Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Agustus 2021, 21.59 WIB

Memasyarakatkan Cloud Cara AWS

AWS berkolaborasi dengan  Yayasan Sagasitas Indonesia menggelar pelatihan dasar-dasar komputasi awan kepada peserta dari 200 sekolah di hampir 30 kota di seluruh Indonesia guna meningkatkan inklusi Cloud yang bermuara pada pemberdayaan masyarakat. - Image

AWS berkolaborasi dengan Yayasan Sagasitas Indonesia menggelar pelatihan dasar-dasar komputasi awan kepada peserta dari 200 sekolah di hampir 30 kota di seluruh Indonesia guna meningkatkan inklusi Cloud yang bermuara pada pemberdayaan masyarakat.

JawaPos.com - Bagi awam, teknologi komputasi awan atau yang populer dengan Cloud masih dipahami sebagai teknologi yang masih di awang-awang. Sulit, rumit dan seolah hanya menjadi milik eksklusif para ahli di bidang teknologi informasi saja. Padahal, di tengah maraknya seruan transformasi digital di semua sektor untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, Cloud selalu disebut sebagai fondasi dan akselerator. Namun, benarkah anggapan awam tersebut?

Sri Suharyanti, guru pengajar di SMA Negeri 1 Semin, Gunung Kidul, Yogyakarta berbagi pendapatnya yang menarik. “Sebelum mengikuti program dari AWS dan Yayasan Sagasitas Indonesia, saya sama sekali tidak mengenal apa itu Cloud. Kami semua di SMA Negeri 1 Semin juga berpikir ini akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dipelajari,” kenangnya.

“Namun, Cloud ternyata teknologi yang dapat dipelajari dan ini memacu antusiasme siswa-siswa untuk mempelajarinya. Mereka semangat sekali dan datang kepada saya sambil berseru ‘Saya mau belajar, bu! Saya mau belajar, bu!’,” ucapnya bercampur bangga dan haru.

Sri dan siswa-siswa SMA Negeri 1 Semin adalah sekelompok peserta pelatihan dasar-dasar komputasi awan, program kerja sama penyedia infrastruktur Cloud paling wahid di dunia AWS dengan Yayasan Sagasitas Indonesia. Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan inklusi Cloud yang bermuara pada pemberdayaan masyarakat ini diikuti lebih dari 200 sekolah di hampir 30 kota di seluruh Indonesia.

Peserta program tersebut belajar berbagai hal, mulai dari fitur-fitur yang dikembangkan AWS, alur pembuatan situs web, hingga pembuatan aplikasi dan layanan berbasis teknologi canggih lainnya, seperti kecerdasan artifisial dengan memelajari Amazon Lex dan Internet of Things melalui Amazon Alexa.

Selain manfaat ilmu, Sri mengungkapkan bahwa perangkat laptop yang didonasikan AWS kepada sekolahnya sangat bermakna. Laptop termasuk barang mewah di lingkungan sekolahnya dan keberadaan laptop tersebut memacu para siswa untuk belajar teknologi dengan semangat.

Sri menjelaskan, daerah tempat mereka tinggal memiliki karakteristik perbukitan yang menyebabkan akses jaringan internet tidak merata. Namun, tantangan tersebut tidak menghalangi siswa-siswanya untuk belajar teknologi dengan penuh antusias.

“Mereka akan bertamu dan belajar di rumah yang memiliki akses internet lebih baik. Anak-anak yang sudah mendapatkan pelatihan juga akan berbagi pengetahuannya ke teman-teman yang lain. Harapannya, dari pelatihan ini, anak-anak kami dapat memiliki skills yang luar biasa dan kelak menjadi tokoh-tokoh bangsa yang hebat yang menguasai teknologi mutakhir,” tutur Sri.

Bersama Yayasan Sagasitas dan didukung Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta, AWS juga memantik semangat belajar Cloud di kalangan muda dengan mengadakan kompetisi Cloud Computing Club Competition Yogyakarta. Kegiatan ini melahirkan talenta berbakat Bima Mukhlisin, siswa SMK Negeri 2 Pengasih Kulonprogo Yogyakarta sebagai pemenang kategori SMK.

Proyek Bima dan rekannya yang bertajuk Very Second yang dapat diakses di https://main.daqofomyn52qd.amplifyapp.com/  merupakan situs web interaktif yang membuat kegiatan belajar sejarah menjadi lebih menyenangkan. Menurut Bima, ia termotivasi oleh menurunnya minat anak muda sebayanya terhadap sejarah.

“Cloud computing adalah masa depan. Bekal ilmu yang telah kami dapatkan tidak akan pernah habis walaupun dibagikan ke semua orang. Sebagai siswa Teknik Jaringan Komputer yang bercita-cita menjadi engineer, saya berterima kasih kepada AWS. Melalui pelatihan ini, saya dibekali ilmu dan keterampilan yang bermanfaat untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Inklusi Cloud dari Pengembang Hingga Para Santri
Program pemasyarakatan dan edukasi tentang Cloud yang menyasar talenta-talenta masa depan yang dijalankan AWS tak berhenti di situ saja. Bekerja sama dengan perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pendidikan, Dicoding, AWS juga menggelar program beasiswa bagi pengembang Cloud dan back-end. Program ini menawarkan pelatihan gratis kepada 100 ribu peserta didik pertama dengan kurikulum pengembangan back-end yang komprehensif.

Pelatihan bersama Dicoding disampaikan dalam Bahasa Indonesia dengan target peserta dari kalangan pengembang profesional, pengajar mata pelajaran TI, serta mahasiswa. Peserta disiapkan untuk mengikuti dua uji sertifikasi AWS, AWS Certified Cloud Practitioner dan AWS Certified Solutions Architect-Associate.

“Kami melihat pengembang back-end menjadi posisi yang paling dicari di industri. Lewat kerja sama dalam bentuk pengembangan kurikulum bersama AWS, kami berharap dapat mencetak talenta-talenta baru dengan keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri,” tutur CEO Dicoding, Narena Wicaksono.

Tingginya kebutuhan Indonesia, termasuk sektor industri, terhadap SDM cakap digital memang cukup tinggi. Pemerintah menginformasikan adanya kebutuhan 600 ribu SDM cakap digital per tahunnya. Sementara, menyitir hasil studi AlphaBeta yang dirilis awal tahun ini, kebutuhan Indonesia terhadap SDM cakap digital pada 2025 sangat tinggi, yaitu antara 110-111 juta.

Tantangan inilah yang mendasari pelaku industri seperti AWS untuk turut membantu Indonesia memenuhi kebutuhan itu melalui program-program peningkatan ketrampilan dan kompetensi di bidang teknologi digital, khususnya Cloud. Guna mengakselerasi misi ini, Country Leader Indonesia, AWS, Gunawan Susanto menegaskan bahwa tahun ini program AWS difokuskan pada peningkatan kapasitas peserta didik di Indonesia serta pengembangan penawaran-penawaran AWS yang telah disesuaikan dengan muatan lokal.

Gunawan menjelaskan, selain bekerja sama dengan komunitas lokal, AWS tahun ini juga meluncurkan program Laptop for Builders. Program ini tidak saja menyediakan laptop bagi komunitas sasaran, namun pada dasarnya adalah pelatihan tentang dasar-dasar Cloud bagi siswa sekolah menengah atas maupun sekolah vokasi. Salah satu penerima manfaat dari program ini adalah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama (RMI NU), organisasi yang membawahi pesantren terafiliasi PBNU di seluruh Indonesia.

Hatim Gazali atau Gus Hatim, Pengurus RMI NU, mengatakan bahwa program ini membantu mengubah persepsi publik terhadap tingkat literasi santri di bidang teknologi. “Para santri di pelosok negeri sekalipun memiliki kesempatan sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan mengembangkan kompetensi yang setara dengan pelajar di kota-kota besar. Kami percaya, tidak boleh ada pihak yang tertinggal dalam pembangunan nasional. AWS patut diapresiasi sebagai salah satu lembaga terdepan yang menggerakkan edukasi teknologi di kalangan pesantren,” tutur Gus Hatim.

RMI NU dan AWS juga menyelenggarakan kompetisi Santri 4.0 yang bertema ‘Dari Santri untuk Pesantren dan Umat Islam’ bagi guru dan santri. Sebanyak 40 proposal telah dikumpulkan dalam waktu singkat. Bagi Gus Hatim, ini menjadi bukti kemajuan signifikan setelah mengikuti program Laptop for Builders. Guru dan santri menjadi lebih peka terhadap berbagai masalah yang ada, serta mencarikan solusi yang tepat dengan pemanfaatan teknologi.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore