
BORONG: Istri Bupati Blora Ainia Shalichah (pakai helm) saat borong makanan pedagang angkringan di depan SMP 6 Blora kemarin. (PKK BLORA FOR RADAR KUDUS)
ANGKRINGAN kadung menyatu dengan keseharian warga Jogjakarta. Di angkringan, tujuan esensial makan tercapai dengan cara yang sangat sederhana. Makan nasi secukupnya, lauk sesuai dengan kantong, plus minum. Murah, meriah, dan mengenyangkan.
Hukum supply dan demand membuat angkringan menjamur di Kota Pelajar. Bahkan sampai ke kota-kota lain. Prospek bisnisnya jelas luar biasa. Cemerlang. Karena itulah, persaingannya juga ketat.
Tanpa meninggalkan ciri khas angkringan, para pelaku usaha kini mengusung konsep murah, meriah, dan mengenyangkan itu ke kelas yang berbeda. Bukan lagi di emperan toko, sudut kampus, atau jalur pedestrian, melainkan di rumah makan atau hotel.
Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Jogjakarta Anton Yanwar Susilo mengapresiasi Waroeng Klangenan. Menurut dia, pemilik warung punya strategi marketing yang unik. Dengan memodernkan konsepnya, dia telah membuat angkringan naik kelas. Tempat permanen dengan pilihan area makan yang lebih nyaman akan membuat mereka yang selama ini memandang remeh angkringan juga tertarik.
”Meski harus ekstrasibuk menyajikan makanan sendiri, itu berhasil menghadirkan keseruan bagi pengunjung. Mereka bisa langsung terlibat dalam pengolahan makanan,” ujar Anton saat dihubungi Jawa Pos pada Senin (11/4).
Pengunjung, rupanya, tidak berkeberatan dengan konsep membakar sendiri lauk di atas meja. Itu justru sesuai dengan tren generasi sekarang yang banyak terpapar budaya Korea Selatan. Drama Korea pun sering memperlihatkan adegan makan bersama dengan konsep membakar lauk sendiri di atas meja.
Anton menuturkan, strategi Waroeng Klangenan layak diadaptasi para pengusaha angkringan atau kuliner lainnya. Misalnya, mengusung konsep angkringan di hotel berbintang. Itu bisa menjadi cara untuk menciptakan pasar baru.
Namun, yang paling penting adalah tidak meninggalkan kekhasan menu angkringan. Sego kucing, gorengan, dan beragam sate harus tetap ada. Sebab, tiga komponen itulah yang dicari publik di angkringan. Minuman bisa dimodifikasi sendiri seperti yang dilakukan Waroeng Klangenan. ”Cita rasanya rata-rata sama. Sensasinya saja yang bisa berbeda,” tandas pria 41 tahun tersebut.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
