Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Agustus 2026 | 15.36 WIB

Wamenkomdigi Nezar: Algoritma Kejar Atensi, Jurnalisme Harus Rebut Kembali Kepercayaan Publik

Wamenkomdigi, Nezar Patria. (Dok. Komdigi) - Image

Wamenkomdigi, Nezar Patria. (Dok. Komdigi)

JawaPos.com – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai tantangan yang dihadapi dunia informasi saat ini tidak lagi terbatas pada derasnya arus konten digital, tetapi juga pada bagaimana platform digital membentuk cara masyarakat memandang suatu isu.

Di tengah dominasi algoritma media sosial yang berorientasi pada perhatian pengguna serta perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang mampu memproduksi berbagai jenis konten dalam waktu singkat, Nezar menegaskan jurnalisme profesional tetap memegang peran penting sebagai penjaga fakta dan kepercayaan publik.

Ia mengatakan media arus utama perlu semakin memperkuat prinsip-prinsip jurnalistik melalui akurasi, verifikasi, etika, dan kredibilitas agar mampu menjadi rujukan masyarakat di tengah melimpahnya informasi digital.

"Jurnalisme harus mendapatkan satu momentum yang tepat untuk bisa kembali merebut perhatian. Karena algoritma dari platform yang dipakai untuk menyebarkan informasi bekerja menarik atensi kita, akan tetapi Jurnalisme dibutuhkan sebagai ruang penjernih informasi," jelas Wamen Nezar di Surabaya, dikutip Minggu (2/8).

Nezar juga menyoroti bahwa perkembangan AI membawa tantangan baru bagi industri media. Teknologi tersebut kini mampu menghasilkan artikel, gambar, maupun video yang tampak meyakinkan, termasuk konten manipulatif seperti deepfake, sehingga meningkatkan potensi penyebaran disinformasi.

"Kondisi itu membuat penyebaran disinformasi semakin cepat dan semakin sulit dikenali masyarakat apabila tidak diimbangi dengan praktik jurnalisme yang profesional," ujarnya.

Menurut Nezar, persoalan utama di ruang digital bukan hanya banyaknya informasi yang beredar, melainkan cara algoritma membentuk perhatian dan persepsi publik melalui fenomena echo chamber dan filter bubble. Kondisi itu membuat masyarakat berisiko terus menerima informasi yang seragam tanpa kesempatan memperoleh sudut pandang lain untuk menguji kebenarannya.

"Yang kita hadapi hari ini bukan hanya kompetisi informasi, tetapi juga kompetisi membentuk persepsi. Karena itu, masyarakat membutuhkan media yang bekerja berdasarkan verifikasi, bukan sekadar mengejar viralitas," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nezar juga menekankan pentingnya peran media lokal dalam menjaga kualitas ekosistem informasi nasional. Menurutnya, media lokal memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga mampu menangkap berbagai persoalan di tingkat daerah sejak dini sekaligus menyajikan informasi yang lebih kontekstual.

"Media lokal menghadirkan percakapan publik yang lebih autentik karena memiliki kedekatan dengan masyarakat. Dari media lokal kita bisa membaca berbagai persoalan secara lebih utuh sebelum berkembang menjadi isu yang lebih besar," jelasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore