Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Juni 2026 | 13.30 WIB

Tiongkok Luncurkan Pusat Data Bawah Laut Bertenaga Angin Pertama di Dunia, Babak Baru Infrastruktur AI Global

Pusat data bawah laut bertenaga angin saat dibangun di galangan kapal sebelum dioperasikan di lepas pantai Shanghai, Tiongkok (The Guardian) - Image

Pusat data bawah laut bertenaga angin saat dibangun di galangan kapal sebelum dioperasikan di lepas pantai Shanghai, Tiongkok (The Guardian)

JawaPos.com - Persaingan kecerdasan buatan (AI) global tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan model AI paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang mampu membangun infrastruktur digital paling efisien dan berkelanjutan. Tiongkok kini mengambil langkah baru dengan mengoperasikan pusat data bawah laut pertama di dunia yang sepenuhnya ditenagai pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di pesisir Shanghai.

Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari strategi Tiongkok menghadapi lonjakan kebutuhan energi akibat perkembangan AI. Proyek Shanghai Lingang Undersea Datacentre Demonstration Project merupakan kolaborasi antara HiCloud Technology dan China Communications Construction Company (CCCC), badan usaha milik negara Tiongkok, dengan kapasitas 24 megawatt.

Dilansir dari The Guardian, Rabu (10/6/2026), pusat data itu mulai beroperasi pada Mei dan ditempatkan lebih dari 10 kilometer dari pesisir Shanghai, sekitar 10 meter di bawah permukaan laut. Fasilitas tersebut memperoleh pasokan listrik dari ladang turbin angin lepas pantai di sekitarnya. Pemerintah Tiongkok menyebut sistem itu mampu memangkas konsumsi energi lebih dari seperlima dibandingkan pusat data konvensional di daratan karena memanfaatkan pendinginan alami air laut.

Keunggulan itu hadir ketika industri AI global menghadapi tantangan besar terkait kebutuhan energi dan air untuk menopang infrastruktur digitalnya. Pada pusat data konvensional, sekitar 25-40 persen konsumsi listrik digunakan untuk sistem pendingin server. Dengan memanfaatkan air laut sebagai pendingin alami, pusat data bawah laut dapat mengurangi kebutuhan energi sekaligus menekan penggunaan air tawar.

Persoalan konsumsi air juga menjadi perhatian dunia. Lembaga riset United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperingatkan jejak penggunaan air pusat data berpotensi mencapai 9,3 triliun liter pada 2030, setara kebutuhan rumah tangga tahunan sekitar 1,3 miliar penduduk Afrika Sub-Sahara. Dalam konteks itu, pusat data bawah laut dipandang sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Langkah Shanghai juga melanjutkan inovasi HiCloud yang pada 2023 telah mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertama di Pulau Hainan. Namun, proyek terbaru ini menjadi yang pertama di dunia yang terhubung langsung dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai. Kawasan Lingang sendiri merupakan zona perdagangan bebas dan pusat teknologi tinggi yang juga menjadi lokasi pabrik gigafactory Tesla.

Meski demikian, Tiongkok bukan negara pertama yang menguji konsep tersebut. Microsoft pernah meluncurkan proyek percontohan pusat data bawah laut di Kepulauan Orkney, Skotlandia, pada 2018. Dua tahun kemudian, perusahaan itu melaporkan hasil yang menjanjikan, tetapi pengembangannya tidak berlanjut ke tahap komersial.

Pakar dari Hong Kong Polytechnic University, Dr. Hanjiang Dong, menilai keberhasilan Tiongkok terletak pada kemampuan menggabungkan kebutuhan pasar, kapasitas industri, teknologi kelautan, dan dukungan kebijakan.

"Microsoft lebih dahulu membuktikan konsepnya, sedangkan Tiongkok melangkah lebih jauh menuju penerapan komersial karena mampu menyatukan permintaan pasar, kemampuan industri, rekayasa kelautan, dan dukungan kebijakan lebih cepat dalam sebuah proyek komersial," ujarnya.

Pemerintah Tiongkok sendiri menjadikan AI sebagai salah satu pilar utama strategi pembangunan ekonomi. Tahun lalu, pemerintah merilis rencana aksi AI yang mendorong percepatan pembangunan pusat data dan berkomitmen meningkatkan pasokan energi bersih bagi infrastruktur AI secara signifikan pada 2030. Proyek Shanghai Lingang menghabiskan investasi 1,6 miliar yuan atau sekitar Rp4,25 triliun dengan kurs Rp2.657 per yuan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore