Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Agustus 2026 | 19.28 WIB

Komdigi: Kampus Jangan Jadikan AI Pengganti Proses Berpikir Mahasiswa

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)

JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan metode pembelajaran. Namun, pemanfaatan AI di lingkungan akademik dinilai tidak boleh menghilangkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir secara mandiri dan kritis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan, kampus perlu menempatkan AI sebagai sarana pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan intelektual mahasiswa.

Hal itu disampaikan Nezar dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), yang berlangsung secara daring dari Jakarta Pusat, dikutip Senin (10/8).

Menurut Nezar, posisi AI dalam kehidupan manusia kini telah mengalami perubahan signifikan. Teknologi tersebut tidak lagi hanya digunakan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi turut memengaruhi cara manusia memperoleh pengetahuan, berpikir, hingga menentukan pilihan.

“Generative AI yang sekarang tidak lagi sekadar alat bantu produktivitas kita, tapi juga telah menjadi infrastruktur kognitif yang membentuk cara manusia berpikir, belajar, dan mengambil keputusan,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu memikirkan kembali pendekatan pendidikan di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Nezar menilai, pengembangan kebijakan tata kelola AI di kampus harus disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan sekaligus berlandaskan nilai.

Ia kemudian mendorong dosen MKWK melakukan tiga langkah dalam merespons perkembangan teknologi tersebut. Ketiganya meliputi perubahan pendekatan pedagogi, peningkatan literasi AI yang berorientasi pada nilai, serta penguatan kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi.

“Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” ujar Wamen Nezar.

Dalam pandangannya, mahasiswa juga perlu dibekali pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknologi AI. Kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai bagaimana teknologi tersebut bekerja, termasuk potensi bias dan keterbatasannya.

Editor: Kuswandi
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore