Suasana bernuansa antik di Griya Alit Blambangan, Banyuwangi.
JawaPos.com - Destinasi yang satu ini mengusung konsep yang unik. Menyajikan perpaduan keasrian alam serta benda-benda kuno nan antik dari masa ke masa. Sederet apresiasi pun sukses diraih.
Lokasinya berada di belakang kantor Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh. Hanya butuh waktu 40 menit perjalanan dari pusat kota Banyuwangi menuju destinasi wisata purbakala tersebut.
Begitu masuk ke Griya Alit Blambangan, pengunjung disambut tumpukan kayu berusia tua yang ditutup terpal. Ada pintu, jendela, kayu bekas perahu, rumah oseng, dan gentong yang ditata rapi.
Nuansa klasik makin terasa saat traveller tiba di padepokan. Deretan guci tanah liat berjejer di pintu gerbang. Suasananya mirip zaman kerajaan. Apalagi lokasinya berada di sekitar kebun yang masih rindang dan sejuk.
Setelah melintasi gerbang gapura, pandangan pengunjung akan disuguhi dengan ribuan koleksi barang antik yang tertata rapi. Mulai peralatan rumah tangga seperti meja, kursi, lemari, tempat tidur, lampu gantung, guci, gelas, piring, mangkuk, loyang, setrika, hingga sentolop (senter).
Ada juga alat komunikasi, mulai telepon, televisi, radio, tape recorder, kaset pita, hingga corong toa. Tidak hanya itu, juga ada berbagai jenis alat transportasi seperti sepeda kayuh, sepeda motor, dokar, cikar, dan becak.
Ada pula berbagai jenis hiasan dinding, yaitu lukisan, wayang kulit, wayang golek, gerabah, keris, tombak, dan masih banyak jenis benda lainnya.
Semua ditata rapi di bawah bangunan rumah adat khas oseng Banyuwangi di atas lahan seluas 1,5 hektare. Tak heran, Griya Alit Blambangan menjadi jujukan para fotografer yang ingin hunting spot klasik.
’’Tempat ini sering digunakan untuk syuting foto pre wedding dan pembuatan video klip,” ujar Murai Ahmad, pemilik Griya Alit Blambangan.
Murai juga mengoleksi peralatan masak kuno seperti tungku kayu, sublukan, kukusan, panci, cangkir, loyang, dan peralatan masak lainnya.
’’Saya mengoleksi benda-benda tersebut sekaligus sebagai media edukasi kepada generasi milenial sekarang. Bahwa sebelum ada peralatan yang modern, alat-alat kuno ini pernah digunakan,” jelasnya.
Sebagian koleksi peralatan kuno klasiknya juga masih berfungsi. Misalnya, tape recorder dan radio kuno. ’’Jika ada anak-anak muda yang berkunjung, sesekali juga kami putarkan. Sehingga mereka tahu secara langsung cara kerja barang-barang kuno tersebut,’’ jelas Ketua Papdesi (Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia) Banyuwangi itu.
Konsep yang diusung Murai mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya budayawan Banyuwangi Juwono. ”Beliau rela berkorban demi memelihara dan melestarikan benda-benda lawas,” jelas komisi musik tradisi Dewan Kesenian Blambangan itu.
Sebagai apresiasi, Juwono turut memberi nama sanggar itu, yaitu Sanggar Tepis Wiring atau sanggar tepi sungai. Sedangkan, nama Griya Alit Blambangan diberikan oleh almarhum Sahuni, seniman dan budayawan Banyuwangi. (ddy/aif/c6/ris)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
