
Ilustrasi: Logo Huawei. (Nikkei)
JawaPos.com - Bisnis smartphone Huawei mendapat ujian berat. Akibat perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS), Huawei kini 'dicerai' Google untuk urusan sistem operasi Android dan beberapa dukungan lainnya. Belum usai, kini vendor teknologi lainnya juga menyusul langkah Google dan membuat Huawei kembali 'tertimpa tangga'.
Sebagaimana JawaPos.com kutip dari 9To5Google, Senin (27/5), seiring berjalannya waktu, efek dari larangan AS terhadap Huawei semakin memburuk. Baru-baru ini terungkap bahwa SD Associaton telah melarang Huawei dan secara efektif menghilangkan kapabilitas perusahaan untuk menggunakan kartu MicroSD atau slot SD di salah satu produknya.
SD Associaton adalah organisasi nirlaba yang mengontrol standar untuk produk SD Card. Ini menyangkut semuanya, dari kartu SD ukuran penuh, standar, hingga kartu MicroSD smartphone yang beredar di seluruh dunia. Termasuk juga desain port atau slot yang membaca kartu-kartu tersebut. Jika sebuah perusahaan bukan anggota asosiasi, maka mereka tidak dapat secara resmi menghasilkan produk dengan standar ini.
Sekarang, Huawei sudah tidak terdaftar di SD Association. Tidak lagi muncul di daftar anggota. Berbicara kepada Android Authority, SD Associaton mengonfirmasi bahwa Huawei telah dihapus dari daftar anggota sesuai pesanan pemerintah AS. Meski begitu, Huawei menyebut bahwa hal tersebut tidak akan terlalu berdampak bagi produk mereka.
Diketahui, Huawei saat ini telah pindah dari menggunakan kartu SD pada smartphone mereka selama beberapa tahun. Sebagai gantinya, perangkat Huawei, terutama flagships, telah mengadopsi format NanoMemory, yakni perangkat penyimpanan yang lebih kecil dari kartu MicroSD. Namun begitu, mereka menolak berkomentar lebih lanjut.
Photo
Ilustrasi: MicroSD dan slot penyimpanannya di smartphone. (Copperbellmedia)
Cobaan Huawei di bisnis smartphone-nya belum usai. Sebelumnya Google bersama produsen chipset seperti Intel, Qualcomm, dan Broadcomm memutuskan hubungan dengan Huawei. Raksasa teknologi Tiongkok itu pun kini didepak dari SD Associaton. Hal tersebut tentu membuat Huawei semakin terdesak. Bahkan perusahaan desainer chipset ARM diketahui baru-baru ini juga menghentikan hubungan bisnisnya dengan Huawei.
Dikutip dari laman TheVerge, tanpa adanya lisensi dari ARM, Huawei tidak akan dapat melanjutkan pembuatan prosesornya sendiri dengan memakai desain milik ARM dan perusahaan semikonduktor HiSilicon, produsen chipset Huawei dengan nama Kirin.
ARM sendiri merupakan perusahaan berbasis di Inggris yang dimiliki oleh grup SoftBank asal Jepang. Namun begitu, ARM mengatakan bahwa chip-nya merupakan teknologi asal AS. Perusahaan selama ini juga mengembangkan beberapa desain prosesor di Austin, Texas, dan San Jose, California, yang masuk ke wilayah dan kewenangan AS.
Terancam Tak Bisa Pakai Wifi
Belum berhenti di situ, Huawei juga dikabarkan tak akan lagi dapat menggunakan Wifi pada perangkat smartphone-nya. Hal tersebut setelah Wifi Alliance atau aliansi Wifi internasional untuk sementara mengakhiri hubungan dengan Huawei. Lagi-lagi ini merupakan buntut pencekalan Huawei oleh AS.
Diberitakan AndroidHeadlines, Wifi Alliance, konsorsium yang terutama terdiri dari perusahaan teknologi AS mengumumkan bahwa mereka sementara mencabut keanggotaan Huawei. Artinya, Huawei tidak akan dapat memengaruhi keputusan mengenai standar teknologi nirkabel di masa depan.
Pencekalan dari aliansi ini berdampak pada Huawei yang tidak akan dapat menggunakan standar Wifi. Konsekuensinya adalah Huawei tidak bisa ikut memutuskan arah perkembangan Wifi ke depannya. Jika berlangsung terus menerus, tak menutup kemungkinan handset smartphone Huawei di masa depan tak bisa menggunakan teknologi Wifi yang perangkat dan sertifikasinya dikeluarkan oleh Wifi Alliance.
Bisa saja Huawei dan konsorsium Tiongkok lainnya membuat aliansi Wifi sendiri. Namun tampaknya, tanpa keikutsertaan dengan Wifi Alliance, Huawei akan sulit bersaing di pasar global.
Sementara untuk Indonesia sendiri, hingga kini pihak Huawei mobile masih belum banyak bicara. Namun begitu, pihak Huawei mobile di Indonesia menyatakan dalam akun Twitter resminya bahwa untuk konsumen tidak perlu khawatir. Pihaknya sesumbar bahwa Huawei telah memberikan kontribusi yang substansial untuk pengembangan dan pertumbuhan Android di seluruh dunia.
"Sebagai salah satu mitra global utama Android, kami telah bekerja sama dengan sangat erat dengan platform open-source mereka untuk mengembangkan ekosistem yang bermanfaat bagi pengguna dan industri. Huawei akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada yang mencakup yang telah dijual atau yang masih ada sebagai stok secara global," jelas pihak Huawei Indonesia.
Pihaknya juga mengaku akan akan terus membangun ekosistem perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan untuk memberikan pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
