
Photo
Pecel merupakan kuliner yang tidak lekang oleh waktu. Mudah ditemukan di setiap daerah di Indonesia dan nikmat disantap kapan saja. Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ada pecel yang unik. Namanya, Pecel Lethok Mbah Jan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah menikmatinya dan terkesan.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Ngawi
JawaPos.com - Aroma kuah lethok itu begitu menggoda. Meski aromanya sedikit menyengat, bumbu rempahnya yang kuat membuat lethok nikmat disantap bersama teman nasi hangat. Kelezatan lethok menjadi berlipat saat dipadukan dengan nasi pecel.
Lethok mirip sambal tumpang. Dua-duanya terbuat dari tempe semangit. Yakni, tempe yang sudah melewati masa fermentasi atau menuju busuk. Lethok identik dengan Kabupaten Ngawi. Bahkan sudah dinobatkan sebagai kuliner khas Ngawi.
Di antara banyak warung yang menawarkan nasi lethok sebagai menu, Warung Lethok Mbah Jan adalah yang paling populer. Lokasinya di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Ngawi. Warung itu juga langganan masuk Peta Kuliner Jalur Lebaran Pulau Jawa versi Kementerian Perhubungan.
Sebab, Warung Lethok Mbah Jan terletak di dekat pintu keluar tol Ngawi. Jaraknya hanya sekitar 10 menit. Lokasi yang strategis, menu yang unik, dan rasa yang nikmat membuat warung itu dikenal banyak orang. Bukan hanya warga lokal, tetapi juga mereka yang dari luar kota.
Jawa Pos berkesempatan mampir ke Warung Lethok Mbah Jan pada Desember lalu. Itu menjadi pengalaman kuliner yang tidak terlupakan. Warungnya memang sederhana. Namun, tempatnya luas. Sangat akomodatif untuk menampung tamu yang datang bersama keluarga atau rombongan. Ada parkiran yang juga luas di tanah kosong dekat warung.
Karena warung itu tenar, pengunjung harus rela antre untuk bisa menikmati seporsi nasi pecel lethok. Mereka harus bersabar karena antrean selalu panjang. Bahkan sering kali sampai harus antre di luar warung. Sebagian besar yang antre adalah pembeli baru. Sebagian yang lain memang pelanggan yang sudah berkali-kali bersantap di warung tersebut. ”Alhamdulillah, warung tidak pernah sepi. Selalu ramai seperti ini,” kata Budiyono, generasi kedua pemilik warung.
Photo
BAHAN UTAMA: Tempe semangit dan tempe waras yang sudah direbus selama 8 jam kemudian ditumbuk untuk dijadikan lethok. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Warung paling ramai pada pagi hari. Sebab, nasi pecel lethok sudah dianggap sebagai menu sarapan khas Ngawi. Ada yang makan nasi lethok saja. Namun, ada juga yang menyantap nasi pecel dengan guyuran kuah lethok di atasnya.
Penyajian nasi lethok atau nasi pecel lethok dengan daun jati juga menjadi daya pikat tersendiri. ”Di sini sengaja pakai daun jati biar tetap tradisional. Dan, rasanya jauh lebih enak karena ada aroma daunnya,” ujar Budiyono.
Lethok umumnya hanya berisi tempe dan tahu. Namun, di Warung Lethok Mbah Jan, Budiyono menyediakan sejumlah isian yang lain. Selain kuah lethok orisinal, ada juga kuah lethok isian urat dan babat. ”Lethok yang kami buat menggunakan dua macam tempe. Yakni, tempe semangit dan tempe biasa. Perbandingannya 1:4 atau 1:5,” jelas dia.
Demi mendapatkan rasa yang paripurna, Budiyono merebus tempe selama kira-kira delapan jam dengan tungku kayu atau pawon. Mulai pukul 06.00 hingga 14.00. Tujuannya adalah membebaskan tempe dari getah kedelai. Setelah benar-benar matang, campuran tempe semangit dan tempe waras tersebut ditumbuk halus secara manual. ”Saya tidak menggunakan alat penggiling atau blender karena nanti rasanya pahit,” jelas Budiyono.
Tempe yang sudah ditumbuk halus itu lantas direbus bersama bumbu yang sudah diracik. Kemudian, ditambahkan santan yang membuat kuah lethok semakin kental dan pekat. Barulah setelah itu diisi babat, urat, dan lain-lainnya. ”Biasanya, rasa lethok semakin lezat ketika dibuat hari ini dan dimakan lusanya,” tuturnya.
Budiyono bahkan harus membuat tempe semangit sendiri agar rasanya stabil. Bagi dia, tempe semangit yang paling pas adalah yang rasanya enak dan warnanya tidak sampai hitam. ”Itu akan memengaruhi rasa. Sementara, kami harus menjaga kualitas dari rasa lethok-nya,” ujarnya.
Warung yang berdiri sejak 1997 itu masuk Top Ten Kuliner Ngawi di website Pesona Indonesia. Bahkan, warga Ngawi yang mudik dari perantauan selalu bilang belum pulang kalau belum makan nasi pecel lethok Mbah Jan. ”Mempertahankan kualitas itu berat. Apalagi kalau sudah mendapatkan nama,” kata Budiyono.
Pada 1997, warung didirikan Karmijan, ayah Budiyono. Yang dijual pertama bukanlah nasi pecel, melainkan kopi. Setelah itu, Karmijan mengembangkannya menjadi warung nasi dengan berjualan nasi lethok. Penggemarnya saat itu sudah banyak. ”Sehari bisa sampai 6 kilogram beras,” ujarnya.
Budiyono yang saat itu merantau ke luar kota pun diminta pulang ke Ngawi untuk meneruskan usaha ayahnya. Saat itu bertepatan dengan bencana banjir nasional di Ngawi pada 2007. Budiyono resmi melanjutkan usaha kuliner tersebut pada 2008. ”Saya berusaha mengembangkan warung sesuai dengan selera pelanggan. Hingga akhirnya, kuah lethok dilengkapi isian jeroan dan lauk-pauk lain,” ujarnya.
Photo
SEDERHANA: Warung Pecel Lethok Mbah Jan dipertahankan sebagaimana semula agar semua kalangan berkenan singgah. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)
Budiyono sengaja membiarkan warungnya tetap seperti semula, tidak membangunnya menjadi lebih bagus. Sebab, dia ingin warungnya dijangkau semua golongan. ”Biasanya, kalau warung sudah dibikin mewah, banyak yang takut datang karena disangkanya mahal. Padahal, bawa uang Rp10 ribu saja bisa makan,” tuturnya.
Selain masyarakat Ngawi dan sekitarnya, nasi pecel lethok Mbah Jan menarik Presiden Jokowi. Pemimpin 60 tahun itu memang tidak datang langsung ke warung. Namun, dia sudah dua kali mencicipi nasi lethok Mbah Jan saat melawat ke Ngawi.
”Presiden Jokowi dan bupati Ngawi yang dulu, Pak Budi Sulistyono, itu akrab. Setiap mampir ke DPC PDIP Ngawi, Pak Jokowi minta makanan tradisional Ngawi,” ungkap Budiyono.
Saat itu pesanannya adalah nasi pecel lethok dengan kerupuk puli. Responsnya bagus. Setiap berkunjung ke Ngawi, Jokowi selalu minta disiapkan nasi lethok. ”Akhirnya, setiap ada acara pemerintahan, ya yang disajikan lethok kami,” terangnya.
Pada 2017 atau 2018, menurut Budiyono, saat meninjau pembangunan jalan tol pun, Jokowi memesan nasi pecel lethok Mbah Jan. Padahal, ketika itu tujuan peninjauan adalah Bojonegoro. Namun, Jokowi mampir ke Ngawi untuk menyantap nasi pecel lethok. Saat itu ajudan presiden datang langsung ke warung dan membelikan pesanan Jokowi.
”Dalam hati saya, akhirnya presiden ketagihan nasi lethok kami,” ujar Budiyono bangga. Biasanya, Jokowi meminta nasi lethok-nya dibungkus daun jati.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
