Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 03.50 WIB

Cloudflare Ungkap Ancaman DDoS Terbesar, Indonesia Jadi Sumber Serangan Tertinggi

Ilustrasi serangan DDoS dilaporkan meningkat di Indonesia. (SecroMix) - Image

Ilustrasi serangan DDoS dilaporkan meningkat di Indonesia. (SecroMix)

JawaPos.com-Cloudflare, perusahaan terkemuka di bidang konektivitas dan keamanan cloud, baru saja merilis laporan ancaman DDoS (Distributed Denial of Service) untuk kuartal kedua (Q2) 2025. 

Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa meskipun jumlah serangan secara keseluruhan menurun dibandingkan kuartal sebelumnya, intensitas dan dampaknya justru semakin meningkat. Indonesia menempati peringkat teratas sebagai sumber serangan DDoS terbesar secara global.

Serangan Terbesar dalam Sejarah

Salah satu temuan paling mencengangkan dari laporan ini adalah tercatatnya serangan DDoS terbesar sepanjang sejarah, mencapai 7,3 Tbps dan 4,8 miliar paket per detik. Ini menunjukkan bahwa para pelaku siber terus menyempurnakan metode mereka untuk mengganggu layanan digital skala besar.

Beberapa tren penting dari laporan Cloudflare yakni jumlah serangan menurun, tapi lebih ganas. Total 7,3 juta serangan DDoS berhasil diblokir Cloudflare di Q2, turun dari 20,5 juta di Q1. Namun, angka ini masih 44 persen lebih tinggi dibandingkan Q2 2024.

Selain itu, serangan HTTP juga dikatakan melonjak drastis. Meskipun serangan pada lapisan jaringan (Layer 3/4) turun 81 persen dibanding kuartal sebelumnya. Serangan pada lapisan aplikasi (HTTP) naik 9 persen dari Q1, dan meroket 129 persen dibandingkan tahun lalu, dengan total 4,1 juta insiden.

Tiongkok jadi target utama. Tiongkok kembali menjadi negara yang paling sering diserang, menggeser posisi sebelumnya. Vietnam, India, Korea Selatan, dan Hongkong juga masuk dalam daftar 10 besar negara yang paling banyak menerima serangan.

Namun Indonesia juga perlu waspada. Dalam catatannya yang diterima JawaPos.com, Cloudflare menyebut Indonesia termasuk yang tak aman.

Indonesia jadi sumber serangan terbanyak. Bahkan Indonesia naik ke posisi pertama sebagai lokasi terbanyak asal serangan DDoS, diikuti Singapura dan Hongkong. 

Namun perlu dicatat, sumber dalam konteks ini merujuk pada lokasi node botnet atau proksi, bukan lokasi pelaku sebenarnya.

Sektor telekomunikasi dan TI jadi sasaran utama. Infrastruktur digital, termasuk industri telekomunikasi dan penyedia layanan internet, menjadi target paling rentan. 

Sektor pertanian secara mengejutkan juga naik 38 peringkat ke posisi delapan, menunjukkan bahwa semua sektor kini rentan terhadap gangguan digital.

Ancaman Siber di Indonesia Semakin Nyata

Laporan ini menyoroti urgensi peningkatan sistem keamanan siber di Indonesia. Meski posisi sebagai sumber serangan bukan berarti pelaku berasal dari dalam negeri, namun hal ini mengindikasikan bahwa banyak perangkat atau jaringan yang telah disusupi dan dimanfaatkan sebagai bagian dari botnet global.

Indonesia, sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna internet yang sangat pesat, kini menghadapi tantangan besar dalam membangun pertahanan digital yang kuat. 

Minimnya literasi siber, perangkat yang tidak diperbarui, serta penggunaan VPN dan jaringan terbuka secara sembarangan membuat infrastruktur digital Indonesia rawan dimanfaatkan oleh aktor jahat dari luar maupun dalam negeri.

Dengan skala dan dampak yang terus membesar, serangan DDoS tidak hanya menargetkan perusahaan besar, tapi juga bisa melumpuhkan layanan publik, sektor pendidikan, bahkan pertanian. 

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore