
Serangan siber canggih mengintai pengguna platform sah yang memiliki banyak user. (Istimewa).
JawaPos.com - Serangan siber kian canggih dan licin. Terbaru, Kaspersky mendeteksi kampanye serangan yang memanfaatkan platform sah seperti GitHub, Quora, hingga Microsoft Learn Challenge sebagai 'kendaraan' untuk menyebarkan malware berbahaya.
Para pelaku tak lagi hanya mengandalkan file mencurigakan, tetapi menyembunyikan kode berbahaya di balik layanan yang lazim digunakan banyak orang, termasuk profesional IT dan pelajar.
Serangan ini bukan isapan jempol. Kaspersky mencatat, pada paruh kedua 2024 hingga pertengahan 2025, serangkaian serangan siber kompleks ini telah menyasar berbagai organisasi besar di Tiongkok, Jepang, Malaysia, Peru, hingga Rusia.
Target utama adalah perusahaan menengah dan besar, terutama di sektor energi seperti minyak dan gas.
Modus utamanya adalah email spear phishing, email yang tampak sah dan meyakinkan, seolah-olah berasal dari BUMN besar yang tertarik pada produk atau jasa si korban.
Lampiran email berupa arsip berisi file yang tampak seperti dokumen PDF, padahal sebenarnya adalah file executable (.EXE atau .DLL) yang bisa langsung menginfeksi perangkat jika dibuka.
“Para pelaku menyamarkan malware mereka agar seolah berasal dari proses aplikasi normal. Salah satunya dengan membajak fitur Crash Reporting Send Utility, sebuah alat asli yang biasa dipakai pengembang untuk melacak kesalahan aplikasi,” jelas Maxim Starodubov, Kepala Tim Analis Malware di Kaspersky melalui laporannya.
Begitu malware aktif, sistem korban akan meluncurkan Cobalt Strike Beacon, sebuah alat kendali jarak jauh yang memungkinkan pelaku memata-matai aktivitas, mencuri data, bahkan mengambil alih sistem sepenuhnya.
Yang membuat serangan ini lebih sulit dideteksi adalah cara para pelaku menyembunyikan instruksi tambahan dan kode jahat mereka.
Mereka menyisipkannya di berbagai profil publik di platform populer seperti GitHub, Microsoft Learn Challenge, dan forum seperti Quora. Beberapa konten bahkan muncul di komentar media sosial, menyamarkan tautan berbahaya dalam teks biasa.
“Metode ini mirip dengan serangan EastWind yang sebelumnya dikaitkan dengan aktor berbahasa Mandarin. Meski kami belum menemukan indikasi bahwa pelaku menggunakan akun pribadi nyata, tidak ada yang mencegah mereka melakukannya di masa depan,” tambah Starodubov.
Dalam menghadapi lanskap ancaman digital yang makin rumit, Kaspersky menyarankan langkah-langkah preventif seperti memantau infrastruktur digital secara real-time, termasuk lalu lintas keluar-masuk jaringan.
Gunakan solusi keamanan email yang mampu mendeteksi dan memblokir file mencurigakan. Penting juga untuk meningkatkan literasi keamanan siber di lingkungan kerja, melalui pelatihan berkala untuk seluruh staf.
Amankan endpoint dan perangkat internal dengan sistem pertahanan berlapis yang dapat mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini.
Serangan ini menjadi contoh nyata bagaimana pelaku siber kini makin canggih dalam mengeksploitasi kepercayaan pengguna terhadap platform populer. Mereka tidak lagi hanya menyerang lewat jalur konvensional, tetapi memanfaatkan ekosistem digital yang dianggap aman sebagai pintu masuk.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
