
PENGANAN SEHAT: Anggota kelompok kuliner bundo di kawasan Seribu Rumah Gadang (SRG) Solok Selatan Sumatera Barat memamerkan kemasan dendeng pucuk ubi.
JawaPos.com - Jika berwisata ke kawasan Seribu Rumah Gadang (SRG) Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, pastikan anda mencicipi dendeng pucuk ubi atau singkong.
Tidak lengkap rasanya sepulang dari kawasan SRG tanpa menyantap dendeng pucuk ubi yang tidak pakai daging. Ya, meski baru dipromosikan, kudapan khas kelompok kuliner bundo kawasan SRG ini sudah sangat populer.
Konon, ide membuat dendeng pucuk ubi ini berawal dari kunjungan salah seorang wisatawan ke SRG. Pengunjung ini menanyakan apa betul masakan khas di kawasan SRG.
''Saya punya warung nasi di kawasan SRG. Lantas, disarankan oleh pengunjung itu untuk membuat masakan khas. Dari situ, saya diskusikan dengan beberapa ibu-ibu untuk membuat panganan khas. Munculah ide membuat dendeng pucuk ubi dan itu kami sepakati bersama,'' kata ketua kelompok kuliner bundo Yenafrida kepada JawaPos.com, Jumat (1/12).
Apalagi kata Yenafrida, pucuk ubi atau pucuk paranci tidak sulit untuk didapatkan di kawasan tersebut. Namun, kala itu dirinya belum mengetahui betul cara mengolahnya menjadi dendeng.
Setelah terus mempelajari bersama-sama, akhirnya kelompok ini berhasil memproduksi dendeng pucuk ubi yang kini semakin dikenal.
''Atas saran KKK Warsi, kami membentuk kelompok kuliner ini awal Januari 2017 lalu dengan anggota lebih 20 orang,'' kata buk Tin begitu sapaan akrab sehari-hari Yenafrida.
Cara membuat dendeng pucuk ubi ini terlebih dulu merebus pucuk ubi sekitar 2 jam. Setelah matang, didinginkan dahulu. Lalu, di iris kecil dan dicampur dengan telor, tepung terigu, garam plus kaldu ayam atau sapi. Seterusnya di aduk dan digoreng, jadilah dia dendeng pucuk ubi.
Kini, sedikitnya 40 bungkus setiap harinya, dendeng pucuk ubi laris dipasaran. Harga satu kemasan dendeng pucuk ubi berat 200 gram mencapai Rp 20.000.
''Soal pemasaran, kami baru menyasar wisatawan SRG dan masyarakat lokal. Tapi, juga dibantu pasarkan KKI Warsi,'' terang buk Tin.
Koordinator Komunitas KKI Warsi Welly Febriani menjelaskan, dalam pembinaan kepada kelompok kuliner bundo, pihaknya membantu dalam pemasaran dan pembuatan kemasan.
''Kami juga bantu jual saat ada pertemuan-pertemuan, kemudian kami pasarkan lewat media sosial,'' ujar Welly.
Selanjutnya, agar lebih memiliki nilai jual dirinya mencoba untuk mendesain kemasan yang sebelumnya hanya menggunakan kantong plastik biasa diganti dengan kantor plastik dengan desain menggunakan foto produk.
''Agar lebih menarik, karena dendeng pucuk ubi ini akan dibeli wisatawan, selain rasa tentu kemasan juga harus menarik,'' pungkasnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
