Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Juli 2026 | 02.04 WIB

Tiongkok Uji Perangkat Pemantau Otot Astronot di Orbit, Bisa Pantau Kondisi Secara Real-Time

Tim peneliti Tiongkok berhasil menyelesaikan uji coba di orbit terhadap perangkat pemantau elektromiografi (electromyography/EMG) yang dirancang untuk memantau kondisi otot astronot secara real-time. (China Daily) - Image

Tim peneliti Tiongkok berhasil menyelesaikan uji coba di orbit terhadap perangkat pemantau elektromiografi (electromyography/EMG) yang dirancang untuk memantau kondisi otot astronot secara real-time. (China Daily)

JawaPos.com - Tim peneliti Tiongkok berhasil menyelesaikan uji coba di orbit terhadap perangkat pemantau elektromiografi (electromyography/EMG) yang dirancang untuk memantau kondisi otot astronot secara real-time. Teknologi ini diharapkan menjadi terobosan dalam mendukung perlindungan kesehatan awak misi antariksa sekaligus mengembangkan sistem interaksi manusia-mesin di luar angkasa.

Seperti dilansir dari China Daily, hasil uji coba tersebut diumumkan pada Senin melalui misi Pesawat Uji Kargo Qingzhou. Perangkat EMG itu dikembangkan oleh tim dari Shenzhen Institutes of Advanced Technology (SIAT) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, bekerja sama dengan Shenzhen University of Advanced Technology (SUAT).

Pesawat Uji Kargo Qingzhou diluncurkan pada 30 Maret 2026 dengan membawa lima proyek penelitian medis. Salah satunya adalah perangkat pemantau EMG yang dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan rumah sakit luar angkasa masa depan pertama di dunia yang diusulkan oleh SUAT.

Pemantauan kesehatan otot menjadi tantangan penting dalam misi luar angkasa jangka panjang. Dalam kondisi mikrogravitasi, astronot mengalami penurunan beban pada otot sehingga kontraksi serat otot menjadi lebih jarang. Kondisi tersebut mempercepat pemecahan protein dan berpotensi menyebabkan atrofi atau penyusutan otot.

Hingga kini, pemantauan kondisi otot di luar angkasa masih memiliki berbagai keterbatasan. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) umumnya menggunakan pengujian kekuatan otot dan pencitraan ultrasonik, sementara stasiun luar angkasa Tiongkok mengandalkan pengukuran gaya operasional serta metode optik untuk menilai atrofi otot.

Namun, metode-metode tersebut dinilai masih memiliki biaya tinggi, belum mampu melakukan pemantauan secara kontinu, serta belum dapat merekam kondisi otot secara langsung.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim yang dipimpin peneliti SIAT, Wang Yishan, mengembangkan sistem pemantauan berbasis sinyal elektromiografi. Teknologi ini memanfaatkan deteksi sinyal saraf untuk menganalisis kondisi otot secara dinamis melalui pengumpulan dan analisis data EMG secara real-time.

Perangkat tersebut dibangun menggunakan chip deteksi sinyal saraf yang sebelumnya telah dikembangkan oleh tim peneliti. Selanjutnya, perangkat dimodifikasi agar mampu beroperasi di lingkungan luar angkasa yang memiliki kondisi ekstrem.

Sebelum diterbangkan, perangkat menjalani serangkaian pengujian di Bumi, termasuk uji getaran, uji siklus termal, serta pengujian kompatibilitas dengan sistem pesawat antariksa. Seluruh tahapan tersebut dilakukan untuk memastikan stabilitas dan keandalan perangkat saat digunakan di orbit.

Setelah Pesawat Uji Kargo Qingzhou mencapai orbit, tim peneliti melaksanakan pengujian dari jarak jauh melalui kendali dari Bumi. Uji coba mencakup simulasi proses pengumpulan, penyimpanan, hingga transmisi data.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore