Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juni 2026 | 21.49 WIB

Mengapa AMD Ingin Industri AI Tinggalkan Perang Benchmark?

CEO AMD Lisa Su saat mengumumkan AMD Ryzen AI 400 Series di CES 2026. (AMD) - Image

CEO AMD Lisa Su saat mengumumkan AMD Ryzen AI 400 Series di CES 2026. (AMD)

JawaPos.com – Selama bertahun-tahun industri semikonduktor terbiasa mengukur performa prosesor melalui benchmark. Perbandingan biasanya dilakukan berdasarkan jumlah core, kecepatan clock, atau skor pengujian tertentu.

Namun AMD menilai pendekatan tersebut mulai kehilangan relevansinya di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perusahaan mengusulkan cara pandang baru yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata pelanggan data center.

Dalam dokumen teknis terbarunya, AMD memperkenalkan konsep rack-level performance atau performa tingkat rak. Konsep ini mengukur berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu rak data center dengan batas daya dan pendinginan yang sama.

Menurut AMD, pelanggan sebenarnya tidak membeli benchmark. Mereka membeli infrastruktur yang harus bekerja dalam keterbatasan ruang fisik, listrik, pendinginan, serta biaya operasional.

"Pelanggan data center tidak membeli angka benchmark semata. Mereka membeli infrastruktur yang harus beroperasi dalam keterbatasan daya listrik, sistem pendingin, ruang data center, kompatibilitas software, serta kebutuhan operasional sehari-hari," tulis AMD.

AMD menilai perbandingan berdasarkan satu prosesor atau satu soket tidak cukup menggambarkan kapasitas sistem secara keseluruhan. Dalam lingkungan produksi AI, yang lebih penting adalah jumlah layanan yang dapat dijalankan dalam satu rak data center.

Perusahaan menjelaskan bahwa data center modern dibangun berdasarkan rak server. Setiap rak memiliki batas daya listrik dan kapasitas pendinginan yang tidak bisa dilampaui begitu saja.

Karena itu, pertanyaan yang dianggap lebih relevan bukan lagi seberapa cepat sebuah chip bekerja. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar kapasitas komputasi yang dapat ditempatkan dalam satu rak dengan konsumsi daya tertentu.

AMD menggunakan simulasi rak berdaya 100 kilowatt sebagai dasar analisisnya. Seluruh konfigurasi dinormalisasi pada platform dua prosesor atau 2P agar mencerminkan kapasitas yang benar-benar dapat diterapkan pelanggan.

Menurut AMD, pendekatan ini lebih sesuai dengan kebutuhan era AI. Sebab perusahaan kini tidak hanya menjalankan model AI, tetapi juga berbagai layanan pendukung seperti basis data, middleware, cache, hingga API yang harus berjalan secara bersamaan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore