Burung Maleo, hewan endemik sulawesi yang bisa dijumpai di kawasan wisata Hungayono, Bone Bolango, Gorontalo (Dok. jadesta.kemenparekraf.go.id)
JawaPos.com – Destinasi wisata ekologi Hungayono berada di Desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Kawasan ini dikenal dengan pesona hutan yang asri, padang alang-alang yang luas, gua kapur, hingga gua sauna alami.
Keunikan Hungayono tidak hanya itu, pengunjung juga bisa menjumpai berbagai satwa endemik khas Sulawesi, mulai dari tarsius, burung maleo, hingga beragam jenis burung langka lainnya.
Sanctuary Maleo Hungayono
Salah satu daya tarik utama Hungayono adalah keberadaan Sanctuary Maleo Hungayono. Tempat ini menjadi pusat konservasi untuk melindungi burung maleo, satwa endemik Sulawesi yang populasinya kian terancam.
Untuk menuju Sanctuary Maleo Hungayono wisatawan dapat menempuh perjalanan sekitar satu jam dari pusat Kota Gorontalo atau kurang lebih dua jam dari Bandara Jalaluddin. Perjalanan dilanjutkan dengan trekking ringan sekitar 45 menit menuju camp Hungayono.
Jalur ini bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat hingga desa Tulabolo, sebelum akhirnya dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Di Sanctuary Maleo Hungayono, pengunjung juga bisa melihat langsung perilaku burung maleo, terutama saat mereka bertelur. Aktivitas ini biasanya terjadi antara pukul 05.00 hingga 10.00 pagi dan dapat diamati dari pos pengamatan berupa menara pandang.
Tak hanya itu, wisatawan juga berkesempatan menyaksikan proses pemindahan telur maleo ke bak penetasan hingga pelepasan anak burung ke habitatnya. Selain atraksi konservasi, Hungayono juga menawarkan aktivitas wisata alam lain seperti menjelajah Goa Kapur, menikmati panorama dari puncak Batu Alang-alang, menyusuri Sungai Bone untuk berenang, hingga bird watching dan jungle trekking.
Semua aktivitas ini didukung fasilitas penunjang, seperti jalan setapak, shelter, pondok kerja, menara pengintai, hingga hatchery untuk penetasan telur maleo. Menariknya, pengelolaan Sanctuary Maleo Hungayono kini melibatkan masyarakat sekitar.
Salah satu program andalan yang sedang dikembangkan adalah "Foster Parent" atau orang tua asuh maleo. Program ini mengajak masyarakat, baik lokal maupun internasional, untuk ikut serta dalam upaya pelestarian satwa endemik ini.
Inisiatif itu diresmikan pada 20 Juli 2018 bersamaan dengan peresmian Sanctuary Tambun dan Muara Pusian. Saat itu, Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc dan Bupati Bolaang Mongondow Dra. Hj. Yasti Soepredjo menjadi orang tua asuh maleo pertama.
Bertemu Hewan Endemik Babirusa
Dilansir dari tourguidesulawesi.com, Babirusa merupakan salah satu hewan endemik khas Indonesia yang hanya dapat ditemukan dan hidup di Pulau Sulawesi, Pulau Togean, dan Pulau Buru.
Tercatat ada 4 jenis Babirusa yang pernah hidup di dunia, namun hingga saat ini hanya 3 jenis saja yang dapat ditemukan dan diamati, yaitu Babirusa Sulawesi (Babyrousa celebensis), Babirusa Togean (Babyrousa togeanensis) dan Babirusa Buru (Babyrousa babyrussa).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022