Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Mei 2020 | 05.29 WIB

Start-up Hewan-Hewan

Sujiwo Tejo - Image

Sujiwo Tejo

BURUNG-burung berkicau mengabarkan pagi. Seisi hutan bangun dari tidurnya, kecuali yang profesinya memang begadang. Mereka, misalnya, burung hantu, kelelawar, galago, dan ngengat. Ketika cucak rowo dan murai batu serta kenari merayakan fajar dengan nyanyian ”bangun tidur kuterus mandi”-nya, hewan-hewan dari partai nokturnal tadi malah bersiap-siap bobok.

Badak bukan dari partai itu. Ia malah sudah sowan ke istana Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro. Sayangnya, yang ia dapati hanyalah ruang-ruang tak berpenghuni. Lantai atas, yaitu dahan-dahan dan pokok pohon, pun hampa.

Pandangannya turun lagi ke balairung rerumputan yang sepi. Binatang bercula itu termangu sejenak dalam keheningan, bertanya-tanya, ”Gerangan apakah kiranya yang sedang terjadi?”

Yang terjadi adalah Raja Singa Sastro dikerumuni hewan-hewan lambang zodiak. Itu jauh di selatan istana, di bantaran sungai musiman dengan pohon-pohon besar yang bisa dibentuk menjadi lambung perahu kano.

”Paduka, sumbu bumi sekarang sudah bergeser. Zodiak berubah,” lapor si Taurus banteng. ”Mereka yang dulu bintangnya Taurus sekarang Aries, lambangnya kambing. Wah, tak rela hamba disamakan dengan kambing. Banteng kan mewakili wong cilik. Kambing mewakili apa? Kolesterol?”

Kambing sedikit tersinggung. Ia hanya sungkan menanggapi sesuatu yang ngakunya saja mewakili wong cilik padahal sosoknya besar dan bikin merinding. Matanya lantas memicing ke sungai dan meremehkan ikan.

”Paduka,” katanya. ”Mereka yang dulu bintangnya bersimbol hamba, Aries, sekarang jadi Pisces. Kambing selevel dengan ikan? Mboten! No way!”

Keberatan senada juga dikeluhkan oleh si Cancer kepiting dan si Scorpio kalajengking. Kambing laut sebagai simbol Capricorn mengirim keluhannya lewat sinyal yang ditiup angin. Mereka harus taat imbauan #diRumahAja, sedangkan rumah mereka laut.

Sementara para hadirin masing-masing sedang bergelut dengan perasaan yang saling berbenturan, merasa sesama makhluk tapi tak ingin pula disama-samakan, raja singa pun berpikir-pikir. Tampak dari ujung ekornya yang bergerak-gerak seperti wiper mobil saat hujan deras.

Bagi raja singa, agar satu sama lain tak merasa direndahkan, harus ada start-up milenial yang memberi kursus ikan-ikan sehingga mereka mengetahui karakter kambing. Tak apa badannya tetap berenang seperti ikan-ikan tradisional, tapi nanti perilaku mereka sudah jadi ikan modern seperti kambing.

Begitu juga, harus ada juga start-up milenial yang memberi pelatihan kepada kambing-kambing untuk mengenal watak banteng. Kambing tetap makan rumput, tetap jadi bahan umpatan manusia ”ancene wedhus!!!”, tapi hatinya sudah ancene wong cilik... Eh, wong besar apa wong cilik ya banteng itu... Huehuehue...

Keputusan raja singa itu belum dimaklumatkan ke hadirin. Beliau sudah undur diri. Dengan sudah bisa berkeluh kesah saja hadirin sudah puas. Mereka pun membubarkan diri.

Ilustrasi - Budiono/Jawa Pos

Sujiwo Tejo

Pulang melewati sepanjang bantaran sungai, raja singa gamang. Mungkinkah start-up milenial membuat ikan jadi kambing, kambing jadi sapi. Tapi, sudut hatinya yang lain berkata, bila start-up itu mengajari ikan berenang, kambing makan rumput, seperti mengajar hewan nokturnal begadang, apa bedanya dengan start-up yang mengajari orang Palembang bikin pempek?

”Dari tadi malam kami sudah sampai di istana ini,” ungkap Ratu Singa Jendro kepada badak. ”Engkau saja yang menyaksikannya kosong. Kesepian memang kosong. Bagaimana kami tidak sepi, rakyat berkeluh kesah rupa-rupa. Mereka lupa bahwa pemimpin seperti kami pun sejatinya punya keluh kesah. Memangnya kami tak sakit hati posisi Leo, kami, diganti jadi Cancer, kepiting!!!?”

Muka badak menoleh ke isak ratu singa. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=AcM6tkhdp5I

 

https://www.youtube.com/watch?v=v62gOEyiP30

 

https://www.youtube.com/watch?v=wO4kZoxcUT8

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore