Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 3 Agustus 2026 | 07.27 WIB

Embun Upas Dieng Sedot Wisatawan, BMKG: Fenomena Alam Ini Muncul saat Musim Kemarau

Fenomena embun upas mulai muncul di sekitar kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara. (Gallery Dieng/Antara) - Image

Fenomena embun upas mulai muncul di sekitar kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara. (Gallery Dieng/Antara)

JawaPos.com - Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, kembali dipadati wisatawan pada musim kemarau. Fenomena embun upas atau bun upas yang menyelimuti kawasan Desa Wisata Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, menjadi magnet utama karena menghadirkan pemandangan lapisan kristal es tipis yang menyerupai salju di kawasan tropis Indonesia.

"Embun upas selalu menjadi momen yang ditunggu wisatawan setiap musim kemarau," kata Irene Janti, Brand & Marketing Director Ascott Indonesia.
Ia mengatakan, fenomena tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan pada pagi hari. Menurutnya, meningkatnya minat wisata juga berdampak pada kebutuhan akomodasi di sekitar Banjarnegara dan Dieng.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan embun upas terbentuk akibat pendinginan radiasi yang kuat pada malam hari ketika musim kemarau. Kondisi langit cerah, udara kering, serta berkurangnya tutupan awan membuat panas permukaan bumi cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu di dekat permukaan turun sangat rendah. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, mengatakan fenomena suhu dingin saat musim kemarau merupakan kejadian yang normal di Indonesia, terutama di wilayah dataran tinggi. "Masyarakat tidak perlu khawatir, namun tetap perlu memahami karakteristik cuaca agar dapat beraktivitas dengan aman," ujarnya dalam keterangan resmi BMKG. 

Di kawasan Dieng Kulon, embun upas paling mudah dijumpai di sekitar Kompleks Candi Arjuna dan lahan pertanian kentang. Meski menjadi daya tarik wisata, embun beku tersebut dapat merusak tanaman kentang muda sehingga petani perlu meningkatkan kewaspadaan selama puncak musim kemarau. 

Waktu terbaik menikmati fenomena ini adalah setelah subuh hingga sekitar pukul 06.00 WIB sebelum sinar matahari mencairkan lapisan es. Periode kemunculannya umumnya berlangsung pada Juni hingga September, ketika suhu malam hari mencapai titik terendah. 

Data pariwisata Banjarnegara menunjukkan kunjungan wisatawan meningkat selama musim embun upas. Pada 2023, rata-rata kunjungan bulanan naik sekitar 16,6 persen dibandingkan periode nonmusim. Kenaikan berlanjut menjadi 33,8 persen pada 2024 dan mencapai 84,1 persen pada 2025, meski sebagian data 2025 menggunakan metode imputasi.

Sebagian besar wisatawan datang untuk perjalanan sehari. Namun, sekitar sepertiga pengunjung memilih menginap agar dapat berburu matahari terbit dan embun upas pada pagi hari. Salah satu tamu FOX Harris Hotel & Conventions di Banjarnegara, Sher, mengaku puas dengan pengalaman menginapnya. "Kamarnya luas, bersih, dan nyaman sehingga perjalanan ke Dieng terasa lebih menyenangkan," tulisnya dalam ulasan di TripAdvisor.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore