
Foto arsip yang diambil dari helikopter Kyodo News pada 13 Desember 2025 memperlihatkan Menara Tokyo (Tokyo Tower) dan deretan gedung pencakar langit di pusat Kota Tokyo, Jepang. (Kyodo)
JawaPos.com – Pemerintah Distrik Arakawa di Tokyo mulai menguji penggunaan kamera berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan teknologi pengenal wajah untuk membantu mencari anak-anak dan lansia yang hilang. Namun, kebijakan tersebut memicu perdebatan mengenai perlindungan privasi di ruang publik.
Seperti dilansir Kyodo, Kamis (16/7), sebanyak 33 kamera keamanan berteknologi AI dipasang di tiang-tiang jalan utama dan kawasan sekitar Stasiun JR Nippori sejak April lalu. Kawasan tersebut merupakan salah satu titik yang ramai dilalui komuter, pelajar, dan warga asing.
Sistem itu bekerja dengan membandingkan foto orang yang dilaporkan hilang dengan rekaman kamera. Keluarga cukup menyerahkan foto kepada pemerintah distrik, kemudian AI akan memindai rekaman untuk mencari orang dengan wajah yang paling mirip.
Pemerintah Distrik Arakawa menyebut ini sebagai penggunaan pertama kamera pengenal wajah di ruang terbuka oleh pemerintah daerah di Jepang. Tujuannya adalah mempercepat pencarian anak-anak maupun lansia, terutama penderita demensia, yang dilaporkan hilang.
Setiap tahun, kantor polisi di Arakawa menerima sekitar 100 laporan mengenai anak-anak dan lansia yang hilang. Sebelum teknologi ini digunakan, polisi dan petugas pemerintah harus melakukan pencarian secara langsung di sekitar stasiun dan lokasi lain.
Pemerintah distrik menegaskan rekaman kamera hanya disimpan selama tujuh hari. Akses terhadap data juga dibatasi hanya untuk sejumlah kecil petugas melalui komputer khusus yang ditempatkan di ruang terkunci.
Menurut pemerintah setempat, rekaman tersebut hanya digunakan untuk pencarian orang hilang dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Di bawah kamera juga dipasang pemberitahuan bahwa perangkat tersebut menggunakan teknologi AI dengan pengenal wajah.
Namun, pemberitahuan itu menuai kritik karena ukurannya kecil, sulit dibaca, dan hanya tersedia dalam bahasa Jepang. Kondisi tersebut dinilai kurang memadai mengingat kawasan tersebut juga banyak dikunjungi wisatawan dan warga asing.
Sejumlah warga memberikan tanggapan beragam. Seorang mahasiswi mengaku tidak mengetahui bahwa kamera tersebut menggunakan AI.
"Saya tidak tahu AI digunakan. Menurut saya ini inisiatif yang baik jika bisa membantu menemukan orang yang hilang," ujarnya.

Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Kompak Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina hingga Shell
Profil Valentin Barco! Pemain Argentina Ditempeleng Jude Bellingham Usai Inggris Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
