JawaPos.com - Kebahagiaan sering kali terasa seperti sesuatu yang sederhana, namun tidak semua orang mudah merasakannya.
Dalam psikologi, ada banyak faktor yang membuat seseorang sulit merasa puas dengan hidupnya—mulai dari pola pikir, pengalaman masa lalu, hingga cara ia memandang dunia.
Salah satu kebiasaan yang paling merusak adalah social comparison atau kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain.
Membandingkan diri sebenarnya wajar, karena manusia hidup dalam kelompok sosial.
Tetapi, jika dilakukan secara berlebihan dan dengan cara yang tidak sehat, hal ini justru menggerogoti rasa syukur, meruntuhkan harga diri, dan membuat seseorang semakin jauh dari kebahagiaan.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (24/9), terdapat tujuh cara tidak sehat yang sering dilakukan oleh orang-orang yang sulit merasa bahagia, menurut pandangan psikologi.
Jika teman sebaya sudah naik jabatan, membuka usaha sukses, atau meraih penghargaan tertentu, mereka langsung merasa tertinggal.
Alih-alih menjadikannya motivasi, perbandingan ini justru menumbuhkan rasa iri, cemas, dan minder.
Dalam psikologi, fenomena ini disebut upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang yang dianggap “lebih baik”, yang sering kali berakhir dengan rasa tidak puas.
2. Mengukur Kebahagiaan dari Kehidupan Cinta Orang Lain
Media sosial kerap menjadi panggung di mana orang menampilkan momen indah dengan pasangan.
Bagi mereka yang sulit bahagia, melihat unggahan romantis justru menjadi pemicu rasa sedih.
Mereka merasa cinta dalam hidupnya kurang sempurna, atau bahkan bertanya-tanya, “Mengapa aku belum punya pasangan?”
Membandingkan kualitas hubungan pribadi dengan potret orang lain hanya menambah tekanan emosional, sebab apa yang terlihat di luar belum tentu menggambarkan kenyataan.
Orang yang tidak bahagia sering terjebak dalam pola pikir perfeksionis, merasa tidak cukup menarik jika dibandingkan dengan selebritas atau influencer.
Menurut psikologi, perbandingan fisik semacam ini dapat memicu body dissatisfaction (ketidakpuasan tubuh), yang menjadi salah satu faktor risiko depresi, gangguan makan, dan rendahnya harga diri.
4. Membandingkan Kondisi Finansial dengan Lingkungan
Ada pepatah: “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.”
Orang yang sulit merasa bahagia biasanya terjebak dalam perbandingan soal harta dan gaya hidup.
Ketika melihat teman membeli rumah baru, liburan ke luar negeri, atau sekadar sering makan di restoran mewah, mereka langsung merasa miskin dan gagal.
Padahal, dalam psikologi positif, kebahagiaan lebih banyak ditentukan oleh rasa syukur dan keseimbangan hidup, bukan angka di rekening.
5. Terjebak dalam Persaingan Kehidupan Sosial
Sebagian orang mengukur keberhasilan dari seberapa luas lingkaran sosial mereka.
Jika melihat orang lain lebih populer, punya banyak teman, atau selalu diajak ke acara tertentu, mereka merasa tersisih.
Kebiasaan membandingkan status sosial ini sering memunculkan rasa kesepian yang justru semakin memperparah ketidakbahagiaan.
Padahal, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada kuantitas.
Misalnya, ketika orang lain menikah di usia 25, punya anak di usia 28, atau meraih kesuksesan di usia muda, mereka merasa diri tertinggal jauh.
Padahal, setiap orang punya jalur hidup yang berbeda, dan waktu bukanlah tolok ukur universal.
Membandingkan garis waktu kehidupan hanya membuat seseorang semakin kehilangan arah dan menekan diri sendiri tanpa alasan.
7. Mengabaikan Pencapaian Pribadi karena Fokus pada Orang Lain
Ironisnya, orang yang sering membandingkan diri biasanya gagal menghargai pencapaian mereka sendiri.
Fokus mereka hanya tertuju pada apa yang dimiliki orang lain, sehingga keberhasilan kecil dalam hidup terasa tidak berarti.
Menurut psikologi, kurangnya self-appreciation membuat seseorang sulit merasakan kebahagiaan jangka panjang, karena kepuasan diri selalu ditentukan dari luar, bukan dari dalam.
Namun, jika dilakukan terus-menerus dengan cara yang tidak sehat, kebiasaan ini hanya menjauhkan kita dari rasa bahagia.
Psikologi mengajarkan pentingnya self-compassion (kasih sayang terhadap diri sendiri), gratitude (rasa syukur), dan growth mindset (pola pikir berkembang) agar kita lebih fokus pada perjalanan pribadi daripada hidup orang lain.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tentang siapa yang paling cepat, paling kaya, atau paling populer, melainkan tentang siapa yang bisa menerima dirinya apa adanya sambil terus bertumbuh.
***