
Ilustrasi ilmuwan mengoperasikan simulasi komputasi AI untuk meneliti dan mengembangkan kecerdasan buatan. (Freepik/DC Studio)
JawaPos.com — Ambisi perusahaan teknologi global untuk mengembangkan kecerdasan buatan tingkat lanjut kini memasuki fase krusial. Dalam satu dekade terakhir, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bertransformasi dari riset akademik menjadi fondasi strategi bisnis raksasa teknologi dunia, dengan nilai investasi mencapai ratusan miliar dolar AS setiap tahun.
Namun, di balik percepatan itu, muncul peringatan serius dari kalangan ilmuwan mengenai risiko hilangnya kendali manusia. Peringatan tersebut disampaikan Anthony Aguirre, fisikawan teoretis dari University of California, Santa Cruz, sekaligus peneliti Future of Life Institute, melalui sebuah esai akademik.
Dalam tulisannya, Aguirre menekankan perlunya membatasi pengembangan kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence/AGI) dan superintelligence demi menjaga kendali manusia. Esai berjudul Keep the Future Human: Why and How We Should Close the Gates to AGI and Superintelligence, and What We Should Build Instead itu menandai titik balik perdebatan global tentang arah pengembangan artificial general intelligence (AGI).
Aguirre menjelaskan bahwa dorongan menuju AGI dipacu oleh lonjakan daya komputasi dan pola peningkatan kemampuan AI yang semakin konsisten. Menurut penelitian Anthony Aguirre, “sekali sistem melampaui tingkat kecerdasan manusia, tidak ada cara yang benar-benar andal untuk memprediksi atau mengendalikan seluruh perilakunya.” Pernyataan ini menegaskan keterbatasan fundamental manusia dalam mengawasi sistem yang lebih cerdas dari penciptanya.
AGI, dalam pengertian Aguirre, bukan sekadar AI yang unggul dalam satu tugas, melainkan sistem dengan kemampuan umum lintas bidang, setara atau melampaui kecerdasan manusia. Risiko meningkat ketika kemampuan tersebut dipadukan dengan otonomi, yakni kapasitas sistem untuk bertindak dan mengambil keputusan tanpa pengawasan manusia secara langsung.
“Ketika kecerdasan, otonomi, dan skala digabungkan dalam satu sistem, kita tidak lagi berhadapan dengan alat. ita berhadapan dengan entitas yang secara fundamental berbeda dari teknologi sebelumnya," tulis Aguirre.
Dalam konteks ini, persoalan bukan semata-mata keselarasan nilai (alignment), melainkan konsentrasi kekuasaan dan ketergantungan manusia pada sistem yang tidak sepenuhnya dipahami.
Aguirre juga menyoroti risiko konsentrasi kekuasaan apabila sistem AGI dikendalikan oleh segelintir perusahaan atau negara. Menurutnya, AI yang bersifat umum, otonom, dan lebih cerdas dari manusia berpotensi menjadi alat dominasi politik dan ekonomi.
“Konsentrasi kemampuan semacam ini akan menciptakan struktur kekuasaan yang sangat tidak stabil,” tulis Aguirre, seraya memperingatkan potensi penyalahgunaan AI untuk propaganda, manipulasi informasi publik, dan penguatan kekuasaan absolut di luar mekanisme demokratis.
Kekhawatiran serupa juga disuarakan komunitas ilmiah global. Laporan International AI Safety Report mencatat bahwa sejumlah perusahaan AI terkemuka belum memiliki mekanisme keselamatan yang memadai untuk sistem setara kecerdasan manusia. Media TIME bahkan mengutip peringatan bahwa “mengembangkan superintelligence tanpa pengendalian dapat berujung pada risiko eksistensial bagi umat manusia.”
Tokoh-tokoh terkemuka di bidang AI pun menyuarakan alarm. Geoffrey Hinton, yang kerap dijuluki “Bapak AI modern”, menyatakan bahwa tanpa pembatasan tegas, sistem AI canggih dapat memicu krisis etika dan sosial berskala global. Sementara itu, surat terbuka Pause Giant AI Experiments yang ditandatangani Elon Musk dan Yoshua Bengio sebelumnya menyerukan penghentian sementara eksperimen AI berskala besar demi keselamatan bersama.
Sebagai alternatif, Aguirre mengusulkan pendekatan AI sebagai alat (tool AI). Model ini tetap memungkinkan pemanfaatan AI berdaya tinggi, tetapi dengan batasan ketat pada otonomi dan ruang lingkupnya.
“Kita dapat membangun sistem yang membantu riset, kesehatan, dan pendidikan, tanpa menjadikan manusia sekadar penonton,” tulisnya.
Esai tersebut juga merinci langkah kebijakan konkret, mulai dari pengawasan daya komputasi, pembatasan pelatihan model skala besar, tanggung jawab hukum pengembang, hingga kerja sama internasional dalam pengendalian rantai pasok semikonduktor AI.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
