Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Juni 2026 | 03.16 WIB

8 Aturan Budaya di Turki yang Wajib Diketahui Sebelum ke Sana

Ilustrasi berlibur ke Turki / Magnific - Image

Ilustrasi berlibur ke Turki / Magnific

Jawapos.com - Memahami etiket lokal merupakan kunci utama bagi wisatawan untuk menghindari kesalahpahaman dan mendapatkan pengalaman perjalanan terbaik.

Turki dan Indonesia memiliki kemiripan sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, namun karakteristik budaya sosial keduanya menyimpan perbedaan yang cukup signifikan.

Turki merupakan sebuah republik sekuler dengan spektrum sosial yang sangat beragam, mulai dari masyarakat yang memegang teguh nilai religius hingga komunitas modern yang mengadopsi gaya hidup ala Eropa.

Melansir dari traveloka.com dan stanbulinvestments berikut adalah delapan aturan budaya yang wajib dipahami sebelum berkunjung ke sana :

1. Berpakaian Sopan di Tempat Ibadah

Saat memasuki kawasan masjid, pengunjung wanita diwajibkan menutup kepala menggunakan kerudung, mengenakan pakaian yang menutup lengan serta kaki, dan melepas alas kaki. Sementara itu, kaum pria diwajibkan mengenakan celana panjang yang sopan. Aturan ini bersifat mengikat karena masjid-masjid di Turki aktif digunakan untuk ibadah harian warga lokal. Sebagai hal menarik yang sangat membantu, pihak pengelola masjid biasanya menyediakan fasilitas peminjaman jubah dan kerudung secara gratis di pintu masuk bagi wisatawan yang tidak membawa perlengkapan tersebut.

2. Menerima Tawaran Minum Teh

Mengajak tamu atau pengunjung menikmati secangkir teh (çay) merupakan simbol penghormatan dan keramahan tertinggi di Turki, yang dikenal dengan istilah musafir perverlik. Apabila pemilik toko atau warga lokal memberikan tawaran ini, sebaiknya diterima dengan senyuman hangat meskipun sedang tidak merasa haus, sebab penolakan tanpa alasan mendasar dapat menyinggung perasaan tuan rumah. Menariknya, etiket tradisional mengajarkan bahwa cara memegang cangkir berbentuk tulip yang benar adalah dengan menjepit bagian atas menggunakan ibu jari dan telunjuk, sementara jari lainnya menopang bagian bawah.

3. Menghormati Atatürk dan Simbol Nasional

Masyarakat Turki memiliki rasa nasionalisme dan kebanggaan negara yang sangat tinggi. Mengkritik Mustafa Kemal Atatürk selaku pendiri Republik Turki atau merendahkan simbol negara seperti bendera nasional bukan hanya dianggap tabu secara sosial, melainkan juga dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum pidana. Selama berada di ruang publik, wisatawan disarankan untuk tetap netral dan menghindari perdebatan politik. Bentuk penghormatan yang sangat diapresiasi oleh warga setempat adalah ikut berdiri tegak secara khidmat apabila lagu kebangsaan Istiqlal Marşı sedang dikumandangkan di tempat umum.

4. Mewaspadai Perbedaan Makna Gestur Tangan

Beberapa isyarat tangan yang dianggap biasa di Indonesia dapat memiliki konotasi negatif atau ofensif dalam kebudayaan Turki. Sebagai contoh, gestur "OK" yang dibentuk dengan mempertemukan ujung ibu jari dan telunjuk hingga membentuk lingkaran dianggap sebagai simbol yang sangat vulgar dan tidak sopan. Oleh karena itu, hal menarik yang perlu diterapkan demi menjaga kenyamanan bersama adalah mengutamakan komunikasi verbal yang jelas daripada menggunakan bahasa isyarat apabila merasa ragu terhadap makna implisit dari gerakan tersebut.

5. Mengenali Karakteristik Wilayah

Suasana sosial di Turki sangat bergantung pada wilayah yang dikunjungi, sehingga pakaian dan perilaku harus disesuaikan dengan norma setempat. Kawasan Fatih, Sultanahmet, dan Eyüp di Istanbul, serta kota Konya dikenal sebagai zona konservatif yang sangat Muslim-friendly. Sebaliknya, area Beyoğlu atau kota pesisir seperti Antalya cenderung lebih kosmopolitan dan liberal. Aturan terkait ekspresi kemesraan di depan umum (PDA) juga mengikuti karakteristik ini, di mana PDA relatif ditoleransi di pusat kota besar namun menjadi hal yang sangat tabu di daerah pedesaan.

6. Melakukan Tawar-Menawar di Bazaar

Berbelanja di Grand Bazaar atau pasar tradisional tanpa melakukan proses negosiasi harga dianggap sebagai kekeliruan bagi para pelancong. Aktivitas menawar harga bukan sekadar strategi berbelanja, melainkan sebuah tradisi perdagangan yang telah mengakar selama berabad-abad di Turki. Proses tawar-menawar yang dilakukan secara ramah dengan melempar harga awal sekitar 50% hingga 60% dari harga pembuka justru dipandang sebagai bentuk interaksi sosial yang menyenangkan dan sangat dinantikan oleh para pedagang lokal.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore