Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Juli 2026 | 16.20 WIB

Kontroversi Laga Argentina vs Mesir Berlanjut ke Serangan Siber, AFA Selidiki Dugaan Peretasan Email

Federasi Sepak Bola Argentina selidiki dugaan peretasan email. (Instagram/@afaseleccion) - Image

Federasi Sepak Bola Argentina selidiki dugaan peretasan email. (Instagram/@afaseleccion)

JawaPos.com - Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) tengah melakukan investigasi terkait dugaan peretasan sistem setelah beredarnya email massal yang dikirim ke sejumlah jurnalis. Email itu berisi tuntutan keadilan untuk tim nasional Mesir dan pelatihnya, Hossam Hassan. Insiden itu terjadi pascalaga kontroversial di babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir yang digelar pada Selasa (7/7).

Dilansir dari The Athletic, pesan berbahasa Inggris itu memiliki subjek ‘sistem diretas: keputusan tidak adil’ (system hacked: unfair decision) dan dibuka dengan kalimat bernada protes, ‘perampokan ini tidak akan luput dari perhatian’ (the robbery will not go unnoticed).

Pada Kamis (9/7) waktu setempat, AFA mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah menyelidiki insiden tersebut. Federasi menyebut email itu kemungkinan dikirim dari salah satu akun resmi mereka tanpa otorisasi internal. “Kami menemukan kemungkinan adanya akses tidak sah ke akun kami. Email yang beredar tidak dibuat maupun disetujui oleh tim kami,” tulis pernyataan resmi AFA dikutip dari The Athletic.

Pertandingan antara Argentina dan Mesir sendiri menjadi salah satu laga paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia. Argentina berhasil membalikkan keadaan setelah ketertinggalan dua gol dengan mencetak tiga gol dalam 13 menit terakhir pertandingan. Namun, kontroversi mewarnai jalannya laga. Wasit diduga berpihak setelah gol Mesir pada menit ke-60 dianulir setelah tinjauan VAR serta adanya dugaan pelanggaran di kotak penalti Argentina yang tidak diganjar hadiah penalti.

Kubu Mesir pun meluapkan kekecewaan mereka. Penyerang andalan Mostafa Ziko menyatakan bahwa trofi Piala Dunia seolah sudah diarahkan untuk Argentina. Sementara itu, pelatih Hossam Hassan menilai timnya dirugikan oleh keputusan wasit, termasuk pembatalan gol kedua dan tidak diberikannya penalti di masa injury time, sesaat sebelum Enzo Fernandez mencetak gol ketiga Argentina.

Hassan bahkan menyatakan kekecewaannya secara tegas. “Saya tidak akan pernah menonton Piala Dunia lagi karena tidak ada keadilan dalam kompetisi ini,” ujarnya. Nada protes itu sejalan dengan isi email yang diduga dikirim oleh peretas. Email itu ditandatangani oleh kelompok yang menamakan diri sebagai Pejuang Siber Mesir dan menyebut kemenangan Argentina sebagai hasil yang dicuri.

Pesan itu juga menuduh adanya ketidakadilan selama 90 menit pertandingan serta mengklaim bahwa Hossam Hassan menjadi target karena sikapnya yang secara terbuka mendukung Palestina, termasuk selama berlangsungnya Piala Dunia 2026. “Keamanan hanyalah ilusi, sama seperti integritas pertandingan tersebut,” tulis email tersebut.

Menanggapi hal itu, AFA meminta pihak yang menerima email tersebut untuk mengabaikannya. Federasi juga memastikan tengah melakukan pemeriksaan internal bersama tim teknologi informasi guna mengidentifikasi sumber dan cakupan insiden. “Kami sedang bekerja untuk mengklarifikasi situasi dan menerapkan langkah-langkah keamanan yang diperlukan,” kata AFA. Pada Jumat (10/7), juru bicara AFA menyatakan bahwa situasi telah terselesaikan, meski tidak memberikan rincian tambahan terkait hasil investigasi.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore