
Ilustrasi salah satu destinasi wisata di Eropa yang menjadi jujukan turis. (Istimewa)
JawaPos.com - Destinasi wisata alternatif mulai berkembang pada traveler Indonesia. Selama ini, Paris, London dan Roma selalu menjadi magnet sata mencari pengalaman berlibur. Namun, tren terbaru menunjukkan semakin banyak traveler, khususnya generasi muda, mulai melirik destinasi yang dianggap lebih tenang, otentik, dan cocok untuk healing.
Kota-kota kecil, daerah pegunungan, hingga kawasan pesisir dengan suasana santai kini menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Beberapa destinasi mulai naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Mont Saint-Michel, Prancis, misalnya, menawarkan pulau berbenteng bersejarah yang tampak seperti negeri dongeng dan menjadi salah satu ikon slow travel di Prancis. Porto, Portugal, hadir dengan kombinasi tebing dramatis, anggur khas Douro Valley, dan suasana kota yang lebih santai dibanding Lisbon. Di Eropa Timur, Krakow, Polandia, semakin diminati berkat arsitektur historisnya yang terawat serta atmosfer budaya yang hangat namun tetap bersahabat dengan kantong.
Bagi pencinta alam, Interlaken di Swiss atau Hallstatt di Austria menghadirkan panorama pegunungan dan danau yang ideal untuk healing. Aktivitas seperti hiking ringan, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati pemandangan membuat traveler merasa lebih dekat dengan alam. Sementara itu, Reykjavik, Islandia, menjadi pintu gerbang menuju aurora borealis dan pemandian air panas alami—pengalaman yang semakin dicari oleh traveler yang mendambakan ketenangan.
Data European Travel Commission mencatat sepanjang 2024 kunjungan wisatawan internasional ke Eropa naik signifikan dibanding tahun sebelumnya—terutama ke negara-negara seperti Serbia, Malta, dan Bulgaria yang bukan selalu menjadi destinasi utama. Survei Heyvisa pun mencatat bahwa traveler Indonesia kini semakin banyak menanyakan kota kecil, kawasan pedesaan, dan spot alam, bukan hanya destinasi populer, sejalan dengan tren diversifikasi tujuan wisata di Eropa.
Tubagus, Co-founder Heyvisa, menilai tren ini sebagai refleksi kebutuhan baru wisatawan Indonesia. “Kami melihat semakin banyak klien yang ingin berlibur dengan tempo lebih lambat, mencari tempat untuk rehat, bukan sekadar berfoto di landmark populer.
Destinasi alternatif di Eropa menawarkan ruang bagi traveler untuk menemukan ketenangan, keindahan alam, dan pengalaman lokal yang lebih otentik. Tentu, visa tetap menjadi pintu utama untuk mewujudkan rencana ini, dan di Heyvisa kami memastikan seluruh proses administrasi bisa berjalan lancar agar klien fokus pada momen perjalanan,” jelasnya.
Heyvisa mencatat peningkatan aplikasi visa Schengen dari kalangan keluarga muda, pekerja profesional, dan traveler solo. Keluarga cenderung mencari kota ramah anak dengan aktivitas santai, sementara generasi muda memilih destinasi alam untuk healing sekaligus konten media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa liburan ke Eropa tidak lagi hanya soal mengunjungi kota besar. Bagi traveler Indonesia, healing kini berarti menemukan sudut-sudut baru yang memberi ruang untuk beristirahat dan merefleksi diri. Dengan persiapan dokumen yang tepat, termasuk visa Schengen multi-entry, pengalaman menjelajahi hidden gem Eropa semakin mudah diwujudkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022