Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Juli 2026 | 13.48 WIB

Komdigi: Diplomasi Chip Jadi Kunci Indonesia Rebut Posisi Strategis di Era AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi) - Image

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (Dok/Komdigi)

JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai Indonesia perlu menjadikan diplomasi chip serta pengelolaan mineral kritis sebagai strategi utama dalam menghadapi persaingan global di bidang kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi, tetapi juga mampu memperoleh manfaat strategis berupa akses terhadap kapasitas komputasi, alih teknologi, hingga kerja sama manufaktur untuk memperkuat industri nasional.

"Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur," tegas Wamen Nezar saat berbicara dalam Jakarta Geopolitical Forum di Jakarta Selatan, dikutip Jumat (10/7).

Nezar menjelaskan, Indonesia memiliki posisi yang menguntungkan karena menguasai sejumlah komoditas mineral kritis yang menjadi kebutuhan utama dalam pengembangan berbagai teknologi modern, termasuk industri AI.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, yang memberi kami posisi yang kuat dalam rantai pasokan baterai global. Bahkan, tanah air adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih.

“Selain itu, kami adalah eksportir bijih tembaga terbesar ketiga, mineral penting untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data yang menampung infrastruktur AI. Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis kami. Hal ini memungkinkan kami untuk melampaui sekadar menjadi konsumen teknologi dan menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI global," jelas Wamen Nezar.

Di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Nezar menegaskan Indonesia perlu membangun strategi sendiri melalui pendekatan diplomasi digital yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Menurutnya, terdapat empat modal utama yang dapat menjadi fondasi strategi tersebut, yaitu kepemilikan mineral kritis, besarnya pasar digital Indonesia sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, bonus demografi, serta potensi pengembangan kapasitas komputasi nasional.

Namun, seluruh potensi tersebut harus diiringi dengan penguatan sumber daya manusia, pengelolaan data, serta pembangunan kemampuan industri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi ataupun pemasok bahan baku.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore