Keju Lokal Bangsawan Enrekang Ini Dibuat dari Susu yang Tidak Biasa. (Sumber gambar: SMAN 6 Enrekang/ YouTube.com)
JawaPos.com - Di antara kekayaan kuliner Nusantara, keju dangke hadir sebagai harta karun tersembunyi dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Keju tradisional ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Enrekang selama ratusan tahun, menawarkan perpaduan rasa gurih, legit, dan tekstur unik yang lembut di lidah.
Dilansir dari video dokumenter yang dibuat oleh SMAN 6 Enrekang pada Selasa (23/04), dangke mulai dikenal sebagai keju sejak jaman kolonialisme Belanda.
Akar sejarah dangke dan asal-usul namanya
Sebelum kedatangan Belanda, kudapan ini memiliki akar sejarah tertanam erat dalam tradisi masyarakat Enrekang.
Dahulu, kudapan ini hanya dipersembahkan untuk para bangsawan dan tetua adat sebagai simbol penghormatan.
Seiring waktu, dangke mulai dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan menjadi ikon kuliner khas Enrekang.
Dangke sering disantap dengan nasi, dan konon namanya berasal dari frasa Belanda "dank u wel", yang berarti terima kasih.
Ungkapan ini diucapkan orang Belanda pada kunjungan pertama mereka ke Sulawesi Selatan saat mereka disuguhi kudapan ini.
Keunikan dangke dari Enrekang
Keunikan dangke terletak pada proses pembuatannya yang masih menggunakan metode tradisional. Berbeda dengan keju pada umumnya yang menggunakan enzim rennet, dangke memanfaatkan getah pepaya sebagai koagulan alami.
Hal ini menghasilkan tekstur dangke yang lebih kenyal yang menyerupai tahu yang tidak terlalu padat dan rasa yang khas.
Pembuat dangke harus cermat terhadap intuisi mereka agar dangke yang dibuat tidak pahit karena penggunaan getah pepaya yang berlebihan.
Membuat dangke membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Dangke asli berbahan dasar susu kerbau. Seiring berjalannya waktu, dangke juga dibuat dari susu sapi sebagai ganti susu kerbau yang memiliki harga yang lebih tinggi.
Keberadaan susu kerbau juga tidak lebih mudah ditemukan dibandingkan dengan susu sapi. Sekarang, sudah banyak ditemukan dangke yang berbahan dasar dari susu sapi.
Kasba, seorang pemerah kerbau dari desa Sangbuah, Kabupaten Enrekang menyampaikan bahwa induk kerbau baru bisa diperah saat anak kerbau sudah berumur 3 bulan.
Memerah susu kerbau juga tidak mudah, terkadang ada kerbau yang tidak suka jika bagian tubuhnya disentuh.
Cara membuat dangke
Darmawati, seorang pembuat dangke dari desa Sangbuah juga menjelaskan cara pembuatan dangke yang masih terbilang konvensional.
Susu kerbau segar sebanyak 1,5 liter direbus perlahan menggunakan api sedang hingga menjelang didih. Kemudian api dikecilkan, getah pepaya sebanyak 1 tutup botol ditambahkan untuk memicu proses penggumpalan.
Selain getah pepaya, ditambahkan 1 sendok garam dapur pada campuran dangke sebagai pengemulsi dan menstabilkan dangke agar lebih awet.
Setelah terbentuk gumpalan padat, adonan dicetak pada batok kelapa yang berlubang.
Gumpalan susu akan memadat dengan cara ditekan hingga air mengalir lewat lubang batok kelapa. Padatan susu didiamkan sekitar tiga menit hingga memadat seperti tekstur tahu.
Dangke kemudian dibungkus daun pisang. Dangke bisa langsung dimakan setelah memadat, atau kembali difermentasi beberapa hari.
Menjadikan dangke sebagai oleh-oleh
Damayanti bercerita, jika dangke buatannya bisa tahan hingga sepuluh hari atau satu minggu. Orang-orang yang membeli dangke di tempatnya biasa membawa kudapan ini sebagai oleh-oleh.
"Orang-orang kadang menggunakan agar-agar apabila dangke dibawa ke tempat jauh. Orang beli biasaya beli adalah orang-orang pulang kampung, misalnya pada saat hari raya idul fitri. Ketika kembali ke kota mereka membeli dangke dan bawa sebagai oleh-oleh. Dangke sudah sering dibawa ke tempat jauh seperti Malaysia dan irian" jelas Damayanti dalam bahasa setempat.
Dangke biasa diawetkan dengan cara dibekukan di dalam agar-agar. Dengan cara tersebut, dangke memiliki daya tahan lebih lama.
Damayanti biasa membandrol dangke buatannya seharga Rp 25.000 hingga Rp 60.000. Di hari-hari seperti lebaran, Damayanti bisa menjual dangke lebih tinggi.
Menemukan dangke di Enrekang
Bagi masyarakat Enrekang, dangke bukan hanya sekedar hidangan lezat, tetapi juga simbol budaya dan kearifan lokal. Keju ini sering disajikan dalam acara adat dan perayaan, memperkuat rasa persaudaraan dan kekeluargaan.
Bagi pecinta kuliner yang ingin menjelajahi cita rasa dangke, Kabupaten Enrekang menjadi destinasi utama. Di sana.
Dangke segar dapat ditemukan di pasar tradisional atau langsung dari pembuatnya. Berbagai hidangan tradisional berbahan dasar dangke juga siap memanjakan lidah, seperti coto dangke, sup dangke, dan pisang epe dangke.
Keju dangke merupakan warisan kuliner berharga yang patut dilestarikan. Upaya untuk meningkatkan produksi dan pemasaran dangke perlu dilakukan agar cita rasa khas Enrekang ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Dengan semakin populernya dangke, diharapkan dapat meningkatkan ekonomi lokal dan memperkenalkan budaya Enrekang kepada dunia.