
SONGGOLANGIT: Desa Wisata Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, yang berada di kaki Gunung Ijen. Salah satu andalannya adalah pemandangan sawah terasering. (RAMADAN KUSUMA/JAWA POS RADAR BANYUWANGI)
DESTINASI wisata tak lagi dimonopoli perorangan atau pemerintah daerah. Keindahan desa pun bisa menjadi sumber penghasilan dengan pengelolaan yang baik. Bahkan, mampu menghasilkan uang yang menembus miliaran rupiah dan menghidupkan perekonomian desa.
***
POTENSI wisata di Jatim begitu luar biasa. Kawasan Bromo-Tengger-Semeru (BTS), Ijen, serta destinasi lain sudah mendunia. Industri wisata di sejumlah wilayah lain juga begitu menggeliat. Mulai Banyuwangi, Malang, hingga kawasan pantai selatan.
Dunia pariwisata di Jatim makin semarak dengan kehadiran desa-desa wisata yang menjamur. Kini, tercatat sudah ada 479 desa wisata yang beroperasi. Desa-desa tersebut mengandalkan wisata alam, minat, dan buatan serta wisata budaya.
Potensi-potensi itulah yang tengah dikembangkan pemprov. Sebuah program bertajuk Dewi Cemara (Desa Wisata Cerdas Mandiri) mulai digulirkan. Lewat program itu, pemprov bekerja sama dengan pengelola destinasi dan pemerintah daerah setempat. ”Semuanya dilibatkan,’’ kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Lewat program tersebut, pemprov dan pemda berfokus pada fasilitasi dan pendampingan pembentukan desa wisata. Salah satu yang menjadi perhatian adalah objek yang digarap. ’’Kami tidak ingin konsep yang ditawarkan desa-desa wisata monoton. Harus heterogen,’’ jelas Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Sinarto.
Karena itu, diperlukan diferensiasi objek yang digarap. Maksudnya, desa-desa harus memiliki produk andalan masing-masing. ’’Dan antardesa tidak boleh sama,’’ tegas pejabat kelahiran Lamongan itu.
Misalnya, desa A menggarap potensi alam. Desa B harus memaksimalkan potensi lain. Mereka bisa menggarap penginapan atau travel. ’’Penggarapan yang berbeda memberikan pilihan bagi pengunjung,’’ ungkap Sinarto.
Photo
EKSOTIS: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa me-launching wisata sport paralayang di Bukit Sungkro, Desa/Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada 27 Agustus lalu. (SOFAN KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)
Pemprov juga memfasilitasi desa wisata melalui bantuan pendanaan. Secara bertahap, anggaran melalui APBD sudah disiapkan untuk menstimulus pengembangan objek-objek tersebut.
Terbaru, sebuah peraturan daerah (perda) tengah disiapkan untuk mempercepat pengembangan desa wisata. Lewat perda itulah, sejumlah problem yang kerap jadi penghambat berkembangnya desa wisata bisa diatasi.
Salah satunya adalah desa wisata yang sulit berkembang karena persoalan status lahan. ”Lewat perda itu, diharapkan nanti ada solusi,” kata Ketua Komisi B DPRD Jatim Aliyadi.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=t3Nv7UmAF9o

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
