
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Sudah lima kalian Sastro menyambangi Bronto Pambudi. Alamatnya di halaman belakang rumah paman Sastro. Tidak pernah ia sukses menjumpainya. Kesal juga dibikin mondar-mandir begini. Kesal. Geregetan. Jemu juga. Campur sedikit gondok, tentu.
---
UNTUNG kemudian Sastro mendengar selentingan orang-orang di dusun pamannya bahwa sapinya, si Bronto Pambudi itu, tidak sampai melanglang ke luar pulau. Ia hanya pergi ke lain kecamatan. Tetapi masih di pulau ini. Hamparan penuh nyiur dan sawah-ladang serta sedikit sabana ini.
Ada yang bilang, Bronto ikut karapan sapi. Wah, senang ia mendengarnya. Sudah sejak Bronto kecil, Sastro bisa menangkap getar kemauan sapinya yang keras untuk menjadi sapi pacuan. Meraih medali emas seperti Greysia dan Apriyani. Menjadi sapi untuk membajak sawah-ladang tak dianggapnya.
Bronto kecil adalah sapi abu-abu kecokelatan yang suka berlari-larian seperti dalam karapan sapi. Kalau ada anak-anak kecil mengikatkan bunga atau riasan lain di kepalanya, wajah Bronto lebih meriah dari soda gembira. Mungkin karena sapi-sapi untuk karapan memang juga penuh hiasan seperti dirinya.
Lihatlah. Dengan bunga matahari di kepalanya sampai tanduknya, Bronto berlarian di sabana. Apalagi dilengkapi pula dengan warna-warni dari bunga melati, bunga kana, kamboja, dan lain-lain hingga kembang sepatu. Padu dengan kulitnya yang makin mencokelat sejak semakin dewasa. Kadang larinya zig-zag. Kadang membentuk rute angka delapan mengitari dua pohon nyiur hijau. Tanah bertaburan ke udara oleh derap kaki-kakinya yang kadang pakai ngepot pula.
O, jadi Bronto sekarang sedang menjalankan apa yang dulu itu menjadi cita-citanya?
***
Alangkah kaget Sastro saat mendengar kabar dari Jendro, istrinya. Yang menjadi tukang tongko’ atau sais karapannya adalah Supono Wedang Jancuk. Sastro tak kenal langsung pemuda jangkung itu secara pribadi. Desas-desus orang-orang tentang dia kurang begitu ia pedulikan. Hanya, dari pandangan pertamanya melihat sikap dan sorot matanya di kedai, sudah cukup menimbulkan pikiran yang bukan-bukan di benak Sastro. Andai Sastro punya kuasa penuh atas sapinya sendiri, sudah tentu ia melarang sapinya disaisi si Jancuk.
Disaisi oleh Dalton Wedang Non-Jancuk akan lebih baik. Non-Jancuk ini sudah kaya, pemimpin partai pula. Kalah dari karapan sapi juga masih bisa makan. Tidak mungkin Non-Jancuk ini ngoyo sehingga mengeksploitasi sapi. Misal menusuk-nusuk pantat sapinya dengan paku, lalu mengolesinya balsam sehingga sapi kepanasan, sehingga mau tak mau larinya ingin melampaui cheetah, hewan darat tercepat di dunia.
***
Jangan mudah percaya hoaks. Harus dibuktikan dulu bahwa Bronto betul-betul mengikuti karapan sapi. Pergilah Sastro ke kecamatan itu. Kecamatan ini terkenal dengan turnamen karapan sapinya. Dimintanya uang ke Jendro untuk dibelikan keker panjang yang berjangkauan jauh. Mustahil ia langsung membawa badannya menemui Bronto. Bisa malu nanti Bronto penuh cita-cita itu. Dari intel yang disebar Jendro, Sastro jadi tahu. Tak begitu jauh dari ajang karapan di sana ada bukit. Dari celah dua batu andesit di bukit itulah, dekat rumpun kaktus, Sastro ngeker ke bawah.
Betul! Sapi berkulit cokelat bukan cokelat polisi ada di sana. Bunga-bunga riasan ada komplet di kepala hingga tanduknya. Bronto!
Keker panjang Sastro melenceng ke kiri. Seekor anjing herder yang berlari dikejar kambing congek tak sengaja menendang kekernya hingga melenceng. Sastro tak mengumpat. Mengeluh pun tidak. Sudah lama ia diajar Jendro untuk mensyukuri apa pun yang terjadi. Syukurlah, saat keker itu melenceng jauh dari pandangan Bronto, Sastro melihat kerumunan perempuan cantik. Ada yang bertopi dengan punggung baju terbuka. Ada yang tak bertopi, tak berpunggung terbuka, namun leher bajunya rendah sekali hingga tiga perempat belah payudaranya.
Samar-samar Sastro melihat ibu-ibu yang pernah akan menyumbang triliunan rupiah buat entas dari pandemi walau duitnya tak jadi cair. Samar-samar Sastro juga melihat ibu-ibu yang suaminya, pejabat, kerap membikin prank buat rakyat, tapi tersinggung ketika dibalas prank oleh rakyatnya sendiri.
Mendung berarak. Rumput kaktus tak kuasa lagi menahan angin dari selatan. Embusannya menyerongkan keker panjang Sastro ke utara. Di bawah nyiur, tampak lelaki kekar sedang diarahkan oleh laki-laki lain yang kurus. Tangan pengarah bergerak-gerak seperti penari cakil. Oh, yang diarahkan ternyata adalah lelaki yang pernah dilihat Sastro di kedai: tukang tongko’ si Jancuk.
Pengarah ini kemudian meninggalkan si Jancuk dengan gerakan badan yang mengempas kesal. Seolah si Jancuk tak kunjung paham maksud arahannya mengenai lomba karapan sapi itu. Agar Bronto mengalah? Ia gontai menuju seorang lelaki di balik batu. Dari ajang karapan, celah di balik batu besar ini tak tampak. Tapi, sudah tentu, dari ketinggian tempatku ngeker tampak jelas.
Baca juga: Kucing Idaman
Ia sedang bicara dengan seseorang. Seperti melaporkan hasil pengarahannya yang gagal terhadap si Jancuk. Lelaki di balik batu ini menamparnya. Lelaki di balik batu itu ternyata adalah si Non-Jancuk yang selama ini dikenal budiman. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
