Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Januari 2025 | 21.03 WIB

Tak Mau Kalah dengan DeepSeek, Alibaba Rilis Versi Terbaru Model AI Qwen 2.5

Ilustrasi Alibaba Group. (reuters.com) - Image

Ilustrasi Alibaba Group. (reuters.com)

JawaPos.com – Perusahaan teknologi Tiongkok Alibaba merilis versi baru model kecerdasan buatannya (AI), Qwen 2.5. Model AI ini kemampuannya diklaim melampaui DeepSeek-V3.

Seperti dilansir dari Reuters, Qwen 2.5-Max diluncurkan dalam waktu yang tidak biasa, yakni pada hari pertama Tahun Baru Imlek. Ketika sebagian besar orang Tiongkok libur kerja dan berkumpul dengan keluarga.

Hal ini jelas menunjukkan tekanan yang ditimbulkan oleh kebangkitan pesat perusahaan rintisan AI Tiongkok DeepSeek dalam tiga minggu terakhir. Tak hanya terhadap para pesaing di luar negeri, tetapi juga pesaing domestiknya.

"Qwen 2.5-Max mengungguli, hampir di semua lini GPT-4o, DeepSeek-V3, dan Llama-3.1-405B," kata unit cloud Alibaba dalam pengumuman yang diunggah di akun WeChat resminya.

Pendahulu model DeepSeek V3, DeepSeek-V2, memicu perang harga model AI di Tiongkok setelah dirilis Mei lalu.

Fakta bahwa DeepSeek-V2 bersifat open-source dan sangat murah yang hanya dibanderol 1 yuan per 1 juta token, menyebabkan unit cloud Alibaba mengumumkan pemotongan harga hingga 97 persen pada berbagai model.

Tak hanya itu, dua hari setelah peluncuran DeepSeek-R1, pemilik TikTok ByteDance juga merilis pembaruan untuk model AI andalannya yang diklaim mengungguli o1 OpenAI yang didukung Microsoft dalam AIME.

Hal ini menggemakan klaim DeepSeek bahwa model R1-nya menyaingi o1 OpenAI pada beberapa tolak ukur kinerja.

Peluncuran asisten AI DeepSeek pada 10 Januari, yang didukung oleh model DeepSeek-V3, serta peluncuran model R1 pada 20 Januari, telah menggemparkan Silicon Valley dan menyebabkan saham teknologi perusahaan besar di dunia anjlok. 

Biaya pengembangan yang rendah mendorong investor mempertanyakan rencana pengeluaran besar oleh perusahaan AI terkemuka di Amerika Serikat.

Liang Wenfeng, pendiri DeepSeek, dalam sebuah wawancara dengan media Tiongkok Waves pada Juli mengatakan bahwa perusahaan rintisan itu tidak peduli dengan perang harga dan bahwa mencapai AGI (kecerdasan umum buatan) adalah tujuan utamanya. 

OpenAI mendefinisikan AGI sebagai sistem otonom yang melampaui manusia dalam sebagian besar tugas yang bernilai ekonomis. 

Sementara perusahaan teknologi besar Tiongkok seperti Alibaba memiliki ratusan ribu karyawan, DeepSeek beroperasi seperti laboratorium penelitian, yang sebagian besar stafnya adalah lulusan muda dan mahasiswa doktoral dari universitas-universitas top Tiongkok. 

Liang mengatakan bahwa ia yakin perusahaan teknologi terbesar di Tiongkok mungkin tidak cocok dengan masa depan industri AI. Membandingkan biaya tinggi dan struktur top-down mereka dengan operasi ramping dan gaya manajemen longgar yang dimiliki DeepSeek. 

"Model dasar yang besar membutuhkan inovasi berkelanjutan, kemampuan raksasa teknologi memiliki batasnya," ungkap dia.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore