
Sam Altman berbicara dalam Infrastructure Summit 2026 (Reuters)
JawaPos.com - Narasi mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang selama ini kerap dibingkai sebagai ancaman terhadap jutaan pekerjaan mulai mengalami pergeseran, bahkan dari salah satu arsitek utamanya. CEO OpenAI, Sam Altman, mengakui bahwa dampak AI terhadap pasar tenaga kerja dalam jangka pendek tidak seburuk yang sebelumnya diperkirakan.
Pernyataan tersebut menandai perubahan sikap di tengah percepatan adopsi AI generatif di sektor keuangan, teknologi, hingga layanan publik. Di berbagai negara, perusahaan global memang terus menata ulang struktur kerja mereka seiring meningkatnya otomatisasi, namun dampak terhadap pengurangan tenaga kerja secara luas belum sebesar yang sempat dikhawatirkan.
Dilansir dari Reuters, Rabu (27/5/2026), Altman menyebut perkembangan cepat AI tidak berujung pada apa yang sebelumnya dia gambarkan sebagai "kiamat pekerjaan" atau jobs apocalypse. Dalam konferensi Commonwealth Bank of Australia (CBA) di Sydney, dia secara terbuka mengakui kekeliruannya dalam membaca dampak sosial ekonomi teknologi tersebut terhadap pekerjaan tingkat awal di sektor kerah putih.
"Saya senang ternyata saya salah soal ini. Saya pikir dampaknya terhadap hilangnya pekerjaan kerah putih level awal akan jauh lebih besar dibanding yang benar-benar terjadi," ujar Altman.
Dia mengatakan prediksi teknis OpenAI sejak peluncuran ChatGPT pada 2022 sebagian besar terbukti, tetapi dampak sosial dan ekonominya tidak sepenuhnya sesuai perkiraan.
"Saya sekarang merasa lebih memahami mengapa hal itu tidak terjadi. Dan saya jelas bersyukur, karena intuisi saya saat itu ternyata tidak tepat," katanya.
Selain itu, Altman menilai bahwa peringatan awal yang dia sampaikan terkait risiko besar AI terhadap tenaga kerja tetap memiliki konteks relevansi, meski hasilnya berbeda dari ekspektasi awal.
"Orang-orang mungkin berkata, Anda seharusnya bisa menghindarkan dunia dari ketakutan dan nuansa kehilangan pekerjaan yang berlebihan. Namun saat itu saya merasa ini adalah risiko nyata yang memang perlu dibicarakan. Dan risiko itu masih mungkin terjadi," ujarnya.
Di saat yang sama, sejumlah institusi keuangan dan perusahaan teknologi global mulai mengakui bahwa AI telah mengambil alih sebagian fungsi pekerjaan administratif dan operasional. Reuters mencatat bahwa HSBC, Amazon, Standard Chartered, dan Commonwealth Bank of Australia termasuk di antara perusahaan yang telah mengumumkan penggantian sebagian posisi dengan sistem berbasis AI.
Meski demikian, hingga kini belum terlihat gelombang pemutusan hubungan kerja massal di sektor kerah putih sebagaimana diproyeksikan pada awal ledakan teknologi ini.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022