
Ilustrasi: Cyber attack.
JawaPos.com - Perusahaan keamanan siber Kaspersky menyebut bahwa tingkat kesadaran atau awareness masyarakat Indonesia untuk proteksi serangan siber semakin tumbuh. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 62 menurut Data Global Cybersecurity Index yang dirilis oleh International Telecommunication Union (ITU) beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Indonesia berada di peringkat 70 dari 195 negara dengan tingkat kerentanan siber.
Territory Channel Manager SEA Kaspersky Lab Indonesia Dony Koesmandarin mengungkapkan, meski masih berada di peringkat segitu, kesadaran tentang risiko keamanan siber Indonesia terbilang meningkat. "Itu baik, walaupun masih ada di peringkat puluhan. Dengan posisi yang berubah ke angka segitu, ini menunjukan bahwa orang-orang di Indonesia sudah sadar akan pentingnya memproteksi diri dari serangan siber," terangnya saat jumpa pers Kasperksy di Jakarta, Kamis (7/2).
Lebih jauh, Dony menyebut bahwa Yaman menjadi negara yang menduduki peringkat nomor satu dengan persentase serangan siber sebanyak 72,6 persen. Berada di posisi selanjutnya ada Afghanistan dengan persentase sebesar 71,7 persen, dan Indonesia mencapai 53,7 persen. "Memang kelihatannya masih jauh dari kata aman. Tahun lalu posisi Indonesia masuk ke dalam 10 besar dengan predikat negara paling tidak aman menghadapi serangan siber. Tapi ini berubah. Artinya, masyarakat dinilai sudah sadar atau aware terhadap ancaman siber," jelasnya.
Menurut Dony, bentuk kesadaran risiko keamanan siber ada banyak. Selain mengamankan perangkat dari virus berbahaya, masyarakat juga turut menjaga data-data pribadinya. Apalagi era digital seperti ini banyak dari peretas atau hacker yang mengincar data untuk 'dipanen'. Salah satu wujud kesadaran risiko keamanan siber yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ini ditunjukan dengan kebiasaan mem-backup atau mencadangkan data pribadinya.
Sayangnya, di tengah pertumbuhan masyarakat Indonesia tentang risiko keamanan siber yang terus tumbuh, tak sedikit pula yang masih cuek dengan keamanan data. Dony berpendapat bahwa masyarakat yang belum percaya kalau datanya bisa dicolong itu terjadi karena pengetahuan mereka masih minim. "Tapi lama-kelamaan saya yakin mereka akan teredukasi," beber Dony.
Selain menjelaskan soal kesadaran keamanan siber di Indonesia yang meningkat, Dony juga menyebut bahwa berdasarkan catatan Kaspersky, orang Indonesia terbilang cukup rajin mengirimkan virus ke komputer. Pasalnya, Indonesia berada di urutan ke-34 dalam daftar negara pengirim malware di dunia.
Adapun negara teratas yang paling banyak mengirimkan virus komputer di seluruh dunia ditempati Amerika Serikat dengan persentase 45,12 persen. Posisi kedua ada Belanda dengan 21,48 persen. Sedangkan urutan 3-5 ditempati hacker dari Jerman 6,45 persen, Prancis 5,39 persen, dan Rusia 2,09 persen. Adapun untuk metode penyebaran virus malware, Dony mengungkap bahwa berbagai jenis hardware, seperti USB, CD, dan DVD, masih menjadi cara paling efektif bagi malware untuk menyusup ke perangkat.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
