
Kepala Bidang Bimbingan Kerja Rutan Perempuan Surabaya Comi Hendariswati menunjukkan etalase berisi karya napi. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–EV, 21, tampak jeli saat merajut peci. EV merupakan salah satu narapidana atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Rutan Perempuan Surabaya.
Merajut peci bukan hanya hobi. Namun menjadi salah satu kegiatan yang diajarkan di Rumah Bimbingan Kerja Rutan Perempuan Surabaya.
”Aku bisa bikin peci, tas, sampai guci,” kata EV saat ditemui, Jumat (30/9).
EV merupakan tahanan dengan kasus narkoba. Dia dihukum atas kepemilikan narkotika. Sudah setahun EV yang berprofesi sebagai penyanyi itu berada di Rutan Perempuan Surabaya.
Saat tim JawaPos.com berkunjung ke Rumah Bimbingan Kerja, satu etalase kaca berukuran cukup besar menyambut kami. Etalase itu memajang pernik-pernik karya napi.
Macrame atau kerajinan tangan berupa merajut itu dilakukan EV dan beberapa napi lain. Peci dengan motif garis-garis ala Timur Tengah itu dirajut dengan warna merah marun yang cantik.
Ada juga tas selempang putih. Kemudian tempat tisu berwarna oranye dengan aksen bunga matahari. Saat tim JawaPos.com mencoba merajut macrame bersama EV, aroma lezat samar-samar muncul dari belakang ruangan.
Tim JawaPos.com pun mencoba datang ke bagian belakang. Di sana, sekelompok napi perempuan sedang menyiapkan makanan. Kelompok pertama membuat racikan kuah untuk lontong mi. Sedangkan kelompok satunya membuat packaging.
”Cobain. Ini barusan dibuat. Nanti teman-teman (napi) yang beli buat makan siang,” kata salah satu napi berinisial MC, 45.
Bagaimana dengan peredaran uangnya? MC menjawab bahwa napi membeli dengan sistem tap cash. ”Nggak ada peredaran uang. Semua langsung masuk,” ujar MC.
Kepala Bidang Bimbingan Kerja Rutan Perempuan Surabaya Comi Hendariswati menjelaskan, napi di Rumah Bimker disiapkan untuk kembali ke masyarakat. Mereka dibekali dengan berbagai skill. Salah satunya, memasak.
”Dengan bekerja di Bimker, mereka juga bisa menabung. Hasil dari pembelian yang dilakukan petugas dan napi akan masuk ke tabunggan,” ujar Comi Hendariswati.
Bila pesanan makanan dan macrame cukup banyak dalam sebulan mereka bisa mengantongi Rp 500 ribu. Uang itu bisa disimpan atau diambil.
”Bisa disimpan buat tabungan nanti kalau bebas. Biasanya anak-anak bilang simpan saja dulu,” papar Comi Hendariswati.
Bila ingin diambil, Comi akan memasukkan uang itu ke akun napi yang bersangkutan. Uang itu bisa digunakan untuk membeli makanan atau barang-barang di kantin.
”Intinya, kami ingin memberikan kegiatan untuk mereka. Sekaligus menjadi bekal kemampuan bila nanti kembali ke masyarakat,” tutur Comi Hendariswati.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
