
Logo DeepSeek, simbol kekuatan AI Tiongkok yang menjadi inspirasi bagi model bahasa besar serbaguna (LLM) Eropa untuk memperkuat kedaulatan digital (The Guardian)
JawaPos.com - Upaya Eropa membangun kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mandiri kini bergerak dari wacana menjadi strategi geopolitik. Ketika hubungan transatlantik dengan Amerika Serikat (AS) menunjukkan tanda-tanda ketegangan, dorongan untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi AI buatan AS semakin mendesak, sekaligus membuka babak baru persaingan kekuatan global di sektor teknologi strategis.
Selama lebih dari satu dekade, perusahaan-perusahaan AS mendominasi hampir seluruh rantai nilai AI, mulai dari desain dan manufaktur prosesor, kapasitas pusat data, hingga pengembangan model dan aplikasi. Keunggulan ini diperkuat arus investasi besar ke sektor teknologi AS, menjadikan Eropa tertinggal dan bergantung pada infrastruktur digital di luar kawasan.
Dilansir dari Wired, Selasa (20/1/2026), memburuknya hubungan antara AS dan sekutu-sekutunya di Eropa mendorong laboratorium AI di berbagai negara Eropa mencari pendekatan alternatif untuk memperkecil kesenjangan dengan pesaing Amerika. Dengan sedikit pengecualian, perusahaan berbasis AS dinilai telah menancapkan posisi yang begitu kuat hingga memicu kekhawatiran Eropa akan terjebak dalam ketergantungan jangka panjang, seperti yang terjadi pada layanan komputasi awan.
Nada pesimistis itu bahkan disuarakan secara terbuka. Awal Januari lalu, kepala badan keamanan siber nasional Belgia mengatakan kepada Financial Times bahwa Eropa telah "kehilangan internet" dan perlu menerima kenyataan adanya tingkat ketergantungan tertentu terhadap infrastruktur digital AS. Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan pembuat kebijakan Eropa mengenai daya tawar strategis kawasan itu.
Meski demikian, Inggris dan Uni Eropa belum bersedia menyerah. Keduanya telah mengalokasikan ratusan juta dolar AS untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok AI asing. Dorongan ini menguat setelah keberhasilan DeepSeek dari Tiongkok, yang tahun lalu mengguncang asumsi lama bahwa kepemilikan klaster prosesor terbesar merupakan penentu utama kemenangan dalam perlombaan AI global.
"Kita terlalu mudah percaya pada narasi bahwa inovasi hanya terjadi di Amerika Serikat—bahwa Eropa telah tertinggal dalam perlombaan kecerdasan buatan dan bahkan tidak perlu lagi berupaya mengejarnya," ujar Rosaria Taddeo, profesor etika digital dan teknologi pertahanan di University of Oxford.
"Itu adalah narasi yang berbahaya,"katanya, seraya menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini harus diperlakukan sebagai infrastruktur strategis, bukan sekadar produk komersial.
Salah satu keunggulan potensial Eropa terletak pada pendekatan terbuka. Berbeda dengan perusahaan besar AS yang tertutup mengenai data pelatihan dan desain model, sejumlah laboratorium Eropa memilih mengembangkan AI secara terbuka agar dapat digunakan dan disempurnakan bersama.
"Anda mampu melipatgandakan kekuatan model-model ini," kata Wolfgang Nejdl, profesor ilmu komputer di Leibniz Universität Hannover dan direktur L3S Research Center, yang terlibat dalam konsorsium pengembangan model bahasa besar Eropa.
Urgensi kemandirian AI di Eropa juga dipercepat oleh perubahan lanskap geopolitik. Sikap Gedung Putih yang dinilai kurang mendukung upaya Eropa membangun kapasitas AI sendiri membuat agenda kemandirian teknologi tidak lagi bersifat pilihan.
“Situasi geopolitik telah mengubah cara kita menafsirkan kedaulatan. Ini adalah infrastruktur yang tidak kita produksi sendiri," kata Taddeo.
Ketegangan geopolitik tersebut kemudian merembet ke ranah kebijakan dan regulasi teknologi. Hal itu tercermin dalam sengketa antara Uni Eropa dan Amerika Serikat setelah Komisi Eropa menjatuhkan denda sebesar USD 140 juta, setara sekitar Rp 2,37 triliun dengan kurs Rp16.950 per dolar AS, kepada platform X milik Elon Musk.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam langkah tersebut sebagai "serangan terhadap platform teknologi Amerika oleh pemerintah asing," menandai semakin terbukanya friksi lintas Atlantik di sektor teknologi strategis.
Di luar tarik-menarik kebijakan, riset AI Eropa menunjukkan bahwa ambisi kemandirian belum padam. Terinspirasi oleh keberhasilan DeepSeek, proyek sumber terbuka SOOFI yang melibatkan Wolfgang Nejdl menargetkan pengembangan model bahasa besar serbaguna (LLM) kompetitif dengan sekitar 100 miliar parameter dalam satu tahun ke depan.
"Kemajuan di bidang ini tidak lagi terutama bergantung pada klaster GPU terbesar. Kami akan menjadi DeepSeek-nya Eropa," kata Nejdl.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
