Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 November 2015 | 03.06 WIB

Hebat, Lampu Pembasmi Wereng Karya Anak Bangsa Juara di Korea Selatan

TENAGA  SURYA:  Lampu  pembasmi  hama  karya Tim  Elternator  PENS  yang  menjadi  juara  pertama  pada  Engineering  Education  Fiesta di Busan, Korsel. - Image

TENAGA SURYA: Lampu pembasmi hama karya Tim Elternator PENS yang menjadi juara pertama pada Engineering Education Fiesta di Busan, Korsel.

JawaPos.com SURABAYA – Kerja keras tim Politeknik Eletronika Negeri Surabaya (PENS) untuk unjuk kebolehan pada  ajang Engineering Education Fiesta (EEF) di Busan, Korea Selatan (Korsel), membuahkan hasil.



Tim yang terdiri atas perwakilan mahasiswa mulai tingkat pertama sampai tujuh itu berhasil menyabet juara pertama dan kedua.



”Tim Elternator (Electric Leafhopper Exterminator, Red) berhasil menjadi juara pertama. Kami mendapatkan penghargaan gold medal,”  ujar Ketua Tim Elternator, Ahmad Najih Fiddaraini, saat ditemui di sela Open Produk Mahasiswa pemenang lomba dan kompetisi di lantai 1 gedung pascasarjana terapan, Jalan Raya ITS, Keputih, Sukolilo, Kamis (26/11).



Dia  menjelaskan,  saat  itu  dirinya bersama tim yang beranggota delapan mahasiswa merancang karya yang berupa lampu pembasmi hama tanaman untuk produk pertanian.



Lampu yang energi pencahayaannya  berasal dari matahari tersebut sudah dimodifikasi dengan memberikan pengaman yang berupa alat kejut yang bisa membunuh serangga atau hama.



”Tujuan alat ini adalah membantu petani membasmi hama. Sebab, selama ini petani selalu mengandalkan pestisida,” terang mahasiswa semester lima jurusan teknik elektronika itu.



Lampu pembasmi hama yang energinya berasal dari tenaga surya tersebut diklaim lebih hemat dari segi  biaya maupun tenaga. Sebab, dengan membasmi hama memakai lampu, petani tidak perlu berkeliling sawah untuk melakukan penyemprotan.



”Dengan alat ini, hama seperti wereng akan mendekati lampu. Sebab, beberapa jenis hama memang senang sinar lampu,” terangnya.



Miftahul Anwar, anggota lainnya, menjelaskan bahwa untuk membuat lampu pembasmi hama, dibutuhkan biaya sekitar Rp 1,5 juta.



Kendati nominalnya besar di awal, petani tetap lebih untung daripada harus membeli pestisida.



”Dengan cara ini, cara-cara konvensional dalam membasmi hama tanaman bisa diubah. Ide ini muncul dari banyaknya keluhan petani yang selama ini kesulitan membasmi hama karena selalu membutuhkan biaya banyak,” terang Miftahul yang juga pencetus ide pembuatan lampu pembasmi hama tenaga surya.



Pada EEF 2015, karya Elternator berhasil menyisihkan 19 tim lain yang merupakan perwakilan dari  berbagai negara, seperti RRT, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan Portugal.  



Karya mereka juga dinilai ramah lingkungan karena bisa mengurangi penggunaan pestisida. Selain lampu pembasmi hama, karya tim PENS berhasil meraih juara kedua pada EEF 2015 dengan robot coconut climber.



Tim yang digawangi Teguh Satria Wibowo itu berhasil mencuri perhatian dewan juri dengan karya robot  pemetik  kelapa.  



”Kami sudah praktikkan di perkebunan di Blitar. Robot ini ternyata lebih cepat memetik kelapa daripada manusia,” kata Teguh Satrio Wibowo. (rud/jay/awa/jpg)

Editor: Arwan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore