikan apa yang Anda rasakan tanpa langsung menyerang karakter pasangan.

Misalnya, daripada mengatakan:

"Kamu memang tidak peduli kepadaku."

Anda bisa mengatakan:

"Aku merasa tidak diperhatikan ketika masalah ini terjadi. Aku berharap kita bisa membicarakannya dengan lebih serius."

Perbedaan kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat mengubah arah sebuah percakapan.

Tentu saja, komunikasi yang baik tidak menjamin semua hubungan akan berhasil.

Kadang-kadang dua orang sudah berbicara berkali-kali tetapi tetap tidak menemukan jalan tengah.

Namun, mengetahui bahwa Anda sudah berusaha berkomunikasi dengan sehat dapat membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih tenang.

4. Empati dan kepedulian

Dalam hubungan jangka panjang, seseorang tidak selalu membutuhkan pasangan yang memiliki pemikiran sama.

Yang sering kali lebih penting adalah memiliki pasangan yang berusaha memahami.

Empati berarti mencoba melihat sesuatu dari perspektif pasangan.

Ketika pasangan sedang sedih, Anda tidak harus langsung menyelesaikan masalahnya.

Kadang-kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

Begitu pula ketika Anda sedang menghadapi kesulitan.

Pasangan yang peduli tidak harus selalu memiliki jawaban. Tetapi ia menunjukkan bahwa pengalaman Anda penting baginya.

Coba ingat kembali hubungan Anda.

Ketika Anda sedang mengalami hari yang buruk, apakah pasangan berusaha memahami?

Ketika Anda memiliki masalah, apakah ia mendengarkan?

Ketika Anda berhasil mencapai sesuatu, apakah ia ikut merasa senang?

Dan ketika pasangan sedang kesulitan, apakah Anda juga masih memiliki keinginan untuk hadir untuknya?

Hubungan yang sehat biasanya memiliki unsur saling peduli, bukan hanya satu orang yang terus memberi sementara yang lain terus menerima.

Namun, penting juga untuk memahami bahwa empati tidak berarti harus selalu mengorbankan diri.

Memahami pasangan bukan berarti membenarkan semua perilakunya.

Mencintai seseorang bukan berarti Anda harus menerima perlakuan yang merusak diri sendiri.

5. Komitmen untuk bertumbuh

Tidak ada hubungan yang selalu berjalan mulus.

Manusia berubah. Situasi berubah. Pekerjaan berubah. Prioritas berubah. Cara seseorang memandang kehidupan pun dapat berubah seiring waktu.

Karena itu, hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi.

Yang perlu dilihat bukan hanya:

"Apakah kami memiliki masalah?"

Hampir semua pasangan memiliki masalah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah kami berdua bersedia memperbaiki masalah tersebut?"

Ini perbedaan yang sangat besar.

Bayangkan pasangan melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. Setiap kali meminta maaf, ia berjanji akan berubah. Tetapi setelah beberapa waktu, semuanya kembali seperti semula.

Dalam situasi seperti ini, yang perlu dinilai bukan hanya kata-katanya, tetapi perilakunya.

Komitmen terlihat melalui tindakan.

Jika seseorang benar-benar ingin mempertahankan hubungan, biasanya ada usaha untuk belajar dari kesalahan, mengubah pola yang merusak, dan mencari cara yang lebih baik untuk menghadapi konflik.

Hubungan tidak membutuhkan dua manusia yang sempurna.

Hubungan membutuhkan dua manusia yang bersedia belajar.

6. Kesediaan untuk saling memilih

Pada awal hubungan, memilih pasangan biasanya terasa mudah.

Ada ketertarikan, rasa penasaran, kebahagiaan, dan banyak hal baru.

Tetapi setelah hubungan berjalan cukup lama, kehidupan nyata mulai terlihat.

Kebiasaan yang mengganggu mulai muncul.

Perbedaan karakter semakin terlihat.

Tanggung jawab bertambah.

Konflik menjadi lebih nyata.

Pada tahap ini, hubungan tidak lagi hanya tentang perasaan.

Ada keputusan untuk tetap hadir, tetap mendengarkan, tetap menghargai, dan tetap bekerja sama.

Inilah salah satu nilai penting yang sering terlupakan: kesediaan untuk saling memilih, bukan sekadar saling memiliki.

Memiliki pasangan tidak berarti kita berhak mengontrolnya.

Sebaliknya, mencintai seseorang berarti menyadari bahwa ia tetap memiliki kebebasan sebagai individu.

Hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang kehilangan dirinya demi hubungan.

Hubungan yang sehat justru memungkinkan dua individu tetap menjadi dirinya sendiri sambil membangun kehidupan bersama.

Karena itu, tanyakan:

"Apakah kami masih sama-sama memilih hubungan ini?"

Jika jawabannya masih iya, mungkin ada sesuatu yang masih layak diperjuangkan.

Jika jawabannya hanya iya dari satu pihak, mungkin masalahnya sudah berada di tempat yang berbeda.

Jangan Mengambil Keputusan Saat Emosi Sedang Memuncak

Ada satu hal lagi yang penting.

Keputusan untuk mengakhiri hubungan sebaiknya tidak selalu dibuat pada puncak kemarahan.

Ketika emosi sedang sangat tinggi, pikiran kita cenderung lebih fokus pada rasa sakit saat ini daripada gambaran hubungan secara keseluruhan.

Karena itu, jika memungkinkan, berikan diri Anda waktu untuk tenang.

Tulis apa yang sebenarnya membuat Anda ingin pergi.

Pisahkan antara masalah yang terjadi sekali dengan pola yang berlangsung berulang kali.

Tanyakan apakah masalah tersebut pernah dibicarakan.

Tanyakan apakah pasangan menunjukkan perubahan.

Dan yang tidak kalah penting, tanyakan kepada diri sendiri apakah Anda juga masih ingin memperbaiki hubungan tersebut.

Bukan karena takut sendirian.

Bukan karena takut mengecewakan keluarga.

Bukan karena takut memulai kembali.

Tetapi karena Anda benar-benar melihat adanya sesuatu yang masih bisa dibangun bersama.

Tetapi Jangan Gunakan "Mempertahankan Hubungan" Sebagai Alasan untuk Bertahan dalam Situasi yang Tidak Aman

Mengingat nilai-nilai hubungan bukan berarti Anda harus selalu mempertahankan hubungan.

Ini sangat penting.

Ada kondisi ketika berpisah justru merupakan pilihan yang sehat.

Jika hubungan melibatkan kekerasan, ancaman, manipulasi berat, kontrol yang ekstrem, atau perlakuan yang membuat Anda berada dalam bahaya, prioritas utama bukanlah memperbaiki komunikasi atau menjadi pasangan yang lebih sabar.

Prioritasnya adalah keselamatan dan perlindungan diri.

Tidak semua hubungan harus diselamatkan.

Dan tidak semua perpisahan berarti seseorang gagal mencintai.

Terkadang, berpisah adalah bentuk pengakuan bahwa sebuah hubungan sudah tidak sehat atau tidak lagi dapat dijalani dengan aman.

Jadi, Haruskah Anda Bertahan atau Pergi?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua pasangan.

Psikologi hubungan dapat membantu kita memahami pola, kebutuhan, komunikasi, dan dinamika pasangan, tetapi keputusan akhir tetap bergantung pada keadaan nyata yang Anda alami.

Sebelum mengambil keputusan, cobalah melihat hubungan secara utuh.

Bukan hanya mengingat pertengkaran terakhir.

Ingat juga bagaimana hubungan tersebut dimulai.

Ingat masa-masa ketika pasangan hadir untuk Anda.

Ingat masalah yang pernah berhasil kalian lewati.

Ingat pula masalah yang terus berulang meskipun sudah dibicarakan.

Kemudian tanyakan enam hal sederhana:

Apakah masih ada rasa hormat?
Apakah masih ada kepercayaan atau setidaknya usaha untuk membangunnya kembali?
Apakah kami masih mampu berkomunikasi dengan sehat?
Apakah kami masih saling peduli dan berempati?
Apakah kami sama-sama bersedia bertumbuh dan memperbaiki kesalahan?
Apakah kami masih benar-benar memilih hubungan ini?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung memberikan keputusan.

Namun, ia dapat membantu Anda melihat hubungan dengan lebih jernih.

Karena pada akhirnya, mempertahankan hubungan bukan hanya tentang seberapa kuat perasaan cinta yang pernah ada.

Hubungan juga tentang bagaimana dua orang memperlakukan satu sama lain ketika cinta tersebut diuji oleh konflik, waktu, perubahan, dan kehidupan sehari-hari.

Jika setelah mempertimbangkan semuanya Anda menyadari bahwa hubungan masih memiliki rasa hormat, kepedulian, komunikasi, dan keinginan untuk berubah, mungkin hubungan tersebut masih memiliki ruang untuk diperbaiki.

Tetapi jika Anda menemukan bahwa hubungan sudah kehilangan rasa aman, rasa hormat, kepercayaan, dan kemauan untuk berubah dari kedua belah pihak, Anda juga tidak perlu merasa bersalah karena mempertimbangkan perpisahan.

Cinta penting, tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk membuat sebuah hubungan menjadi sehat.

Kadang-kadang yang membuat dua orang bertahan bukan hanya karena mereka saling mencintai, tetapi karena mereka masih mampu saling menghargai, memahami, memperbaiki diri, dan memilih satu sama lain setiap hari.

Dan jika pada akhirnya Anda memutuskan untuk pergi, pastikan keputusan itu bukan sekadar pelarian dari satu malam yang buruk, melainkan keputusan sadar setelah melihat hubungan Anda secara jujur, utuh, dan realistis.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore