Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 11.02 WIB

Tambak dan Mangrove Temani Perjalanan

PESONA KEINDAHAN ALAM: Penyeberangan di Sungai Cemara yang menghubungkan Pulau Mengare ke Benteng Lodewijk dan Wisata Alam Mengare. - Image

PESONA KEINDAHAN ALAM: Penyeberangan di Sungai Cemara yang menghubungkan Pulau Mengare ke Benteng Lodewijk dan Wisata Alam Mengare.

Selain Bawean, Gresik memiliki Pulau Mengare. Manarie –sebutannya pada zaman kolonial– adalah daratan kecil yang terbentuk akibat endapan Bengawan Solo lawas.



BERBAGAI literatur ilmiah menuliskan bahwa Mengare dulu merupakan sebuah pulau tersendiri yang terpisah dengan Pulau Jawa. Terletak di pesisir timur Gresik, tepatnya di muara lama Bengawan Solo. Pulau itu terbentuk dari gelombang sedimen yang dibawa arus sungai.


Dari waktu ke waktu, garis pantai maju hingga 10–15 meter per tahun. Akhirnya, Mengare menyatu dengan Pulau Jawa. ’’Mengare memang desa endapan. Hanya 10 persen daratannya dan 90 persennya berupa tambak-tambak,” jelas Kepala Desa Tanjungwidoro Mastain yang menemani Jawa Pos berkeliling Mengare.


Secara administratif, Pulau Mengare termasuk wilayah Kecamatan Bungah dengan tiga desa di dalamnya. Yakni, Desa Watuagung, Tanjungwidoro, dan Kramat. Total penduduk ketiga desa itu mencapai 10 ribu jiwa. Penduduknya dikenal sebagai nelayan dan petambak yang ulet.


Akses menuju ke Mengare dihubungkan sebuah jalan paving sejauh 11,6 kilometer dari jalan raya di Desa Sembayat, Bungah. Atau, dari pusat Kota Gresik, jaraknya mencapai 26,4 kilometer.


Jalannya berliku-liku. Udaranya segar. Di sepanjang jalan, pengunjung dimanjakan dengan pemandangan tambak yang asri. Banyak pohon mangrove yang berjejer di kiri dan kanan jalan. Sesekali aneka burung terbang rendah di tengah tambak. Namun, jangan sampai terlena dengan pemandangan asyik itu. Pengguna jalan harus tetap berkonsentrasi. Lebar bahu jalan menuju ke Pulau Mengare hanya 4–5 meter. ’’Kendaraan, terutama roda empat, sering nyungsep ke tambak. Bahu jalan kurang lebar,” ungkap Mastain.


Mengare dikelilingi dua aliran sungai yang cukup besar. Yaitu, Sungai Cemara dan Sungai Kramat. Dari berbagai sumber ilmiah, Sungai Cemara merupakan muara Bengawan Solo yang lama. Lebarnya mencapai 18 meter.


Namun, pada 1800-an, dengan memanfaatkan teknologi sipil, pemerintah kolonial Belanda mengalihkan muara Bengawan Solo dari Sungai Cemara ke Ujungpangkah. Di desa Bendanten, Kecamatan Bungah, Belanda membuat kanal raksasa sehingga aliran Bengawan Solo beralih ke Ujungpangkah. Adapun lebar Sungai Kramat mencapai 12 meter. Sungai tersebut memisahkan Mengare dengan daratan Pulau Jawa.


Beragam legenda mewarnai cerita munculnya Pulau Mengare. Kisah yang paling legendaris adalah cerita pelarian putri Keraton Solo ke Mengare. (*/c23/dio)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore