Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 Maret 2022 | 22.31 WIB

Ancaman Phising Manfaatkan Hal yang Sedang Ramai, Kenali Ciri-cirinya

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Naiknya harga sejumlah bahan pangan dan sulitnya masyarakat mendapatkan minyak goreng ternyata dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan siber. Mereka melihatnya sebagai peluang untuk menggaet keuntungan pribadi.

Masyarakat diminta waspada. Sebab, di tengah kelangkaan yang terjadi, beredar kabar adanya promosi minyak goreng melalui sebuah tautan oleh salah satu brand yang ternyata isinya adalah phising. Ini sebuah tindakan kejahatan dunia maya yang biasa memanfaatkan tren yang sedang jadi perbincangan.

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network atau SAFEnet Damar Juniarto. Dirinya menyebut, kejahatan dunia maya dalam bentuk phising, scamming, dan social engineering biasanya hadir bersamaan dengan sesuatu yang sedang jadi perbincangan.

Sebelumnya, Damar melalui Twitter pribadinya menemukan adanya upaya kejahatan dunia maya dalam bentuk phising lewat link palsu promosi minyak goreng.

"Peringatan: Sedang beredar info Bimoli 50 Tahun memanfaatkan kelangkaan minyak goreng. Ini yang saya temukan di WhatsApp, belum tahu apakah juga diedarkan lewat platform lain,” ujar Damar dikutip JawaPos.com dari Twitter pribadi Damar Juniarto @DamarJuniarto.

Damar menyampaikan bahwa pelaku kejahatan phising atau scamming ini memang biasanya menyasar kalangan-kalangan yang lemah secara literasi digitalnya. "Ya kalau kita perhatikan memang demikian (biasa menyasar orang tua di grup WhatsApp mereka)," ujar Damar dihubungi JawaPos.com.

Dirinya mencontohkan, motif seperti ini biasanya banyak terjadi di Amerika Serikat (AS), pelaku kejahatan siber mengincar para pensiunan. Dengan modus menawarkan liburan, orang-orang tua yang tidak terliterasi dengan baik ini kemudian menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan siber lewat link-link atau tautan tertentu.

"Di Indonesia mirip. Di sini banyak kalangan emak-emak yang percaya bahwa internet nggak mungkin bohong. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan para pelaku phising, scamming, dan social engineering dengan memanfaatkan hype-hype atau obrolan tertentu yang sedang tren," lanjut Damar.

Untuk terhindar dari upaya kejahatan tersebut, Damar menyebut ada beberapa hal yang kemudian bisa menjadi ciri-ciri bahwa itu adalah upaya kejahatan yang harus dihindari.

"Buat orang yang secara literasi memang tidak begitu paham bahwa itu adalah upaya penipuan, sebetulnya gampang saja untuk bisa mengenali penipuan atau bukan," terang Damar.

Pertama, menurut Damar, biasanya para pelaku kejahatan siber ini menawarkan sesuatu yang bombastis. Hal inilah yang biasanya mengikuti tren atau sesuatu yang sedang jadi perbincangan di masyarakat.

Kedua, para pelaku kejahatan dunia maya ini dalam melancarkan aksinya biasanya menggunakan sesuatu yang terlihat kredibel. Misal, memanfaatkan tren kelangkaan minyak goreng, kartu prakerja, pulsa gratis untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dan topik lain yang lagi jadi omongan publik.

Terakhir, yang paling terlihat adalah adanya desakan. Biasanya, kata Damar, jika ada link atau tautan ke laman tertentu, penjahat siber akan membujuk calon korban dengan bahasa-bahasa yang mendesak.

"Kalau kita sudah kena, ya macam-macam bahayanya. Bisa data kita diambil atau dicuri, ponsel kita diambil alih dan ancaman serius lainnya. Hal ini bisa mereka (penjahat siber) dapat karena kita mengisi atau mengklik link tadi. Makanya kalau mencurigakan, jangan diklik," tandas Damar.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore