Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Agustus 2026 | 04.18 WIB

Meta Glasses Laris, Privasi Publik Terancam Jadi Korban

Ilustrasi kacamata Meta yang memicu kekhawatiran tentang erosi privasi akibat teknologi yang semakin sulit terdeteksi (The Guardian) - Image

Ilustrasi kacamata Meta yang memicu kekhawatiran tentang erosi privasi akibat teknologi yang semakin sulit terdeteksi (The Guardian)

JawaPos.com - Meta smart glasses atau kacamata pintar Meta yang dikembangkan bersama Ray-Ban dan Oakley sedang mengubah cara orang berinteraksi dengan kamera. Perangkat yang tampak seperti kacamata biasa itu telah terjual sekitar 7 juta unit pada 2025, hampir tiga kali lipat penjualan gabungan 2023 dan 2024. Namun, kesuksesan tersebut dibayangi persoalan baru: orang dapat direkam tanpa mereka sadari.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (20/8/2026), sejumlah orang mengaku direkam secara diam-diam di rumah, tempat kerja, konser, hingga ruang publik. Salah satu kasus terjadi pada Brek Mettra di Utah, yang baru mengetahui dirinya dan dua anaknya direkam ketika seorang penjual pakaian vintage mengunggah pertemuan mereka di media sosial.

"Saya benar-benar merasa privasi saya dilanggar," kata Mettra. Dia mengatakan, jika mengetahui dirinya sedang direkam, "saya bisa mengatakan tidak atau pergi jika Anda akan melakukan itu."

Persoalan menjadi lebih serius karena lampu LED yang dirancang Meta sebagai penanda perekaman ternyata dapat dimodifikasi. Pemilik Ghost Metas, salah satu jasa yang menonaktifkan lampu tersebut, mengaku telah memodifikasi sekitar 100 pasang dengan waktu pengerjaan 15–20 menit per unit.

"Di ruang publik, menurut saya kita sudah tidak punya privasi lagi," ujarnya. Meta menyatakan LED tidak dapat dimatikan dan kamera akan dinonaktifkan jika lampu ditutup atau dirusak.

Di sisi lain, fungsi kamera yang nyaris tidak terlihat justru menjadi bagian dari daya tarik produk. Mark Zuckerberg sebelumnya menyebut, "Janji kacamata Meta adalah mempertahankan rasa kehadiran yang Anda miliki ketika bersama orang lain." Meta memasarkan perangkat itu sebagai teknologi yang memungkinkan pengguna merekam kehidupan tanpa harus mengeluarkan ponsel. 

Daya tarik itu kemudian diperluas lewat kolaborasi dengan figur publik terkenal. Pada Juni, Meta berkolaborasi dengan Kylie Jenner untuk mempromosikan kacamata AI seharga USD 399 atau sekitar Rp7,11 juta dengan kurs Rp17.820 per dolar AS, yang dapat memberikan respons menggunakan suara Kylie.

Namun, penggunaan di lapangan menunjukkan konsekuensi yang jauh lebih problematis. Sejumlah pria menggunakan kacamata tersebut untuk merekam perempuan di jalan, kampus, pantai, bar, hingga festival musik, kemudian mengunggah interaksi itu sebagai konten. Di Inggris, sejumlah restoran, pub, dan teater telah melarang kacamata tersebut, sementara pengadilan di Inggris dan Wales juga melarangnya di gedung pengadilan.

Masalahnya tidak berhenti pada perekaman. Investigasi media Swedia menemukan rekaman dari kacamata Meta disimpan dan ditinjau pekerja moderator konten di Kenya, termasuk video yang memperlihatkan orang ke toilet, menanggalkan pakaian, bahkan aktivitas seksual. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore