
Jack Ma, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg beralih ke sektor pangan. (the guardian)
JawaPos.com — Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tokoh terkemuka dunia teknologi mulai mengalihkan fokus investasinya ke sektor pangan. Dari Bill Gates, Mark Zuckerberg, hingga Jack Ma, mereka memilih terlibat langsung dalam industri pertanian dan pangan berkelanjutan. Pergeseran ini memunculkan pertanyaan besar: ada apa di balik masuknya para miliarder teknologi ke ranah agribisnis?
Bill Gates, salah satu pendiri Microsoft, tercatat sebagai pemilik lahan pertanian pribadi terbesar di Amerika Serikat. Menurut Land Report 100, Gates telah mengakumulasi sekitar 269.000 acre lahan pertanian yang tersebar di berbagai negara bagian. Meski jumlah ini hanya mencakup kurang dari 1 persen dari total 895 juta acre lahan pertanian di AS, skala investasinya tetap mencolok.
Dalam sesi Reddit Ask Me Anything, Gates menjelaskan, “Sektor pertanian sangat penting. Dengan benih yang lebih produktif, kita dapat mencegah deforestasi dan membantu Afrika menghadapi kesulitan iklim yang mereka alami,” ujarnya, seperti dilansir dari AP News, Senin (30/6/2025).
Tak hanya itu, Gates menyebut biofuel sebagai area potensial. “Jika biofuel cukup murah, itu bisa menjadi solusi emisi untuk penerbangan dan transportasi truk,” tambahnya. Meskipun banyak yang menyangka Gates telah membeli sebagian besar lahan pertanian di Amerika Serikat, juru bicara Gates menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar, dan merujuk pada data dari Departemen Pertanian AS untuk mendukung pernyataan tersebut.
Sementara itu, Mark Zuckerberg, CEO Meta, memilih pendekatan berbeda dalam keterlibatannya di sektor pangan. Bos Meta itu memulai usaha peternakan sapi premium di Ko’olau Ranch, Hawaii, di lahan seluas 1.400 acre. Melalui unggahannya di Instagram, Zuckerberg menulis, “Saya mulai beternak di Ko’olau Ranch dengan tujuan menghasilkan daging sapi berkualitas tertinggi di dunia.” Sapi-sapi tersebut diberi pakan kacang macadamia dan bir, seluruhnya diproduksi di dalam kompleks miliknya senilai Rp 1,6 triliun.
Namun, upaya Zuckerberg menuai kritik tajam. Mitch Jones dari Food & Water Watch menyebut proyek ini “bukan solusi pertanian berkelanjutan.” Dalam pernyataannya kepada The Guardian, dia mengatakan, “Beternak sapi dengan pakan kacang macadamia dan bir hanyalah pertunjukan aneh seorang miliarder. Kita membutuhkan reformasi pertanian nyata untuk mengatasi ketimpangan dalam sistem pangan dan realitas perubahan iklim.”
Di sisi lain, dari kawasan Asia, Jack Ma, pendiri Alibaba, juga menunjukkan minat mendalam terhadap sektor agrikultur. Setelah mundur dari dunia korporasi, Ma kembali ke kampung halamannya di Hangzhou, Tiongkok, dan berinvestasi dalam startup pertanian dan perikanan bernama 1.8 Meters Marine Technology.
Startup ini memiliki modal terdaftar sebesar 110 juta yuan (dengan kurs Rp 2.263 per yuan, setara sekitar Rp 249 miliar), dan bergerak di bidang pengolahan serta distribusi produk pertanian. Dilansir dari Agro Spectrum Asia, Senin (30/6/2025), Ma juga aktif melakukan perjalanan untuk mempelajari sistem pangan berkelanjutan dan kini menjadi dosen tamu di Universitas Tokyo dalam bidang manajemen dan pertanian berkelanjutan.
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan tren individual, tetapi juga mengindikasikan pergeseran strategis dari para pelaku teknologi terhadap isu ketahanan pangan global. Investasi besar ke sektor agrikultur menunjukkan adanya pengakuan bahwa sistem pangan dunia menghadapi tantangan serius akibat krisis iklim, tekanan populasi, dan kerentanan pasokan.
Para pengamat menilai bahwa keterlibatan tokoh besar ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, mereka membawa modal besar dan teknologi untuk mendorong inovasi pertanian. Namun di sisi lain, pendekatan mereka kerap dianggap elitis dan kurang menyentuh persoalan struktural dalam sistem pangan global. “Kita butuh dukungan untuk petani kecil, bukan hanya proyek-proyek mahal yang hanya menguntungkan segelintir orang kaya,” pungkas Jones, dikutip dari The Guardian, Senin (30/6/2025).
Meski masing-masing tokoh memiliki pendekatan dan skala yang berbeda, satu benang merah yang terlihat jelas adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya pangan sebagai sektor strategis masa depan. Dalam konteks krisis iklim dan ketidakpastian geopolitik global, pertanian tak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, melainkan sebagai medan baru bagi inovasi, keberlanjutan, dan bahkan kekuasaan ekonomi.
Dengan keterlibatan nama-nama besar seperti Gates, Zuckerberg, dan Ma, transformasi sektor pangan kini menjadi bagian dari narasi global tentang masa depan bumi. Pertanyaannya kini bukan lagi mengapa mereka masuk ke sektor ini, tetapi sejauh mana intervensi mereka dapat membawa perubahan sistemik yang inklusif dan berkelanjutan.
***

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
