JawaPos.com - Bukan hal aneh lagi saat ini manusia dimudahkan dengan berbagai kecanggihan teknologi. Perkembangan teknologi pada era ini sangat pesat, bahkan semua sektor kini sudah melibatkan kemajuan teknologi.
Hal ini tentunya memiliki dampak positif dan negatif baik bagi manusia ataupun lingkungan sekitarnya. Seperti halnya elektronik, yang dalam kehidupan sehari-hari barang ini sudah menjadi kebutuhan primer belakangan ini.
Namun tanpa disadari penggunaan barang elektronik yang tidak bijak dapat membahayakan lingkungan sekitar apalagi limbah elektronik atau e-waste ini mengandung bahan berbahaya. Diketahui, mayoritas bahan yang digunakan dalam perangkat elektronik mengandung kimia berbahaya.
Limbah eletronik ini harus dikelola lantaran mengandung zat yang bebahaya bagi lingkungan. Selain itu limbah jenis ini sulit untuk terurai secara alami, bahkan limbah ini akan terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan manusia akan perangkat elektronik.
Limbah jenis ini tidak boleh dibuang sembarangan karena kandungannya seperti logam berat, PVC, serta kandungan lainnya dapat merusak kesehatan lingkungan. Selain itu apabila tidak dikelola dengan benar dan baik, limbah elektronik (e-waste) dapat berdampak negatif bagi lingkungan.
Limbah elektronik atau limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang masuk ke lingkungan, akan mengakibatkkan asidifikasi tanah yang dapat merusak tanah. Selain tanah limbah ini juga akan mencemari air dan udara dengan zat berbahaya yang terkandung didalamnya.
Oleh karena itu, saat ini banyak peneliti, ilmuwan dan ahli di bidangnya gencar melakukan penelitian untuk menemukan bahan baku elektronik ramah lingkungan. Terkini, ada Infineon Technologies AG, sebuah perusahaan semikonduktor asal Jerman yang mengambil langkah signifikan menuju masa depan yang lebih hijau dengan menerapkan Printed Circuit Board, PCB atau papan sirkuit cetak bernama Soluboard.
Seperti sudah disinggung di atas, PCB yang digunakan di sebagian besar perangkat elektronik biasanya terbuat dari bahan organik seperti resin, penghambat nyala brominasi, residu kimia, dan komponen logam berat.
Terutama limbah elektronik ini dibuang ke tempat pembuangan sampah setelah digunakan. Oleh karena itu, logam-logam ini sulit dipulihkan dan mencemari sistem tanah dan air, membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.
Dilansir via InceptiveMind, Soluboard yang dikembangkan oleh Infineon Technologies yang berbasis di Jerman menggunakan substrat PCB yang dapat didaur ulang dan dapat terurai secara biologis berdasarkan serat alami dan polimer bebas halogen untuk membantu mengurangi limbah elektronik.
Soluboard dikembangkan oleh startup bernama Jiva Materials yang berbasis di Inggris, yang bertujuan untuk membantu mengurangi jejak karbon industri elektronik. Itu terbuat dari serat alami dan komponen biodegradable lainnya yang memisahkan lapisan material komposit setelah direndam dalam air panas.
Ini memungkinkan serat alami menjadi kompos. Solusi dan komponen elektronik yang tersisa akan dibuang untuk diproses ulang untuk dibuang menggunakan sistem pembuangan limbah rumah tangga standar.
“Mengadopsi proses daur ulang berbasis air dapat menghasilkan hasil yang lebih tinggi dalam pemulihan logam berharga. Selain itu, mengganti bahan PCB FR-4 dengan Soluboard akan menghasilkan pengurangan emisi karbon sebesar 60 persen, khususnya, 10,5 kg karbon dan 620 g plastik dapat dihemat per meter persegi PCB," terang Jonathan Swanston, CEO dan salah satu pendiri Jiva Materials.
Dengan melarutkan papan sirkuit berbahan Soluboard, 90 persen komponennya dapat direklamasi dan diproduksi ulang atau didaur ulang. Jejak karbon satu meter persegi PCB Soluboard diperkirakan 7,1 kg, dan jejak karbon satu meter persegi PCB FR-4 standar diperkirakan 17,7 kg.
Ini setara dengan total pengurangan jejak karbon sebesar 60 persen. Ada juga penghematan plastik yang signifikan sebesar 620g per meter persegi Soluboard dibandingkan dengan FR-4.
Jika Soluboard diadopsi secara luas, logam daur ulang dapat melihat jejak karbon 95 persen lebih kecil dari pada bahan mentah yang baru diproses, yang memiliki jejak karbon jauh lebih rendah daripada serat berbasis kaca konvensional yang digunakan dalam FR-4.
Menggunakan teknologi Soluboard, Infineon telah memproduksi tiga demo board yang berbeda dan berencana untuk memperluas penawarannya dalam beberapa tahun ke depan.
“Untuk pertama kalinya, bahan PCB yang dapat didaur ulang dan dapat terurai secara hayati digunakan dalam desain elektronik untuk aplikasi konsumen dan industri, sebuah tonggak sejarah menuju masa depan yang lebih hijau,” kata Andreas Kopp, Head of Product Management Discrete di Infineon's Green Industrial Power Division.
“Kami juga secara aktif meneliti kemampuan perangkat daya diskrit yang dapat digunakan kembali di akhir masa pakainya, yang akan menjadi langkah signifikan tambahan untuk mempromosikan ekonomi sirkular di industri elektronik," terang Andreas.